Pentingnya Pencegahan Penyakit untuk Masa Depan bersama In Harmony Clinic

in harmony clinic
kiri ke kanan: moderator Desy Yusnita, founder dan CEO In Harmony Clinic dr. Kristoforus Hendra Djaya, SpPD, dan founder Rumah Ramah Rubella Grace Melia

 Apa yang terjadi di kemudian hari bergantung pada apa yang kita lakukan hari ini.           -Mahatma Gandhi-.

Ketika usianya menginjak 23 tahun, Grace Melia mendapat anugerah terindah yang diidamkan setiap wanita. Ia hamil. Namun memasuki bulan ketiga Grace merasakan lemas tak terkira, sulit bangun, dan ingin tidur terus. Hingga ia mengalami demam 39 derajat Celcius selama dua hari. Grace menduga kondisi tersebut hanya kelelahan biasa. Esok harinya muncul  bintik merah yang tidak  timbul di bawah kulit. Tidak terasa ketika diraba. “Waktu itu saya pikir ini tidak biasa,” tutur Grace, lulusan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Grace tidak tinggal diam. Ia berkonsultasi ke dokter obgyn. Jawaban yang didapat, ‘Ini tidak apa-apa, hanya gatal-gatal, minum  air kelapa muda saja’. Memperoleh jawaban seperti itu membuat tenang hati Grace. Ia percaya kehamilannya sehat-sehat saja. Kini ia sadar bahwa saat itu dirinya tidak mengerti apapun. “Sama sekali tidak ada bayangan akan lahir anak yang tidak normal. Malahan saya membayangkan akan kembaran baju dengan anak saya,” ujar Grace, penerima Special Award Perempuan Pembawa Perubahan Kartini Next Generation 2014-Kementerian Komunikasi  dan Informatika.

Waktu terus berjalan. Pada 19 Mei 2012 Aubrey Naiym Kayacinta hadir di dunia. Ubii, begitu ia disapa lahir dengan  kebocoran jantung dan tuna rungu berat. Di bulan kelima usianya, Grace mencurigai Ubii terlihat berbeda dengan bayi-bayi seusianya. Tidak bereaksi terhadap suara, rewel terus-menerus, tidak aktif dibandingkan bayi-bayi sebayanya, dan pose tidur Ubii tampak aneh. Tangan dan kaki Ubii sulit diluruskan. Grace menduga terjadi kram. Namun lagi-lagi  keluarga besarnya berpikir positif. ‘Oh, dia bercita-cita menjadi penari Bali’. ‘Apa yang salah dengan anak saya,’ pikir Grace. Namun mertuanya berpandangan berbeda. Menurut mereka Ubii adalah  anak yang lincah. Ketika ingin menyusui Ubii, Grace harus mengangkat kepalanya dan mengarahkan. “Saya berpikir orangtua  baru perlu belajar postur anak pada umumnya seperti apa,” kata Grace.

Menginjak usia lima bulan, Grace memeriksakan Ubii. Hasilnya  otak Ubii mengalami pengapuran dan pengerutan sehingga  tidak bertumbuh sebagaimana mestinya. Pengapuran tersebut terjadi  di area yang mengatur motorik dan kognisi. Dominan terlihat adalah Ubii tidak merespon suara. Setelah mendatangi banyak dokter, Grace menerima kenyataan bahwa Ubii terinfeksi rubella. Grace dan suami hanya menangis dan menyendiri di kamar. Ia  seketika malas mengurus Ubii. “Untuk apa saya membacakan dongeng ke Ubii, ia  tidak mendengar. Saya langsung menutup diri dari dunia,” kata Grace, penulis buku Letters to Aubrey (Kumpulan Surat Seorang Ibu untuk Putrinya yang Berkebutuhan Khusus Akibat Terinfeksi Virus Rubella).

grace melia edit2
Grace Melia mengingatkan, early detection, early prevention

Hal yang ditakutkan Grace adalah masyarakat Indonesia yang belum  ramah dengan anak berkebutuhan khusus. Namun ia menyerahkan semuanya kepada Tuhan.  ‘Ubii butuh saya’. Pemikiran itu membuat Grace  bangkit. Ia harus kuat untuk Ubii. Ketika masih berstatus mahasiswa, Grace merasa dirinya melek internet. Ia menyalahkan dirinya yang tidak tahu mengenai Rubella. ‘Saya harus  do something’, tekad Grace. Supaya ibu-ibu lain yang tidak kuliah  atau melek internet tidak mengalami hal yang sama dengannya. “Early detection, early prevention,” tutur Grace, penerima penghargaan 45 Perempuan Penembus Batas-Tempo.

Saat hamil anak kedua, Aiden, Grace tidak khawatir karena rubella bersifat protektif. Artinya jika anak pertama lahir dengan rubella maka anak kedua, ketiga, dan seterusnya tidak akan mengalami. Namun Grace tetap melakukan screening toksoplasma dan herpes setiap trimester  kehamilan. Ia  minta surat rujukan dari dokter. Sayangnya dokter mengatakan screening tidak  perlu dilakukan. Lebih baik uangnya disimpan untuk biaya melahirkan.

Grace menilai terkadang dokter itu kurang kooperatif. Akibatnya ia harus sedikit memaksa atau mendatangi lab atas inisiatif sendiri untuk melakukan screening.  Pencegahan lainnya yang dilakukan Grace adalah membatasi aktivitas agar tidak terlalu capek. Saat hamil Ubii, Grace masih aktif bekerja. Selain itu ia rutin mengonsumsi vitamin dan menjaga pola makan. “Saya juga googling, tanda-tanda lain apa yang perlu saya waspadai,” tutur Grace, penerima Top 20 Indonesia Rocking Mama-The Rocking Mama.

grace melia edit
Grace Melia bersama suami dan buah hati tercinta. Sumber foto: http://www.gracemelia.com

Pada  2 Oktober 2013 Grace mendirikan Rumah Ramah Rubella. Awalnya komunitas tersebut merupakan wadah sharing dan meningkatkan kesadaran tentang Toxoplasmosis, other infections, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes Simplex (TORCH). Ia merasa perlu berbagi kepada teman-temannya yang memiliki anak seperti Ubii. Mulanya media yang digunakan hanya Facebook group. Namun kini  berkembang menjadi tempat  saling menguatkan. Rumah Ramah Rubella berkembang sedikit demi sedikit untuk memunculkan kesadaran masyarakat Indonesia tentang bahaya TORCH. “Kita melihat banyak sekali ibu yang mengalami seperti saya. Saat hamil tidak mengerti apapun, buta, awam. Kami ingin mencegah semakin tingginya jumlah ibu hamil yang terinfeksi TORCH,” ujar Grace yang aktif menulis tentang parenting dan berbagi edukasi tentang TORCH di www.gracemelia.com.

Selama ini Rumah Ramah Rubela telah melakukan  something real untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang TORCH. Arahnya adalah  edukasi, memberitahu mengenai  TORCH, serta bahayanya pada ibu hamil  terutama di trimester pertama kehamilan. Kegiatan Rumah Ramah Rubella adalah  seminar dan workshop, seperti seminar  pengenalan TORCH, rehabilitasi anak-anak yang terkena  TORCH, dan pencegahan TORCH. Seminar dan workshop diadakan dengan mengajak rumah sakit atau klinik terapi. Lokasinya di  rumah sakit dengan menghadirkan narasumber. Rumah Ramah Rubella bertindak sebagai organizer. Konsepnya adalah sharing.

Selain itu Rumah Ramah Rubella  mengadakan kumpul-kumpul yang formatnya lebih kecil di rumah salah satu anggota. Masing-masing anggota membawa snack, sistemnya potluck. Biasanya mereka  saling sharing progress masing-masing anak,  sejauh mana  terapinya. Selain itu dihadirkan  terapis atau narasumber yang kompeten di bidangnya. Tujuannya adalah berbagi tentang materi atau ilmu yang dibutuhkan. “Kami pernah mengundang terapis dari Jakarta Eye Center. Jadi mereka benar-benar sharing apa yang dibutuhkan anak-anak kami,” ujar Grace, penerima Mother of the Year-HIT.

Manfaat lain yang tak bisa disepelekan adalah saling memberi penguatan. Karena tidak semua keluarga yang mengalami masalah seperti Ubi didukung. Ada suami yang malu dan menceraikan istri. Ada suami yang bisa menerima tapi mertua tidak mengijinkan cucunya keluar rumah. Pasalnya ia menganggap cucunya  berbeda dengan  yang lain. Penguatan yang diberikan  di dalam komunitas bertujuan anggota tidak merasa sendiri. Itulah salah satu faktor penyemangat mereka dalam menghadapi rentetan masalah kehidupan.

Rumah Ramah Rubella juga mengadakan fundraising. Mereka membuat merchandise untuk dijual. Sebab  workshop atau seminar yang diadakan dibiayai sendiri. Rumah Ramah Rubella juga membuat konten edukasi tentang TORCH yang disebarkan di lingkungan sekitar, seperti arisan ibu-ibu, puskesmas, kantor PKK, TK, sampai preschool. Selain itu Rumah Ramah Rubella menggalang kerja sama dengan berbagai pihak, antara lain berpartner dengan Kasoem Hearing Center. Anggota Rumah Ramah Rubella bisa membeli hearing aid  di sana. “Kami juga pernah bekerja sama dengan Siloam Hospital. Anggota Rumah Ramah Rubella bisa screening TORCH di Siloam Hospital dengan harga paket,” kata Grace, penerima Top 10 Women of Worth 2014-Loreal Paris Indonesia&Female Daily.

 

Cegah dengan Vaksinasi

Materi ‘kenali dan cegah infeksi virus rubella sejak dini’ tersebut dibawakan Grace pada Blogger Meet Up dengan tema ‘The Value of Prevention in Healthcare’ pada 3 Juni 2016 di Hongkong Cafe. Selain Grace, pembicara pada talkshow tersebut adalah founder dan CEO In Harmony Clinic dr. Kristoforus Hendra Djaya, SpPD. Talkshow tersebut terselenggara berkat  kerja sama In Harmony  Clinic dan Blogger Perempuan. Dr. Kristo membawakan materi ‘nilai dari sebuah pencegahan’.

Kristoforus Hendra Djaya
Dr. Kristoforus Hendra Djaya, SpPD mengajak semua orang untuk fokus pada pencegahan penyakit dengan vaksinasi

Jutaan orang meninggal akibat penyakit yang bisa dicegah setiap tahunnya. Seorang artis harus menjalani pengobatan akibat kanker serviks. Seorang ibu harus meninggal hanya karena tertular influenza. Mereka hidup sehat. Mereka mampu berobat. Namun satu hal yang pasti, penyakit datang bagaikan penjahat. Tak ada satupun yang tahu kapan penyakit datang dan menyerang. Mereka semua tidak harus mengalaminya jika tahu cara mencegahnya. Mereka semua tidak harus menderita kalau saja mereka melakukan pencegahan. Tahukah Anda suatu cara yang dapat mencegah datangnya penyakit hingga 90% atau bahkan lebih? Cara tersebut adalah vaksinasi.

in harmony immunity clinic
Tidak hanya bayi dan anak-anak, orang dewasa juga harus mendapatkan vaksinasi. Sumber foto: http://www.inharmonyclinic.com/

Orang dewasa harus divaksinasi, bukan hanya bayi, bukan hanya anak-anak. Pada kongres dokter tahun 2011 didapati kurang dari 20% dokter di Indonesia yang memahami vaksinasi bagi orang dewasa. Bahkan kurang dari 10% yang pernah mendapat vaksinasi setelah dewasa. Keprihatinan inilah yang menginisiasi lahirnya In Harmony  Clinic yang beroperasi pada Agustus 2011. “Lima tahun lalu sulit menjelaskan tentang vaksinasi, berbeda dengan saat ini. Kami sering mendapat telepon apakah bisa  anak  mendapat vaksinasi walaupun sudah telat. Atau vaksinasi untuk orang dewasa yang mau Umroh. Sekarang kelihatannya  belum afdal kalau  belum mendapat vaksinasi,” ujar dr. Christo.

In Harmony Clinic menawarkan jenis vaksinasi yang paling lengkap dan layanan vaksinasi yang komprehensif dari walk-in patient, home service, in house community, hingga corporate vaccination. Klien In Harmony Clinic adalah  perusahan dan kalangan terkemuka seperti Bina Nusantara, PT Antam, PT Bayer, sampai Raffles International School. Misi In Harmony Clinic adalah cegah semua penyakit yang bisa dicegah dengan vaksinasi. In Harmony Clinic berkomitmen membantu pasien  dalam mencegah berbagai penyakit infeksi terutama melalui perilaku hidup bersih dan sehat dan vaksinasi. In Harmony Clinic melayani sepenuh hati.

Tiga alasan Anda harus mendapat vaksinasi sekarang, yaitu lebih baik mencegah daripada mengobati, lebih hemat mencegah daripada mengobati, dan Anda tidak pernah tahu kapan penyakit datang menyerang. Hidup sehat bersama In Harmony Clinic melalui perlindungan yang tepat. “Kami melakukan edukasi mengenai pentingnya pencegahan penyakit melalui vaksinasi,” tutur dr. Kristo yang menyelesaikan pendidikan spesialis penyakit dalam di Universitas Indonesia pada 2014.

Menanggapi pengalaman hidup Grace, dr. Kristo menjelaskan keluhan saat kehamilan tidak boleh disepelekan. Selain tuli dan gangguan pembentukan pembuluh darah jantung dan paru, komplikasi lain dari rubella adalah katarak, retinitis, butaan, glaukoma, gangguan syaraf, otak kecil, hingga keterlambatan mental (motorik). Di Indonesia  rubella dikenal sebagai  campak Jerman. Rubella dan campak Jerman itu   berbeda tapi gejalanya mirip. Pada campak Jerman, tanda yang terlihat bintik merah yang membesar dan meluas. Sementara tanda pada  rubella adalah bintik-bintik kecil. Orang dewasa akan mengalami demam tinggi selama hampir empat hari. Tanda yang khas pada rubella adalah  benjolan di belakang telinga (pembengkakan kalenjar getah bening). “Selain itu  bintik-bintik  di langit-langit mulut,” kata dr. Kristo, internist di RSIA Bun.

Orang beranggapan demam dan gatal-gatal yang dialami adalah kondisi biasa. Rubella  sangat mudah ditularkan melalui udara. Waktu kita bicara ada percikan liur yang keluar. Jaraknya bisa mencapai  1,8 meter. Apalagi kalau kita bersin. Akan ada 3 miliar kuman atau virus yang terbang. Bahanya adalah saat, percikan  liur berhamburan ke segala arah. Kalau daya tahan tubuh bagus, tidak menjadi soal. Meriang biasa dan esoknya  hilang. Akan menjadi berbeda saat  daya tahan tubuh kurang bagus. “Kondisi tiap orang beda-beda. Bahayanya jika yang terkena cipratan itu adalah ibu hamil,” tutur dr. Kristo, internist di Klinik Amanah Medika Pura.

Biasanya penderita tidak tahu asal virus. Karena butuh waktu satu sampai dua  minggu bahkan lebih dari virus itu  masuk sampai jadi (masa inkubasi). Pada kehamilan trimester pertama terjadi  pembentukan organ tubuh. Jantung dibentuk saat janin berusia dua bulan. Ketika terbentuk organ tubuh dan ada virus yang masuk maka terjadilah rubella congenital. Rubella congenital adalah cacat janin yang dibawa sampai saat dilahirkan.

Di dunia angka penderita rubella masih cukup tinggi. Apalagi di Indonesia karena kurangnya  kontrol. Di Amerika penyakit campak dan rubella sudah dicegah oleh pemerintah. Dr. Kristo tidak bisa berbicara banyak tentang kasus rubella di Indonesia  sebab belum ada data. Di Amerika tahun 1965-1969  terjadi wabah. Dalam empat tahun tersebut ada 12,5 juta penderita rubella, 20 ribu diantaranya mengalami rubella congenital. Karena pemerintah Amerika mengadopsi kebijakan pencegahan, semua anak-anak yang menderita rubella  wajib mendapat vaksinasi. Maka dalam tiga dekade tepatnya tahun 1990-an itu angka penderita  rubella menurun drastis. Memasuki tahun 2000  hanya sembilan kasus per tahun. “Bayangkan dari 20 ribu kasus per tahun menjadi sembilan kasus per tahun,” tutur dr. Kristo.

Seorang ibu yang terkena rubella terutama saat kehamilan awal, 90% akan mengalami  rubella congenital. Sayangnya di dunia masih ada 100 ribu bayi yang lahir dengan rubella congenital. Data tahun 2013 menunjukkan lebih dari 60% dari jumlah tersebut adalah mereka yang tidak menerima vaksinasi campak. Ironisnya mereka yang tidak dapat vaksinasi campak berasal dari  negara seperti India, Pakistan, dan Indonesia. Campak dan campak Jerman adalah salah satu penyebab kematian bayi dan anak-anak di seluruh dunia.

Idealnya sebelum hamil bahkan sebelum menikah dilakukan pemeriksaan. Karena dari TORCH itu ada beberapa yang bisa ditularkan ke pasangan. Seiring perkembangan jaman, semakin canggih pemeriksaan, semakin canggih virusnya. Ajak pasangan untuk memeriksakan diri supaya adil. Dr. Kristo memberi contoh Hepatitis B yang menular karena hubungan seksual. Kalau tertular dari suami ke istri, anak yang dilahirkan akan  positif Hepatitis B. Ibu hamil itu rentan. Membawa dua nyawa, yakni diri dan anaknya. “Ibu hamil sebaiknya pakai masker sehingga mencegah saat ada yang bersin,” kata dr. Kristo yang meraih gelar dokter di Universitas Indonesia pada 2006.

Vaksinasi yang sebaiknya diberikan sebelum menikah, yakni vaksinasi untuk mencegah penyakit menular akibat hubungan seksual, HPV (virus penyebab kanker serviks) dan hepatitis B (virus penyebab hepatitis yang  dalam jangka panjang  menimbulkan kanker hati). Kanker serviks adalah kanker pembunuh kedua pada wanita setelah  kanker payudara. Di dunia kurang lebih satu wanita meninggal setiap dua menit akibat kanker serviks. Di Indonesia satu wanita meninggal per jam akibat kanker serviks.

Hepatitis B ialah kanker pembunuh kedua pada pria setelah  kanker paru. Hepatitis B tidak hanya dari hubungan seksual, juga darah. Dr. Kristo menyarankan, yang tidak bisa divaksinasi sebaiknya dihindari sementara  yang bisa divaksinasi sebaiknya divaksinasi. Optimalnya vaksinasi diberikan sebelum menikah,  minimal dua bulan sebelumnya.

Dr. Kristo menekankan materi yang disampaikan dalam talkshow ini lebih dari  sekadar rubella, lebih dari sekadar penyakit, lebih dari sekadar vaksinasi, yaitu pencegahan. The value of prevention.  Banyak orang bertanya apa itu pencegahan. Dalam hidup berapa banyak hal yang bisa dicegah? Kita tidak mau sakit, bangkrut, rugi, menyesal. Begitu banyak kejadian di dunia ini yang tak diinginkan menimpa hidup kita. Sebanyak itu pula cara pencegahannya. Kalau kita sudah melakukan pencegahan hari ini, tidak akan ada penyesalan. Pencegahan bergantung pada pola pikir. Pencegahan itu harus diperjuangkan, bukan didapatkan. Terpenting adalah proses, bukan hasil akhir. “Kadang kita berusaha yang terbaik tapi mengapa kita masih sakit,” kata dr. Kristo.

Konsep vaksinasi adalah membangun pertahanan tubuh terhadap paparan di masa depan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi tapi jangan remehkan musuh-musuh kita. Harapkan yang terbaik tapi jangan lupa siapkan untuk kemungkinan terburuk. Hidup itu pembelajaran tiada berkesudahan. In Harmony Clinic  mendorong semua orang untuk fokus pada pencegahan. Pencegahan itu tidak hanya hidup sehat atau olahraga, banyak hal yang harus dilakukan.

 

Untuk informasi mengenai vaksinasi untuk bayi, anak, dan orang dewasa, hubungi:

In Harmony Clinic

Jl. Percetakan Negara IVB No. 48, Jakarta

(seberang Penjara Salemba)

No telepon: 021-50305050 / 021-4220214

http://www.inharmonyclinic.com

https://www.facebook.com/imunisasianakdewasa

https://twitter.com/Vaksinasi

 

Untuk free seminar mengenai vaksinasi di komunitas atau perusahaan Anda, silakan hubungi In Harmony Clinic SEKARANG.

Advertisements
Pentingnya Pencegahan Penyakit untuk Masa Depan bersama In Harmony Clinic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s