Kilau Abadi Indonesian South Sea Pearls

Buy Indonesian pearl, salah satu yang terbaik di dunia. Saya  tahu itu dari Amerika. Kampanye dan sosialisasinya harus dilakukan. Karena banyak orang termasuk di Jakarta tidak tahu bahwa kita ini penghasil mutiara.

Pernyataan yang cukup mengejutkan dari Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pada Marine and Fisheries Business and Investment Forum&Pre Event Gathering 6th Indonesian Pearl Festival tersebut memunculkan sejumlah tanya terkait Indonesian South Sea Pearls (ISSP). Forum yang digelar pada 12 Oktober 2016 tersebut juga dihadiri delegasi dari Vietnam, duta besar, perwakilan kementerian, bupati, hingga kepala dinas kelautan dan perikanan.

Berkaitan dengan ISSP, Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nilanto Perbowo meyampaikan Indonesian Pearl Festival (IPF) yang akan digelar pada 9-13 November mendatang di Lippo Mall Kemang berencana mengadakan pearl auction untuk pertama kalinya. Agenda lain dalam event ISSP satu-satunya di Indonesia itu yakni pameran mutiara, klinik mutiara, dan ruang edukasi.

Dalam arahannya, Menteri Susi menjelaskan, mutiara adalah salah satu produk kelautan di Indonesia walaupun dari kerangnya merupakan produk perikanan. Di negara lain, competitiveness itu sangat penting. Mendorong kepada peningkatan  produktvitas, efisiensi, dan kualitas. Indonesia saat ini terpukul oleh mutiara air tawar yang diselundupkan dari Tiongkok. Bahkan kejadian tersebut berlangsung di  Indonesia Timur yang merupakan sentra budidaya mutiara. “Ironis. Persoalan ini cukup menarik,” kata Menteri Susi.

Dalam sesi dialog, seorang pengusaha mutiara mengutarakan, tenaga kerja Indonesia seperti di NTT atau Manado itu pintar. Menurut pengusaha yang telah berbisnis selama 24 tahun tersebut, hambatan yang mereka hadapi adalah pendanaan dalam pengadaan alat. Menanggapi hal tersebut, Menteri Susi menjawab, butuh  transparansi agar perbankan mau masuk. Persoalannya, tidak banyak orang tahu seperti apa bisnis mutiara itu. Akibatnya bisnis tersebut dipandang kurang  menarik. Akhirnya pengusaha mutiara semakin berkurang. “Buat company profile, omsetnya berapa, kebutuhan pendanaannya berapa. Saya yakin pasti bisa,” tutur Menteri Susi.

Selanjutnya seorang penanya dari perusahaan mutiara yang telah 20 tahun beroperasi di Raja Ampat, Papua Barat mengeluhkan  persoalan ulayat area laut yang mereka gunakan sekarang. Di daerah pemekaran selama ini batas-batas  yang berkaitan dengan hak ulayat masih berpatokan pada adat. Akibatnya  wilayah-wilayah tertentu yang sudah digunakan perusahaan diklaim oleh masyarakat. Situasi tersebut  mengganggu operasional perusahaan.

Menteri Susi memandang  tanah ulayat merupakan  persoalan Papua sebagai  daerah otonomi khusus. Terkadang pemerintah daerah tidak mampu menyelesaikan persoalan yang pelik tersebut, tidak bisa bersikap. Alhasil proyek menjadi batal.  Itu kerugiannya. Sementara keuntungannya, bukan merupakan suatu hal yang mudah mendapatkan lahan investasi di Papua serta menghindari eksploitasi yang berlebihan. Untuk itu sosialisasi kepada masyarakat tentu penting dilakukan.

Komoditas Ekspor Andalan

Wakil Ketua Umum Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi) Nelia Suhaimi dalam focus group discussion yang diadakan usai business forum menyampaikan  warisan alam mutiara Indonesia adalah anugerah dari Tuhan. Hal tersebut didukung keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dengan ribuan pulau besar dan kecil dikelilingi teluk dan selat. Dengan demikian Indonesia mampu menjadi   penghasil ISSP  terbesar di dunia, komoditas ekspor andalan Indonesia. Seluruh Indonesia Timur dan Indonesia Tengah menghasilkan mutiara, termasuk  Banyuwangi dan Kepulauan Mentawai. Mutiara yang bagus itu tidak bergantung dari desain, melainkan kerang. “Di luar negeri biasanya diambil mutiara yang tidak bagus kemudian diproses menjadi bagus.  Indonesia tidak mengenal hal itu,” ujar Nelia.

foto23
Pemetaan penyebaran kerang mutiara (sumber: Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP)

Areal potensial budidaya mutiara di NTT terletak di Kepulauan Solor, Pulau Sawu, Pulau Semau, dan Teluk Kupang. Di NTB areal potensial budidaya mutiara berlokasi di Teluk Saleh, Teluk Pemongkong, dan Pulau Rakit. Di Sulawesi Tenggara areal potensi budidaya mutiara terletak di Pulau Batudaka dan Teluk Peleng.

Nelia menjelaskan, mutiara dari laut dalam digantung 4-12 meter, bergantung pada makanan planktonnya, dan  hasilnya diperoleh empat tahun kemudian. Dengan demikian  mutiara itu eksklusif dan sangat rumit prosesnya. Selain itu kualitasnya dipengaruhi  penanganan. Jika digambarkan dalam piramida, mutiara dengan kualitas bagus itu sedikit jumlahnya. Memang barang bagus sulit dicari. Di dunia  dihasilkan kira-kira 12 ton ISSP per tahun. Sementara fresh water pearl yang biasa digunakan masyarakat itu jumlahnya  1.500 ton per tahun. Tentu menyebabkan harga yang berbeda. Data itu menjawab pertanyaan mutiara hanya mampu dibeli oleh orang kaya. “Kami berharap bangsa Indonesia menyayangi mutiara. Pemasaran mutiara paling utama di Jepang dan Hongkong. Di Indonesia butuh waktu,” kata Nelia.

foto10
Fresh water pearl dengan kilauan lemah dan hanya tahan beberapa tahun, bentuknya tidak beraturan, dan mempunyai berat yang lebih ringan dibandingkan mutiara air laut dengan ukuran yang sama (dokumentasi pribadi)

Umumnya mutiara digunakan sebagai bahan perhiasan dan dikombinasikan dengan benda berharga lainnya, seperti emas, perak, hingga intan. Bentuk perhiasan yang dihasilkan diantaranya kalung, gelang, cincin, sampai bros. Produk sampingan dari mutiara adalah mother of pearl atau cangkang mutiara. Nelia menjelaskan, cangkang mutiara itu dibuat menjadi  berbagai macam produk, diantaranya bahan obat-obatan, kosmetik, peralatan makan, kancing baju, dan ornamen rumah tangga. Produk tersebut telah dijual  baik di pasar lokal maupun internasional. Daging kerang mutiara juga dapat dimanfaatkan sebagai menu makanan yang bernilai gizi tinggi.

foto7
Produk sampingan mutiara (dokumentasi pribadi)

IPF yang merupakan kerja sama Asbumi dengan Dharma Wanita KKP bertujuan memperkenalkan mutiara Indonesia. Masyarakat tidak perlu takut, sebaliknya harus bangga memakai mutiara. Sebab produk yang mereka beli sesuai dengan harganya.  “Mutiara yang asli itu dipakai sampai berpuluh puluh tahun pun tidak akan berubah warna,” tutur Nelia.

Bagaimana menentukan keaslian mutiara? Mutiara itu digosokkan ke ujung gigi. Bila terasa pasir dan gigi menjadi ngilu, artinya mutiara itu asli.  Selain itu mutiara  harus dites di bawah cahaya matahari, bukan  lampu. Seperti apa mutiara yang bagus? Dalam pandangan Nelia, sama  seperti berlian, mutiara itu memiliki kriteria, sebagai berikut bentuk (bentuk yang paling sempurna adalah round, bulat, dan sangat bulat), kilauan atau luster (yakni kemampuan mutiara untuk memantulkan kembali sinar yang mengenai permukaan mutiara. Semakin kuat kilauannya, semakin tinggi harga dan mutunya), clarity atau kemulusan permukaan, warna (warna yang sangat menentukan sekarang adalah putih dan gold, sementara warna yang sangat bagus di pasar adalah pinkish), size (ukuran ISSP adalah 9-22 mm. Mutiara yang bisa diperdagangkan berukuran 11 mm ke atas. Mutiara dengan  ukuran di bawah 10 mm diambil dari  Akoya pearl), dan pricing. “Beli mutiara dengan  coating yang tebal,” kata Nelia mengingatkan.

foto4
Akoya pearl (dokumentasi pribadi)

Seluk beluk Mutiara

Menghadapi kenyataan yang memunculkan beragam tanya mengenai mutiara sebagaimana yang dipaparkan sebelumnya,  mari sejenak kita mengurai  business process ISSP. ISSP adalah sebutan bagi mutiara yang dihasilkan oleh kerang Pinctada maxima yang merupakan The Queen of Pearls yang dapat berkembang dengan sangat baik di Indonesia. Dibandingkan jenis mutiara lain, ISSP mempunyai keistimewaan terutama dari segi ukuran, warna, dan kilau yang menjadi daya tarik bagi para penggemarnya. Kilauannya sangat kuat dan indah dengan warna dasar putih bernuansa perak dan keemasan. Komoditas ini mempunyai efek ganda bagi pengembangan ekonomi nasional.

foto22
Nilai ekonomi bisnis ISSP (sumber: Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP)
foto24
Ekspor mutiara Indonesia (sumber: Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP)

Pinctada maxima digambarkan sebagai berikut, cangkang berbentuk hampir bundar dan datar pada bagian dorsal (terdapat engsel yang berwarna hitam). Cangkang berwarna kuning tua hingga kuning kecoklatan. Warna garis pada cangkang sudah memudar. Cangkang bagian dalam (nacre) berwarna keperakan dan berkilau. Bagian tepi nacre berwarna keemasan atau keperakan sehingga kerang ini sering disebut gold-lip pearl oyster atau silver-lip pearl oyster.

foto3
Pinctada maxima (dokumentasi pribadi)
foto6
Golden south sea pearl (dokumentasi pribadi)
foto9
Silver south sea pearl (dokumentasi pribadi)

Di Indonesia, budidaya mutiara dimulai tahun 1921 di Buton, Sulawesi Tenggara oleh Dr. M. Fujita menggunakan kerang Golden Pearl Oyster. Sejak tahun 1990-an produksi mutiara semakin berkembang menggunakan kerang hasil perbenihan.  Di dunia ini terdapat 15 jenis kerang yang dapat menghasilkan mutiara bernilai tinggi, yakni sembilan jenis kerang dari laut dan enam jenis kerang dari perairan air tawar. Namun hanya empat jenis kerang yang mendominasi perdagangan mutiara dunia seperti yang digambarkan di foto berikut.

foto11
Jenis kerang yang mendominasi perdagangan mutiara dunia (sumber: Direktorat Jenderal Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran Departemen Kelautan dan Perikanan)
foto25
Mutiara budidaya (sumber: Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP)

Dilihat dari proses terjadi dan terbentuknya, mutiara dikategorikan menjadi tiga, yaitu

  • Mutiara alam

Terbentuk secara alami tanpa campur tangan manusia. Mutiara jenis ini biasanya berbentuk baroque atau tidak beraturan dan tidak seragam. Peluang terjadinya sangat langka.

  • Mutiara budidaya

Mutiara budidaya terjadi karena campur tangan manusia berupa perancangan, persiapan sarana dan prasarana, serta insersi atau pemasukan inti (nucleus) ke dalam tubuh kerang. Proses pembalutan nucleus dengan lapisan calcium carbonate, nacre, dan conchiolin dilakukan oleh kerang itu sendiri sehingga sebenarnya mutiara budidaya juga merupakan mutiara alam.

foto5
Black pearl dengan warna hitam pekat, berukuran 9-16 mm (dokumentasi pribadi)
foto2
Mutiara setengah bulat atau mabe (dokumentasi pribadi)
  •  Mutiara lain

Mutiara Mabe atau Blister (half pearl) terjadi karena inti yang dimasukkan berbentuk setengah bulat atau bentuk lain sesuai dengan yang dikehendaki. Warna dan ukuran Mabe dapat disesuaikan sejak perlakuan awal. Mutiara imitasi (tiruan atau palsu) bukan termasuk jenis mutiara. Teknik pembuatan pabrikasi ini sudah sedemikian maju sehingga menyerupai mutiara asli.

Lokasi merupakan persyaratan utama budidaya mutiara. Hal ini disebabkan oleh organisme kerang mutiara yang bersifat menetap, menempel pada substrat sehingga bersifat pasif menerima ekspose lingkungan yang bersifat terbuka. Lokasi yang cocok untuk budidaya (terutama pembesaran) adalah kawasan perairan yang secara biofisik serta sosial, ekonomi, dan budaya mendukung kegiatan budidaya mutiara. Secara biofisik, kawasan yang cocok adalah terlindung dari angin dan badai yang merusak, contohnya teluk. Kawasan perairan merupakan dasar laut berupa karang berpasir dan tidak berlumpur, tidak tercemar oleh limbah, dan bukan alur pelayaran.

foto13
sumber: Direktorat Sistem Permodalan dan Investasi Direktorat Jenderal Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran Departemen Kelautan dan Perikanan
foto14
sumber: Direktorat Sistem Permodalan dan Investasi Direktorat Jenderal Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran Departemen Kelautan dan Perikanan
foto15
sumber: Direktorat Sistem Permodalan dan Investasi Direktorat Jenderal Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran Departemen Kelautan dan Perikanan
foto16
sumber: Direktorat Sistem Permodalan dan Investasi Direktorat Jenderal Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran Departemen Kelautan dan Perikanan
foto17
sumber: Direktorat Sistem Permodalan dan Investasi Direktorat Jenderal Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran Departemen Kelautan dan Perikanan
foto19
sumber: Direkorat Jenderal Perikanan Budidaya Direktorat Produksi Departemen Kelautan dan Perikanan
foto20
sumber: Gatra, Januari 2006
foto21
sumber: Gatra, Januari 2006

Rekomendasi

Setelah membahas dari sisi pemerintah, mari kita ungkap dari sisi pengusaha mutiara. Ditemui di Trade Expo pada 16 Oktober lalu, Graphic Designer Aulia Jewellery Hario menyampaikan pembeli mutiara  didominasi kolektor. Pemasaran selama ini dilakukan melalui pameran, dari mulut ke mulut, dan menghubungi klien. Pasalnya Aulia Jewellery tidak memiliki toko. Aulia Jewellery yang sudah 10 tahun beroperasi mengambil mutiara dari usaha rakyat yang berlokasi di perairan Raja Ampat, Papua Barat. Mutiara tersebut selanjutnya dirangkai menjadi beragam perhiasan seperti kalung, bros, anting, dan gelang  oleh desainer sekaligus owner Aulia Jewellery Nunik Anurningsih. Menurut Hario, perairan Timur Indonesia lebih bagus dan bersih. Otomatis   kerangnya  lebih sehat. Berbeda dengan perairan  Lombok (yang selama ini terkenal sebagai penghasil mutiara) yang lebih jenuh.

Aulia Jewellery pernah berpameran di Tokyo dan London. Satu jenis perhiasan hanya diproduksi  20-26 pieces. Tujuannya  menjaga eksklusivitas, bukan  mass product atau pabrikan. Hario menjelaskan, perlu dilakukan edukasi kepada masyarakat perihal perbedaan  mutiara air laut dan mutiara air tawar yang jauh lebih murah. Mereka yang jeli membedakan tentu berani membayar mahal. “Jadi bergantung  konsumen, orientasi atau keperluannya untuk apa,” kata Hario.

Selama  berpameran  di Trade Expo, mayoritas yang melakukan transaksi adalah orang Indonesia sendiri. Mereka membeli  untuk konsumsi pribadi atau hadiah. Hario menilai mereka yang hendak membeli mutiara seharusnya sudah memiliki pengetahuan akan mutiara sehingga tidak perlu berdebat soal harga. “Buyer yang meminati mutiara Indonesia masih tingkat Asia, antara lain Singapura dan Thailand. Mereka menilai mutiara Indonesia ada di kelasnya dan mengakui kualitasnya tapi terbentur harga untuk dijual lagi,” ujar Supervisor Aulia Jewellry Welly.

Aulia Jewellery menawarkan perhiasan mutiara dengan harga Rp 2 juta sampai Rp 130 juta bergantung size dan desain. Aulia Jewellery memilih tidak memanfaatkan peluang pemasaran online sebab sangat mudah terjadi penjiplakan. Saat penulis meminta ijin memotret produk mereka, dengan halus Hario menolak. Lagi-lagi dengan alasan khawatir peniruan desain yang marak terjadi.

Salah satu acara yang diselenggarakan di IPF adalah penggalangan dana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan nelayan di Labuan Bajo. Saya melihat agenda tersebut patut diapresiasi. Ibu saya pernah menceritakan pengalamannya membeli kalung mutiara di Labuan Bajo dua tahun lalu. Kala itu beliau berada di kapal motor yang hendak mengantarkannya ke Pulau Komodo. Ibu yang menggemari perhiasan mutiara  sejak tahun 2000 terpikat dengan kalung mutiara yang ditawarkan dengan harga Rp 100 ribu. Tanpa pikir panjang beliau segera membeli tiga kalung yang berwarna hitam.

Alasan utama yang mendorong ibu membeli kalung mutiara itu adalah rasa iba kepada penjual karena berdagang di  tengah lautan. Kegigihannya berdagang menunjukkan ia sangat membutuhkan uang. Menurut ibu, banyak pedagang perhiasan mutiara. Ketika melihat temannya berhasil menjual, tanpa ragu mereka menghampiri pembeli yang sama dengan menawarkan harga yang lebih murah. Dalam pandangan ibu, cara itu terpaksa dilakukan karena sulitnya mendapatkan uang untuk bertahan hidup.

Dalam beberapa tahun terakhir, usaha budidaya mutiara mendapat perhatian investor yang berminat menanamkan modalnya. Keberhasilan tersebut diikuti oleh adanya tuntutan industrialiasi, seperti investasi modal yang besar, penguasaan ilmu dan teknologi termasuk penguasaan manajemen dan sumber daya manusia yang terampil dan produktif.

Meskipun terjadi perkembangan yang signifikan, kemajuan industri budidaya mutiara saat ini masih relatif sedikit dibandingkan potensi perairan laut Indonesia. Hal tersebut disebabkan belum terciptanya iklim usaha yang kondusif yang antara lain diindikasikan dengan permasalahan, seperti teknologi pengolahan mutiara belum sepenuhnya dikuasai oleh tenaga kerja Indonesia, kelembagaan kelompok pembudidaya, permodalan untuk pengusaha kecil, perijinan dan sarana belum memadai, pemasaran dan harga di pasar internasional belum ditangani dengan optimal, belum jelasnya tata ruang lahan untuk budidaya mutiara, serta keamanan belum terjamin.

Selain persoalan tersebut, lambannya pengembangan usaha budidaya mutiara di Indonesia disebabkan kurangnya informasi bagi para investor menyangkut gambaran umum industri budidaya mutiara, lokasi potensial, teknis budidaya dan pengolahan, aspek legal pendirian usaha, ketersedian bahan baku, aspek finansial dan pemasaran, risiko industri, dan prospek budidaya mutiara.

Sehubungan dengan persoalan yang telah dipaparkan sebelumnya, berikut rekomendasi yang penulis sampaikan. Usaha budidaya mutiara tergolong usaha yang berisiko tinggi, padat modal, dan memerlukan teknologi tinggi sehingga membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang mumpuni. Usaha ini membutuhkan dukungan yang kuat dari pemerintah, baik dari segi hukum (khususnya terkait regulasi yang mengatur pembatasan mutiara air tawar dari Tiongkok), ekonomi (dukungan perbankan), politik, sosial, budaya, dan keamanan. Dengan demikian mampu mengurangi konflik pemanfaatan ruang, meningkatkan investasi di kawasan laut, pesisir dan pulau-pulau kecil, meningkatkan kemampuan kapasitas kelembagaan, dan mengefektifkan koordinasi antara stakeholders.

Asbumi sebagai asosiasi profesi memiliki tugas pokok menciptakan iklim usaha yang sehat, penegakan hukum khususnya terkait retribusi atau pungutan yang dirasa memberatkan pengusaha budidaya mutiara, peningkatan kemudahan mendapatkan bahan baku, modal kerja, hingga kemitraan. Dengan demikian melalui Asbumi, calon investor dapat memperoleh informasi yang akurat mengenai lokasi potensial budidaya mutiara dan prospeknya, kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar, hingga tenaga kerja dan peralatan.

Indonesia perlu membuka pasar baru selain Jepang dan Hongkong sehingga mampu menghasilkan devisa untuk negara dan meningkatkan kontribusi ekspor mutiara. Tentunya diiringi dengan peningkatan produksi dan mutu sehingga mampu menembus pasar potensial. Selain itu proses nilai tambah yang berlangsung di dalam negeri akan memunculkan multiplier effect terhadap perekonomian nasional terutama peningkatan kesejahteraan kepada masyarakat pembudidaya serta prospek pengembangan yang menjanjikan di masa mendatang.

Sumber bacaan:

Ditjen Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan. 2003. Forum Mutiara Indonesia.

Direktorat Sistem Permodalan dan Investasi Direktorat Jenderal Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran Departemen Kelautan dan Perikanan. 2003. Pedoman Investasi Komoditas Mutiara di Indonesia.

Direktorat Jenderal Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran Departemen Kelautan dan Perikanan. 2004. South Sea Pearl Indonesia.

Direkorat Jenderal Perikanan Budidaya Direktorat Produksi Departemen Kelautan dan Perikanan. 2005. Petunjuk Teknis Budidaya Laut: Budidaya Mutiara.

Gatra No. 08 Tahun XII, Januari 2006.

Advertisements
Kilau Abadi Indonesian South Sea Pearls

4 thoughts on “Kilau Abadi Indonesian South Sea Pearls

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s