Sehat dalam Genggaman

polytron1
Kecanggihan teknologi membuat siapapun bisa berolahraga di manapun dan kapanpun

Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Mari berolahraga untuk investasi jangka panjang.

Jarum timbangan semakin bergerak ke arah kanan. Pakaian mulai tak muat dikenakan. Terengah-engah saat harus mengejar kendaraan umum. Mudah letih. Semua itu menandakan saya harus waspada dengan berat badan (BB). Apalagi dalam hitungan bulan akan memasuki pergantian tahun. Jika BB tak kunjung turun, pasti akan ditanyakan oleh keluarga besar saat kumpul bersama pada malam tahun baru. Sekarang saja orangtua dan adik sering mengingatkan saya untuk menurunkan BB dengan mengurangi makan dan berolahraga.

Mengurangi makan besar seperti nasi dan teman-temannya itu tak berat menurut saya. Tapi stop makan camilan, rasanya sulit. Bagaimana tidak, stok biskuit dan wafer selalu ada dalam lemari. Bila orang lain mencuci mulut dengan buah, saya memilih konsumsi camilan. Rasanya ada yang kurang. Camilan yang manis itu sungguh memanjakan lidah.

Hingga minggu lalu saya mengikuti sesi talkshow tentang diabetes bersama komunitas yoga. Komunitas tersebut mengadakan yoga bersama di Taman Suropati setiap hari Minggu. Tahun lalu saya tak pernah melewatkan untuk yoga bersama orang-orang yang baru saya kenal di sana setiap pekannya. Namun, entah mengapa, tahun ini rasanya malas sekali. Saat membaca informasi talkshow tersebut di media sosial, saya tergerak mengikutinya.

Usai penjelasan mengenai diabetes oleh pengajar yoga yang sangat membuka wawasan, dilanjutkan dengan praktik pose yoga yang mampu mencegah diabetes bila dilakukan secara rutin. Sebab yoga tidak hanya memperbaiki kerja pankreas dan insulin, juga menyeimbangkan tubuh secara menyeluruh. Sebaiknya jangan hanya mengandalkan yoga, lakukan juga olah raga lainnya. Karena itu saya mengimbanginya dengan berjalan kaki yang bisa dilakukan di tengah aktivitas harian. Misalnya turun dari kendaraan umum tidak di depan gang menuju rumah, melainkan 500 meter sebelumnya. Dengan demikian saya punya kesempatan bergerak.

Ternyata saya yang selama ini sering tidur di atas jam 12 malam berisiko terkena diabetes bila tak didukung dengan pola makan seimbang dan olah raga. Selain itu kecemasan dan depresi juga meningkatkan risiko diabetes. Faktor BB juga berpengaruh. Oleh karena itu saya harus mulai menata pola hidup menjadi lebih baik.

Satu hal yang saya sukai dari olah raga yoga ini adalah dapat dilakukan di manapun dan kapanpun. Di pagi hari sebelum memulai aktivitas, saya menyisihkan waktu setengah jam untuk mempraktikkan beberapa pose yoga, khususnya yang bisa mengurangi risiko diabetes, seperti dhanurasana dan janu sirsasana.

Dhanurasana sering disebut Bow Pose karena pose ini menyerupai busur. Selain meningkatkan kekuatan otot perut,  juga  memobilisasi tulang belakang, memperbaiki postur tubuh, dan memperkuat otot punggung. Janu sirsana bermanfaat meregangkan tulang belakang, bahu, paha belakang, dan pangkal paha. Tak hanya itu, pose ini juga membantu meringankan depresi ringan, mengurangi kecemasan, kelelahan, sakit kepala, dan ketidaknyamanan akibat menstruasi.

Smartphone saya andalkan untuk memperoleh informasi tahap-tahap melakukan pose yoga. Untuk itu saya memanfaatkan Youtube atau aplikasi yoga. Dengan demikian saya tahu apakah pose yang saya lakukan ini benar atau tidak. Smartphone diletakkan di atas meja sehingga saya mudah melihat setiap pose. Namun sering terjadi smartphone ini jatuh dengan posisi layar di bawah. Menghadapi kondisi itu saya dibuat bingung. Inginnya masalah teratasi, malah  bertambah.

Masalah ini sebentar lagi akan teratasi. Senangnya saya mengetahui Polytron akan meluncurkan smartphone dengan desain dual glass dan metal,  material glass yang kokoh dan kuat pada dua sisinya. Smartphone Polytron yang akan diluncurkan pada awal November mendatang tersebut selain memiliki desain yang elegan dengan pilihan warna hitam dan putih, dilapisi bahan  berkualitas dan premium. Layar smartphone ini dilapisi pelindung Dragontrail AGC Glass. Telah diuji coba di laboratorium Polytron menggunakan pelindung Dragontrail AGC Glass yang setidaknya mampu menahan benturan (hammer test) seberat 0,75 kg.  Tak hanya itu, kerangka smartphone  terbuat dari bahan metal yang kuat sehingga tidak mudah melengkung (bending test). Smartphone Polytron  ini tidak mudah retak saat  terbentur atau  terjatuh sekalipun dari  ketinggian 1,2 meter yang umum terjadi serta tahan terhadap baret ketika tergesek dengan kunci atau uang koin.

Selain menyelesaikan masalah, smartphone Polytron ini menawarkan hal yang menarik bagi saya. Layar lebarnya yang berdiagonal 5.2 Inch Full HD dengan tipe In Plane Switching (IPS) menciptakan pengalaman yang sempurna saat menonton tahap-tahap melakukan pose yoga di Youtube. Bobot smartphone ini cukup ringan, 155 gram dengan dimensi 7,75 mm. Didukung dengan tepi kaca yang menerapkan  teknologi layar curved 2.5D dan Grip yang membuat smartphone Polytron nyaman dibawa ke manapun. Bersama smartphone Polytron, saya bersemangat mewujudkan impian menurunkan BB. Tidak hanya baik untuk kesehatan di masa kini dan masa mendatang, juga penampilan.

 

 

Advertisements
Sehat dalam Genggaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s