Lombok yang Memikat

foto-6
Menyepi sejenak di Gili Kondo

Lombok menawarkan variasi keindahan yang tak terduga. Wisata alam, seni budaya, hingga kerajinan tangan tradisional yang sangat mengagumkan.

“Traveling in Indonesia is like a box of chocolates, you never know what you’re gonna get,”. Ungkapan yang  disampaikan  penulis buku 15 Destinasi Wisata Terbaik di Indonesia sekaligus fotografer, Barry Kusuma tersebut  mewakili  perasaan saya ketika berwisata ke Lombok pada November tahun lalu.

Gili Nanggu menjadi destinasi wisata pertama saya. Gili dalam bahasa Sasak, suku asli Lombok artinya pulau kecil. Berbeda dengan Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air yang telah mendunia, Gili Nanggu belum banyak dikunjungi  wisatawan. Butuh waktu 15 menit menyeberang dari Pelabuhan Tawun, Lombok Barat menuju Gili Nanggu. Pantai yang bersih dengan pasir putih dan ombak yang landai menjadi daya tarik tersendiri.

foto-2-edit
Cottage di Gili Nanggu

Beberapa wisatawan terlihat menikmati pemandangan bawah laut dengan snorkeling. Sobekan roti ditaburkan ke dalam laut. Tak menunggu waktu lama, sekelompok ikan aneka warna dengan kulit bak kain sutra mendekat, meliukkan badan kian kemari. Pemandangan  yang apik didukung air laut yang bening.  Sementara di tepi pantai dengan hamparan pasir lembut  tampak keluarga bercengkerama menikmati hembusan angin yang menyejukkan dan barisan  pepohonan di seberang.

Tujuan pada hari kedua adalah  Gili Kondo. Butuh waktu tiga jam perjalanan darat dari hotel tempat saya menginap menuju Sambelia, Lombok Timur. Dari sana hanya dalam tempo 10 menit menyeberang, sampailah di Gili Kondo. Dijamin mata Anda akan dipuaskan dengan panorama yang disuguhkan. Gradasi warna hijau dan biru air laut dengan latar pepohonan yang mengering. Tak perlu menyelam terlampau dalam, jernihnya air memudahkan Anda melihat terumbu karang yang apik.

Sama seperti Gili Nanggu, Gili Kondo menjadi pilihan yang tepat bagi Anda yang ingin menyepi sejenak. Berbeda dengan Gili Nanggu yang memiliki cottage dan restoran, sayangnya di Gili Kondo tidak ada penginapan. Hanya warung kecil yang  sekaligus berfungsi sebagai ruang ganti pakaian. Sebaiknya membawa snack sebab variasi makanan yang ditawarkan terbatas. Tak perlu diburu waktu. Manjakan mata Anda dengan memandang ke arah barat, tampak Pulau Lombok dengan Gunung Rinjani yang menjulang. Sementara menghadap ke arah timur, terlihat Pulau Sumbawa yang aduhai. Belum  cukup sampai di situ, di utara terbentang  Gili Bedagan dan dan Gili Bidara.

Wisata Dalam Negeri

Di hari terakhir ini saya bertandang ke Banyumulek, desa wisata yang berlokasi di  Kediri, Lombok Barat. Banyumulek ramai dikunjungi oleh wisatawan yang memiliki minat terhadap budaya lokal. 80 persen penduduk Banyumulek berprofesi sebagai perajin gerabah. Awalnya  gerabah  yang dihasilkan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, misalnya tempayan untuk menyimpan beras. Namun seiring perkembangan wisata di Lombok, gerabah tersebut digunakan sebagai elemen dekorasi di hotel. Tak hanya itu gerabah juga diekspor ke beberapa negara di Eropa.

foto-7
Warna-warni gerabah di Banyumulek

Menariknya pengunjung  bisa melihat secara langsung proses pembuatan gerabah yang dikerjakan oleh kaum perempuan. Sementara kaum pria  mencari tanah liat dan membakar gerabah. Ada satu hal yang menarik perhatian wisatawan saat mengunjungi Banyumulek, yakni kendi maling yang berfungsi sebagai wadah air minum. Uniknya, air diisi dari bawah, berbeda dengan kendi pada umumnya yang memiliki lubang di bagian atas. Saat air sudah penuh,  kendi dikembalikan lagi ke posisi semula. Ajaibnya,  air tidak tumpah!

Berikutnya saya melangkahkan kaki ke Desa Sukarara, Jonggat, Lombok Tengah, penghasil kain tenun. Sebagian besar perempuan  bekerja sebagai penenun. Mereka diwajibkan belajar menenun sejak usia 10 tahun. Orangtua mewariskan  keterampilan menenun sebagai bekal kehidupan. Dahulu mitos yang berkembang mengatakan, kaum pria yang menenun akan mandul. Namun kini banyak dijumpai kaum pria menenun. Bedanya mereka mengerjakan tenun ikat sementara kaum perempuan mengerjakan tenun songket.

foto-13
Tenun khas Lombok yang mempesona

Kain tenun beragam motif dan warna yang dihasilkan kaum perempuan Desa Sukarara dijual di sebuah koperasi. Harga jualnya berkisar Rp 85 ribu sampai jutaan rupiah. Cukup mahal memang. Namun kualitas yang dihasilkan patut diacungi jempol  karena dikerjakan secara manual. Bahkan untuk membuat satu kain tenun dibutuhkan waktu  hingga berbulan-bulan. Selain itu masih digunakan pewarna alam, seperti warna coklat kemerahan dari pohon mahoni.

Salah satu kekayaan tradisional yang dimiliki Lombok adalah Desa Sade,  Rembitan,  Lombok Tengah yang  dihuni oleh Suku Sasak. Masyarakat masih mempertahankan keaslian budaya dan memegang teguh adat. Bangunan khas Sasak berdiri kokoh dan terawat dengan baik. Bangunan tersebut terdiri dari Bale Tani yang digunakan sebagai tempat tinggal dan lumbung yang digunakan sebagai tempat menyimpan  hasil panen. Selain itu terdapat Berugak,  panggung berbentuk segi empat yang tidak memiliki dinding. Biasanya digunakan masyarakat untuk berkumpul usai bertani.

Lombok dengan segala pesonanya adalah mahakarya Sang Pencipta. Oleh karena itu patut dijaga kelestariannya sehingga dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian itu, sekarang saatnya  kita menggalakkan kecintaan berwisata di negeri sendiri. Selain  wujud rasa bangga akan tanah air, wisata dalam negeri mampu menggerakkan dan meningkatkan ekonomi setempat. Sebab kalau bukan kita, siapa lagi.

Promosi Berbasis Inovasi

Pesona Lombok yang tak ada duanya mendorong saya berencana membuat video. Apalagi pada 22 Oktober lalu saya menghadiri acara ‘Sapa Blogger Travelista’ yang diadakan oleh MyRepublic bekerja sama dengan DW TV. Jurnalis DW asal Indonesia Yuniman Farid menyampaikan, destinasi wisata favorit orang Jerman itu Bali dan Lombok. DW, stasiun TV Jerman yang telah berdiri sejak 1953 memiliki program Check-In. Program tersebut membahas lokasi wisata yang tidak ditemukan orang di buku panduan wisata. Tujuannya adalah menggugah audience untuk berwisata ke lokasi tersebut.

dw
Sumber foto: http://www.dw.com

Yuniman mengingatkan bahwa di tempat tinggal kita sekalipun pasti ada tempat yang menarik untuk ditunjukkan kepada dunia. DW mengajak siapapun berpartisipasi dengan mengirimkan video berbahasa Inggris ke program Check-In. Siapapun berkesempatan untuk berpartisipasi. Dalam video tersebut, siapapun bisa bertindak menjadi travel guide. Terlebih belum banyak video tentang Indonesia di program Check-In. Sebelum video itu ditayangkan, ada kurator yang menyeleksi. Namun DW menghargai setiap video yang dikirimkan. Sebab video tersebut dibuat dengan perspektif yang berbeda-beda.

Melalui program Check-In, audience diajak mengenal orang, budaya, hingga makanan di lokasi wisata tersebut. Yuniman menyarankan untuk mengirimkan video mengenai daerah asal. Tema tersebut akan sangat menarik wisatawan Eropa untuk mengunjunginya. Yuniman berpesan, seorang blogger jangan takut menulis hal-hal yang keluar dari mainstream. DW  mengajak semua orang meramaikan program Check-In dan memberikan kesempatan kepada semua orang untuk mempromosikan tempat yang menarik. Sampai saat ini video yang sudah ditayangkan berasal dari negara-negara, seperti Portugal dan Yunani. Asia sendiri belum ada. Ini merupakan kesempatan bagus bagi Anda  tampil di DW TV yang bisa disaksikan di seluruh dunia.

myrepublic
Sumber foto: https://twitter.com/MyRepublicID

Saat upload video tentu kita butuh koneksi yang stabil, tanpa gangguan. Untuk itu saya memilih MyRepublic. Alasannya MyRepublic ditunjang dengan internet ultra cepat hingga 300 Mbps. Masalah harga, tak perlu khawatir. Sebab harga yang ditawarkan bergantung pada kecepatan yang Anda pilih setiap bulannya, dari 50 Mbps (Rp 279 ribu), 100 Mbps (Rp 299 ribu), 150 Mbps (Rp 399 ribu), sampai 300 Mbps (899 ribu). Paket internet itu sudah termasuk gratis 23 saluran TV lokal dan router wi-fi untuk kenyamanan Anda berinternet.

Melalui internet ultra cepat yang menjadi keunggulan MyRepublic, streaming video menjadi lancar tanpa buffering. Selain itu download dan berbagi file menjadi lebih cepat, hanya dalam hitungan menit. Kecepatan yang ditawarkan MyRepublic tentunya konsisten sepanjang hari. Mengapa demikian? MyRepublic bekerja dengan traffic priority system yang fleksibel untuk penggunaan data yang besar. Selain itu Adaptive Traffic Priority memprioritaskan kapasitas bandwith untuk aktivitas video streaming hingga web surfing.

MyRepublic sebagai fiber broadband expert tak pernah berhenti berinovasi dalam pengembangan fitur. Tentu untuk menjaga kualitas produk dan memberikan yang terbaik kepada konsumen. MyRepublic percaya, waktu, biaya, dan kepercayaan merupakan bentuk komitmen kepada pelanggan. Tunggu apalagi, segera upload video destinasi wisata untuk ditayangkan di DW TV. Tentunya didukung internet ultra cepat dari MyRepublic!

Advertisements
Lombok yang Memikat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s