Bersama Membangun Indonesia melalui Startup

MyRepublic1
(kiri-kanan) Co-Founder Modalku Reynold Wijaya, Co-Founder Lemonilo Ronald Wijaya,  Founder Sukawu Teddy Tjandra, dan Co-Founder Rekruta Yanuar Wibisono.

Mereka rela melepaskan karir mapan di luar negeri, kembali ke Indonesia. Memasuki dunia startup yang menawarkan  pengalaman luar biasa.  Bersama membangun negeri dengan kreasi digital. Memajukan  Indonesia selangkah demi selangkah.

Co-Founder Modalku Reynold Wijaya, menyampaikan Modalku adalah pionir layanan peer-to-peer (platform pinjaman  langsung) berbasis teknologi finansial di Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Didirikan pada Januari 2016. Misi Modalku adalah mendukung pertumbuhan bisnis UKM. Saat ini Modalku telah membantu lebih dari 200 UKM mendapatkan lebih dari Rp 170 miliar pinjaman usaha. “UKM ini tidak punya akses untuk berkembang, mereka dihadapkan dengan tengkulak,” kata Reynold, pemegang gelar MBA dari  Harvard Business School.

Reynold menuturkan 70% startup gagal. Maka sebelum membangun startup, berpikirlah matang-matang. Startup harus berani gagal. Siapkan mental! Reynold berpesan, sebelum membangun startup carilah co-founder yang memiliki latar belakang dan value yang berbeda  dengan kita, seperti etnik. Dengan demikian startup bisa masuk ke komunitas yang berbeda-beda dan berelasi dengan bermacam-macam orang.

MyRepublic4
Sukawu, penghubung peserta didik dengan penyedia kursus dan pendidikan non formal.

Founder Sukawu Teddy Tjandra, memaparkan Sukawu adalah  startup EdTech  yang dibentuk untuk memberikan ‘one-stop solution’ bagi orang-orang dari segala usia dalam mengeksplorasi bakat dan minat untuk mewujudkan potensi maksimal mereka. Format Sukawu adalah online portal dan marketplace yang menghubungkan peserta didik dengan penyedia kursus dan pendidikan non formal seperti art, music, hingga public speaking. Tujuannya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. “Passion saya, create something better solution karena dari dulu suka problem solving,” kata Teddy.

Teddy menilai Indonesia memiliki kekurangan, yaitu sumber daya manusia. Padahal education is important. Karena itu Teddy mendirikan startup Sukawu pada September 2015. Sukawu terdiri dari dua kata, yakni  Suka dan Wujudkan Impianmu. Orangtua cenderung  melihat nilai akademik sebagai kunci kesuksesan dalam hidup. Sukawu  membantu orang muda untuk eksplorasi bakat sejak dini. Selain itu membuka wawasan  orangtua bahwa ada bidang lain yang bisa ditempuh dan dijalani melalui serangkaian seminar.  “Kita hidup  untuk memberdayakan manusia. Seperti orangtua yang memberdayakan anak agar  menjalani hidup sesuai keinginan, passion, dan skillnya,” ujar Teddy.

Permasalahan yang ditemui Teddy adalah selama ini orang harus menghubungi satu per satu lembaga kursus untuk mengetahui program yang ditawarkan. Jelas ini tidak memudahkan. Karena itu Teddy  membuat online marketplace mengenai  kursus dan training dari lembaga yang sudah ada dan terverifikasi. Saat ini  100 lembaga bergabung dalam Sukawu. Mereka dibantu dalam  branding di social media.

Teddy juga membangun  Sukawu Academy yang mengadakan workshop dan seminar. Sukawu bekerja sama dan berkolaborasi dengan berbagai partner. Apa skill yang diperlukan sejak awal dan bagaimana mereka bisa mengoptimalkannya untuk menjalani karier nantinya. Sukawu juga mendatangi sekolah-sekolah dan homeschooling community.

Dalam mengoperasikan startup, menurut Teddy selain passion, dibutuhkan  persistence. Memang tidak mudah. Banyak hal yang bisa membuat pelaku startup menyerah. Jika Anda tahu tujuan yang ingin dicapai, semua itu akan bisa terlewati. Kita bisa membuat perubahan revolusioner  untuk masyarakat Indonesia yang menciptakan dampak sosial. “Sudah banyak di luar sana  entrepreneur yang tidak hanya fokus ke profit juga membuat suatu perubahan, misalnya umemployment rate,” ujar Teddy, lulusan University of Oxford.

Belajar dari Kegagalan

Co-Founder Rekruta Yanuar Wibisono, mendeskripsikan Rekruta adalah platform rekruitmen untuk mencari dan mengelola kandidat tenaga kerja.  Teknologi machine learning  Rekruta dapat menurunkan cost per hire dan waktu dalam mencari karyawan. Yanuar bercerita tentang dirinya yang  lahir dan besar di Malang. Selanjutnya ia berkuliah di jurusan Computer Science University of Illinois.

Lulus kuliah Yanuar sempat bekerja sebagai Software Engineer di Quora. Ia mengaku  nyaman dengan  company culture Quora. Yanuar bahagia menjalani pekerjaannya. Hingga ia melihat banyaknya kesempatan yang  bisa dikembangkan di Indonesia. Yanuar  bertekad kembali ke Indonesia, melepas pekerjaannya. Ia membangun  Rekruta pada Desember 2015. Rekruta terdiri dari dua kata, recruitment dan talenta. Fokus Rekruta sekarang adalah mendapatkan tech talent, product manager, hingga sales people. “Startup itu seperti rollercoaster, naik turun. Saya tidak pernah menyesal  pulang ke Indonesia, keluar dari pekerjaan  di Amerika,” ujar Yanuar.

Yanuar menemukan problem yang besar di Indonesia, orang yang sudah bekerja beberapa tahun memiliki gaji besar sementara mereka yang baru lulus gajinya kecil. Jenjangnya besar sekali. Rekruta membantu mereka mendapatkan dream job. Semua itu kembali ke passion, apakah yang dikerjakan berasal dari hati. Dari startup yang didirikannya, Yanuar mempelajari  ternyata 99% bisnis itu bisa berjalan tanpa modal awal, hanya tenaga kerja dan networking. “Saya lihat di Indonesia terutama di Jakarta sulitnya rekruitmen,” kata Yanuar yang mengaku belajar banyak dari kegagalan.

MyRepublic3
 Lemonilo, gaya hidup sehat bagi masyarakat Indonesia.

Co-Founder Lemonilo Ronald Wijaya, menjelaskan Lemonilo  adalah pasar kesehatan pertama dan terbesar di Indonesia yang menghubungkan penggemar gaya hidup sehat dengan penyedia produk kesehatan dan  alami. Misi Lemonilo ialah  menyediakan gaya hidup sehat bagi masyarakat Indonesia. Dalam pandangan Ronald, masalah  terbesar di Indonesia adalah keuangan, kesehatan, dan transportasi.

Ronald menilai, sekarang sudah bukan jamannya lagi orang mengonsumsi makanan tidak sehat.  Minum kopi saja bisa mengeluarkan sampai Rp 50 ribu. Artinya warga Jakarta  sudah punya kemampuan untuk spending. Ternyata mereka ingin konsumsi makanan sehat. Karena itu konsumen Lemonilo didominasi karyawan dan middle class. “Produk dari vendor yang bergabung bersama kami   tidak ready stock. Pesan hari ini, besok diantar. Karena makanan ini  fresh,  tidak mengandung  pengawet,” ujar Ronald.

Berdasarkan pengalamannya membangun startup, Ronald berpesan  jangan mendirikan startup yang tidak ada permintaannya.  Tes pasar dulu. Seperti yang dilakukan Ronald. Sebelum meluncurkan Lemonilo, ia menawarkan produk kesehatan secara offline. Saat ada respon yang baik, segera realisasikan ide. “Semua bisnis harus profitable. Profit is important,” kata Ronald, lulusan University of Michigan.

MyRepublic2
(kiri ke kanan) CEO Cody’s App Academy Wisnu Sanjaya, Founder Clevio Aranggi Soemardjan, Co-Founder Coding Indonesia Kurie Suditomo, dan moderator Wicaksono Hidayat.

Digital Ekonomi

Banyak sekali startup di Indonesia yang mencoba peduli dan memberi perhatian besar pada dunia anak. Untuk itu kita semua harus bergerak ke sana. Dengan demikian anak-anak Indonesia memperoleh  hidup yang berkualitas. Generasi muda diyakini memiliki kreativitas yang luar biasa dengan ide yang inovatif. Generasi penerus bangsa mempunyai kesempatan menggali pengalaman dari mereka yang sudah berpengalaman untuk dikembangkan menjadi usaha di kemudian hari. Saling berbagi kekuatan ekonomi pribadi  untuk Indonesia tercinta. Saat ini adalah waktu paling tepat untuk menjadi entrepreneur karena pemerintah dan seluruh stakeholder sadar akan hal itu. Menuju visi digital ekonomi 2020.

Para pendiri startup yang fokus pada anak-anak berkomitmen membangun negeri dengan kreasi digital.  Founder Clevio Aranggi Soemardjan menyampaikan, startup bisa dimulai dari visi. Sebagaimana visi Clevio, yakni  clever (bijak memanfaatkan teknologi digital), leverage (bagaimana pengaruh  teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari), human centric (membuat manusia lebih berdaya), dan better good (bermanfaat untuk semua). Kurikulum Clevio berlandaskan  character building yang manusiawi dalam mengembangkan  bakat anak. Dengan demikian anak belajar logika,  psikososial, kerja sama, hingga  entrepreneurship.

Clevio didirikan pada 2013. Peserta kursus programming game tersebut tersebar dari anak, ibu, hingga lansia. Awalnya Aranggi mendirikan Clevio  untuk kebutuhan anaknya yang ekstra introvert. Bahkan saat duduk di kelas 3 SD, anaknya tersebut diterapi karena  stress dengan ketidakmampuan sosialnya. Padahal anak itu mampu membuat game. Aranggi dan istri selanjutnya mencari lembaga yang mengajarkan game. Namun tidak ada. Kemudian Aranggi beserta istri yang berlatar pendidikan psikologi anak membentuk Clevio. Selain IT, sisi sosial difasilitasi. “Sebenarnya saat orangtua bermain game bersama anak, itu bisa menjadi sarana untuk memotivasi anak. Kita bisa terlibat dalam dunia digital, dunia mereka,” ujar Aranggi.

Tahun lalu Clevio diajak oleh sebuah perusahaan di Amerika untuk bergabung dalam gerakan Hour of Code. Tujuannya adalah memperkenalkan coding atau programming ke 200 juta anak di seluruh dunia secara gratis. Visi tersebut diwujudkan dalam bentuk pengajaran coding yang disampaikan orang  dewasa kepada  anak-anak. Tahun ini gerakannya adalah anak-anak mengajar anak-anak. “Ayo generasi Indonesia, majukan generasimu. Berantas buta coding, jadilah duta coding di sekolahmu,” ujar Aranggi.

Apa itu coding? Ilmu memprogram komputer, menyusun logika komputer agar bekerja sesuai perintah kita. Misi  duta coding  adalah membimbing teman-teman di sekolah,  rumah, atau dimanapun untuk belajar coding dengan mudah dan menyenangkan. Sebab coding adalah  bahasa pemrograman digital, bahasa masa depan. Aranggi mengimbau orangtua dan sekolah untuk memberdayakan dan memajukan generasi penerus. Dengan demikian mereka mampu  menguasai masa depan.

Kompetisi karier di masa mendatang itu bukan antara si kaya dan si miskin. Banyak pekerjaan yang dulu tidak ada sekarang ada. Orangtua harus mendidik anak agar mampu bertahan 10 bahkan 20 tahun lagi. Kita tidak tahu dunia masa depan itu akan  seperti apa. Untuk itu pada 13-15 Desember 2016 diadakan Hour of Code di Atamerica. Kegiatan tersebut berfokus pada anak perempuan, ibu rumah tangga, dan penyandang disabilitas. “Semoga lebih banyak perempuan terlibat di dunia  IT agar tidak lagi menjadi dominasi laki-laki,” kata Aranggi, lulusan University of Memphis.

Aranggi berpesan, jika kalian  suka dengan penderitaan jadilah entrepreneur. Aranggi sendiri bekerja di perusahaan selama 15 tahun. Ia belajar IT di dunia kerja. Sebelum usia 40 tahun, Aranggi bertekad  memulai  startup. Menurutnya, penderitaan memulai startup jauh lebih nyaman dibandingkan bekerja di perusahaan. “Kalau motivasi kamu membangun startup itu  uang, forget it,” tutur Aranggi.

Berbagi Mimpi

Co-Founder Coding Indonesia Kurie Suditomo menjelaskan, Coding Indonesia adalah lembaga kursus coding untuk anak-anak, remaja, dan dewasa yang berdiri pada  2013. Coding Indonesia  berangkat dari ide Presiden Obama yang meluncurkan code.org. Saat itu Amerika menghadapi fenomena  tenaga kerja di Silicon Valley didominasi orang Chinese dan India. Bahkan etos kerja mereka jauh melebihi orang Amerika. Akibatnya orang Amerika tertinggal. Kurie memandang, di Indonesia coding menjadi suatu hal yang sangat menarik untuk dimasuki. Pasalnya anak-anak Indonesia butuh pengetahuan  komputer. Sesungguhnya pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi  yang dipelajari murid SD berhenti di Microsoft Office. “Itu sudah temuan 20 tahun yang lalu. Mengajarkan komputer ke anak-anak itu sama sekali tidak diberikan,” ujar Kurie.

Mengapa anak-anak? Anak-anak itu  cepat sekali beradaptasi. Secara visual mereka lebih mudah  menangkap. Untuk itu tutor di Coding Indonesia berusia muda. Sebab mereka jauh lebih cepat beradaptasi dalam pembelajaran coding dibandingkan generasi sebelumnya. Coding menjadi kendaraan anak-anak menuju masa depan. Kurie menilai, lebih baik kita mengajarkan anak-anak cara membuat game. Menantang mereka perlahan-lahan. “Secara tidak sengaja bermain adalah belajar. Berikan ilmu kepada anak-anak menurut masanya, bukan masa kita,” kata Kurie yang memiliki pengalaman panjang di dunia jurnalistik.

Kurie memulai startup bersama partnernya yang merupakan professional programmer. Saat itu baru  20 anak yang mengikuti kursus. Kini murid di Coding Indonesia terus bertambah. Bahkan  Sabtu merupakan hari yang paling ramai. Pasalnya Senin sampai Jumat anak harus bersekolah. Selain bekerja sama dengan sekolah-sekolah swasta melalui sistem bagi hasil, Coding Indonesia mengirim tutor untuk mengajar pro bono di Rumah Yatim.

Coding Indonesia juga bermitra dengan Indosat untuk mengajarkan  coding di daerah. Kurie ingin berbagi mimpi, bahwa coding itu harus menjadi mainstream. Selama ini subjek yang menjadi mainstream diantaranya bahasa Inggris dan matematika. Padahal coding  bisa membantu anak memahami matematika dengan cara  visual. Selain itu coding  membuat anak beradaptasi dengan komputer.

Kurie mengisahkan, ia dan timnya membawa komputer dari Jakarta. Mereka mengajarkan coding kepada anak-anak yang tinggal di desa yang berjarak 6 km dari Kuningan. Ada anak yang  belum pernah pegang mouse, ada yang belum pernah pegang  komputer. Ada pula ibu yang malu-malu bertanya apakah boleh bergabung belajar coding. Itu kenyataan yang tengah kita hadapi. Kita  bicara tentang 60 juta anak Indonesia yang harus dibantu. Coding itu seperti  calistung dalam bahasa komputer. Melalui coding kita bisa memberikan harapan. “Sehingga suatu saat mereka bisa bermimpi, saya ingin belajar, saya ingin menjadi orang yang lebih dari  sekarang,” ujar Kurie.

Tantangan terberat dalam membangun startup, dalam pandangan Kurie adalah  educate market.  Coding  masih sering menghadapi beragam pertanyaan. Pertanyaan itu tidak hanya datang dari kalangan yang kurang terpapar, juga kalangan berpendidikan. Kurie berharap pemerintah tergerak memasukkan coding ke dalam kurikulum. Semoga cita-cita itu bisa tercapai. Coding itu bukan alternatif, harus menjadi pilihan. Kalau  ingin menjadi yang terdepan di abad ini, kita harus menguasai coding.

Mengubah Mindset

CEO Cody’s App Academy Wisnu Sanjaya menyampaikan, Cody’s App Academy adalah lembaga kursus yang mengajarkan  programming dan membuat game kepada anak-anak. Kurikulum disusun berdasarkan  pengalaman Wisnu. Bahkan Wisnu berani memaparkan visinya tersebut kepada sekolah-sekolah. Selama ini bermain game dianggap  buang-buang waktu. Wisnu ingin mengubah mindset masyarakat dan orangtua mengenai game. Melalui game kita bisa mengajak anak-anak untuk produktif dan kreatif. Wisnu sendiri mengawali karirnya sebagai gamer. Permasalahannya orangtua  menganggap hal itu negatif. “Padahal dari nintendo saya belajar bahasa. Saya belajar menggambar lewat game,” ujar Wisnu.

Bagaimana Wisnu menjaga asa sebagai gamer? Saat  SD, ia  tidak tahu lembaga untuk belajar game. Bermodalkan buku gambar dan pensil, Wisnu mengembangkan keahliannya. Selanjutnya ia kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual walaupun tidak berhubungan dengan game. Lulus kuliah Wisnu bekerja di sebuah studio game terbesar dan tertua di Indonesia. Berdasarkan pengalamannya tersebut Wisnu berpikir mengapa tidak ia  membuat startup.

Wisnu melihat sebuah masalah, di era digital ini orangtua sibuk dengan media sosial sementara anak sibuk dengan game. Namun  orangtua tidak tahu anak akan diarahkan ke mana. Kemudian  anak didaftarkan mengikuti kursus komputer. Ternyata belum juga menarik untuk anak. Cody’s App Academy ingin memberitahu orangtua dan masyarakat bahwa ada solusi untuk anak-anak yang sudah terpapar  game. Lebih baik  memberikan kesempatan kepada anak  untuk bermain. Itu adalah hak mereka. Namun mereka punya kewajiban untuk berkembang dan belajar. Menurut Wisnu, tidak banyak orangtua yang menemukan bakat anak sejak kecil. Orangtua bertanggung jawab agar anak  tetap produktif.  “Main game tidak masalah asal jangan berlebihan.  Di game itu ada codingnya, bagus untuk anak,” ujar Wisnu.

Digitalpreneur

Semua orang  bisa menjadi digitalpreneur. Apalagi warga Jakarta sudah akrab dengan dunia digital melalui pemanfaatan  aplikasi Gojek atau Grab. Data menunjukkan produk yang paling banyak dibeli orang secara online adalah apparel sebanyak 67,1% diikuti sepatu (20,2%), tas (20%), hingga buku (1,8%). “Kita hidup di era serba digital. Banyak hal yang bisa dilakukan dalam berdigital, seperti berkomunikasi dengan pihak lain sampai membangun usaha,” kata Andi Silalahi, Winner of Google Award Southeast Asia 2010 for UKM.

Andi bertanya, ‘siapa di sini saat membeli pakaian riset online tapi purchase offline, kenapa tidak langsung beli online?’ Supaya tahu perbandingan harga, model, dan warna. ‘Mengapa orang beli online tapi bayar offline?’ Karena takut penipuan. Andi mencontohkan, masyarakat di negara maju  seperti Korea, Australia, atau Amerika belanja menggunakan smartphone saat antri. Selanjutnya produk itu sampai bersamaan dengannya yang  tiba di rumah. “Mungkin beberapa tahun mendatang Indonesia  akan seperti itu,” tutur Andi, peraih Digital Marketing Leadership Award 2012.

Saat ini hidup menjadi mudah dengan berdigital. Fakta ecommerce di Indonesia menunjukkan ada 15,7 juta potential buyer dengan $20 miliar  online transaction. Online shoppers tercatat 7,2 juta dengan 62% melakukan riset online sebelum melakukan pembelian. Andi menjelaskan, uniknya di Indonesia riset online purchase offline. Butuh proses meningkatkan purchase behavior dari sisi online. Dari 57,7 juta total Small Medium Business (SMB) termasuk UKM di Indonesia,  hanya 10% yang berdigital. Entah itu memiliki website, social media, atau menggunakan internet untuk meningkatkan bisnis. “Hari ini Anda tidak harus menjadi pengusaha untuk berdigital. Sebelum menjadi digitalpreneur, dimulai dengan berdigital,” ujar Andi.

Dari 55 juta UKM  di Indonesia, 58% menyumbang ke GDP sementara  90%  meningkatkan lapangan pekerjaan. Keunikan lain dari Indonesia adalah social media yang dijadikan tempat berjualan. Padahal seharusnya tidak. Sementara di Filipina penjualan lebih banyak dilakukan di marketplace atau website.Website yang diibaratkan sebuah rumah harus lebih diutamakan. Berbeda dengan  social media yang lebih dinamis. Andi memberikan ilustrasi, foto yang Anda upload di social media dua minggu kemudian akan sulit ditrack. Namun   Anda bisa membuat online catalog atau kategori  produk di website. Maka website harus dibangun terlebih dahulu.

Andi menjelaskan, jika ingin mengikuti behavior masyarakat Indonesia silakan dimulai dengan social media yang diandaikan sebagai  pintu masuk menuju website. Ada dua pilar yang harus dibangun di dalam website, yaitu content dan komunitas. Misalnya, Anda menjual  makanan  untuk bayi enam bulan. Maka target Anda adalah ibu-ibu hamil. Anda harus pergi ke komunitas ibu-ibu hamil. Produk harus diupdate secara berkala. Kelemahan para pebisnis adalah tidak punya website atau memiliki website tanpa content dan  komunitas. Di Jepang pebisnis dari awal telah menetapkan kontennya secara kontinu. Melalui website Anda bisa menjangkau pelanggan selama 7 hari seminggu atau 24 jam sehari. Bahkan melalui google, seorang perajin di Yogyakarta misalnya bisa menargetkan market di Rusia. Atau  seorang ibu rumah tangga  tidak perlu meninggalkan rumah untuk membuka toko kue.

Advertisements
Bersama Membangun Indonesia melalui Startup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s