Gelombang yang Menumbuhkan Optimisme

foto8
Sepatu karya Dreamdelion Yogyakarta  (sumber Instagram: @dreamdelion)

Masa depanmu sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang.

Anak muda yang tak kalah membanggakan dalam menjadi Jogja menjadi Indonesia adalah Alia Noor Anoviar, pendiri Dreamdelion. Komunitas yang fokus pada pemberdayaan masyarakat tersebut didirikan pada 2012. Dreamdelion berasal dari  dua suku kata, dream dan delion. Dream itu mimpi, delion diambil dari bunga dandelion yang terbang saat ditiup. Filosofi Dreamdelion adalah  menyebarkan mimpi.

Alia membentuk Dreamdelion   setelah mendapatkan kesempatan pertukaran mahasiswa ke Thailand selama empat bulan. Di sana Alia mempelajari  social business yang digerakkan kaum muda  ternyata bisa membantu masyarakat. Sekembalinya ke Indonesia  Alia bercita-cita social business tersebut  diterapkan di Indonesia. Awalnya Dreamdelion tidak langsung mengarah ke  perekonomian masyarakat, melainkan pengembangan  komunitas. Bermula dengan  sanggar yang dibina Alia bersama teman-temannya. Terasa kebermanfaatan sanggar untuk anak-anak. Mereka lebih semangat belajar dan singgah di perpustakaan.

Setelah itu Dreamdelion mengadakan  kegiatan dengan merujuk kepada  fenomena di wilayah itu, misalnya gizi buruk. Semuanya dilakukan secara bertahap. Tentunya itu semua tidak lepas dari evaluasi. Dari sanggar Alia mencoba  mengembangkannya menjadi sebuah entitas bisnis untuk mendukung kegiatan sosialnya hingga dinamakan Dreamdelion. Alia  melibatkan masyarakat sebagai pembuat produk, tidak hanya mengambil dari pihak ketiga. Alia berharap generasi muda menelurkan karya yang tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri, juga  masyarakat. Gunakan social media untuk  mengembangkan karya tersebut.

foto3
Energi positif yang dikelola menjadi gerakan positif

Marketing and Branding Manager Yayasan Dreamdelion Indonesia Evaulia Nindya Kirana memaparkan, Dreamdelion beroperasi di Jakarta dan Yogyakarta serta tengah mengembangkan Ngawi. Di Yogyakarta, Dreamdelion menyasar Moyudan. Di sana mereka  mengembangkan perajin tenun stagen. “Seiring dengan hadirnya korset modern, stagen tidak digunakan lagi,” tutur Eva yang lahir di Kediri, 3 Oktober 1994.

Ada tiga program Dreamdelion, yakni kreatif, sehat, dan cerdas.  Dreamdelion Sehat  memberikan penyuluhan seperti pola hidup sehat dan pengembangan  tanaman organik. Dreamdelion mengajak siapapun  berkontribusi, misalnya menjadi trainer atau volunteer. Trainer bertugas  mengajarkan masyarakat menanam tanaman vertikultur atau tanaman pewarna alam hingga pembibitan lele.

Dreamdelion Cerdas memberikan pengajaran di sanggar belajar dua minggu sekali. Dreamdelion sering berkolaborasi dengan komunitas lain untuk melakukan kegiatan pembelajaran di sana. Fokusnya adalah  pendidikan karakter misalnya berperilaku jujur hingga mengasah kreativitas. Sementara itu Dreamdelion Kreatif  mengajarkan kaum ibu mengenai capacity building untuk mengembangkan sebuah produk. Bagaimana mengembangkan masyarakat dengan pendekatan bisnis. Di  Manggarai pengembangan bisnis dilakukan dengan  membuat produk-produk recycle. “Transform social problem to social business opportunity,” tutur Eva yang menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Eva mengisahkan, perajin stagen di  Moyudan menenun untuk mendapatkan penghasilan di samping pekerjaan utama mereka sebagai petani. Penghasilannya  Rp 18 ribu per 10 meter padahal mereka menenun dengan alat tenun bukan mesin. Bagaimana stagen dikembangkan  menjadi produk? Dreamdelion lalu bekerja sama dengan salah satu social business di Yogyakarta untuk mengembangkan stagen menjadi bermotif. Produk turunannya antara lain, tas, kaos, hingga sepatu. Dreamdelion fokus pada pendampingan masyarakat, bukan berbisnis. Tujuannya membuat masyarakat lebih mandiri.

Saat ini masyarakat tengah mengembangkan koperasi dan  desa wisata. Beberapa waktu lalu Eva diamanahkan oleh Dreamdelion untuk menjadi project officer Pasar Tenun Rakyat. Kegiatan yang diadakan dalam acara itu adalah tur desa, workshop tenun, workshop pewarnaan alam, latihan tari tradisional, sampai konservasi lahan. Dreamdelion tidak hanya menyasar isu sosial dan budaya, juga alam.

Eva mengenang Dreamdelion pernah ditolak  masyarakat  karena dianggap masih mahasiswa. Namun mereka gigih ingin  membantu masyarakat. Hingga Dreamdelion memperoleh kepercayaan dari masyarakat. Dreamdelion mengadakan pelatihan pembuatan produk. Selanjutnya produk diserap dengan kontrol dari Dreamdelion. Proses pendekatan yang biasanya dilakukan Dreamdelion membutuhkan waktu 3-6 bulan.

Eva bersyukur dengan keberadaan volunteer di Dreamdelion yang kini berjumlah  2.000 orang. Ia menilai volunteer menjadikan Dreamdelion  semakin berkembang karena power word of mouthnya besar. Walaupun di awal kegiatan masih sulit mendapatkan volunteer karena  mereka mengira kegiatan ini  tidak jelas. Eva percaya siapapun bisa melakukan sesuatu yang positif. Menularkan energi  positif untuk sesuatu yang positif juga. “Hambatan lainnya adalah funding karena kami tidak bisa menjalankan program tanpa funding,” tutur Eva.

Eva memberi saran agar kita mudah diterima masyarakat. Pertama, jangan memaksakan sesuatu ke mereka. pendekatannya ekstra sabar. Kedua,  bawa diri sedekat mungkin dengan masyarakat. Ketika kita sudah mulai dekat dengan masyarakat, persoalan akan terlihat. Ketiga, persoalan sebaiknya diselesaikan dengan berinteraksi ketimbang program. Keempat, mendekatkan diri secara personal dengan  orang yang paling berpengaruh di wilayah itu,  misalnya kepala desa atau kepala dusun.

Eva yang baru saja kembali dari Flores setelah melakukan kegiatan community service selama 1,5 bulan menyampaikan, interaksi dengan masyarakat menyadarkannya bahwa sebenarnya pembangunan di Indonesia belum merata. Kadang kita masih ragu apa yang bisa dilakukan, apakah yang dilakukan ini merupakan hal yang besar. Bagi Eva, perubahan juga bisa terjadi meskipun  hanya dalam lingkup kecil. Kita masih punya energi yang banyak. Gunakan energi itu untuk melakukan sesuatu yang positif.

Advertisements
Gelombang yang Menumbuhkan Optimisme