Film My Generation: Kids Zaman Now Versus Orangtua Zaman Old

foto My Generation
Saksikan film My Generation yang tayang pada 9 November mendatang. (Sumber foto: Instagram @mygenerationfilm)

“sudah tinggalkan, tinggalkan saja
semua persoalan waktu kita sejenak
tuk membebaskan pikiran
dan biarkan, biarkan terbang tinggi
sampai melayang jauh menembus awan.”

Lagu yang dipopulerkan Iwa K itu sepertinya mewakili perasaan empat sekawan, yakni Orly, Suki, Zeke, dan Konji. Di fase remaja masing-masing dari mereka dihadapkan pada lika-liku kehidupan yang mendewasakan. Orly harus menerima fakta ibunya, seorang single parent yang menjalin hubungan dengan pria yang usianya tidak berbeda jauh dengan anaknya. Suki yang cenderung pemberontak harus berhadapan dengan orangtuanya yang penuntut. Zeke harus menanggung kepedihan dianggap sebagai penyebab kematian adiknya. Konji selalu dibayang-bayangi perbandingan kehidupan masa kanak-kanak orangtua dan dirinya.

Latar belakang itu yang menyatukan mereka. Puncaknya video yang empat sekawan itu buat viral. Video yang berisi protes terhadap sekolah dan orangtua membuat mereka dihukum oleh kepala sekolah tidak boleh liburan ke luar kota. Bukan remaja namanya jika tidak kreatif. Mereka mengisi liburan dengan melakukan hal-hal konyol selayaknya remaja, seperti naik ke atap mall hingga dikejar satpam atau merusak mobil pria yang memutuskan jalinan percintaan dengan Suki. Sayangnya kebersamaan itu dinilai orangtua sebagai hal yang merusak. Seperti orangtua Konji yang menilai Zeke telah merusak masa muda anaknya. Atau Suki yang memandang tiga temannya lebih mengerti dirinya dibandingkan orangtuanya sendiri.

Saat menonton premiere film My Generation pada 2 November 2017 lalu saya melihat adanya perbedaan cara pandang antara orangtua dan anak atau generasi masa kini dan generasi masa lampau. Generasi masa kini melihat kebebasan berekspresi sebagai sarana menjawab pertanyaan sulit dipecahkan, seperti yang dialami Orly dengan eksperimen menghilangkan keperawanan. Ia menilai seorang perempuan berhak menentukan waktu terbaik untuk melepas keperawanannya. Atau Suki, remaja perempuan yang memilih musik rock sebagai wadah meluapkan kemarahannya terhadap orangtua yang tidak menyetujui pilihannya itu. Ia lelah dituntut menjadi anak baik-baik versi orangtuanya.

Selain itu saya melihat anak muda yang berani menyuarakan kegelisahannya terhadap fakta yang mereka hadapi. Perihal setumpuk tugas dari guru yang dinilai sangat memberatkan. Ketika semua tugas itu dikirimkan via email, orangtua memandang anak menghabiskan banyak waktu hanya di depan laptop tanpa kejelasan. Anak juga harus mempersembahkan nilai bagus kepada orangtua. Nilai 80 misalnya yang menurut anak dikejar dengan usaha maksimal nyatanya di mata orangtua masih kurang. Hingga empat sekawan itu menilai sekolah itu menjemukan. Sekolah ditiadakan saja!

Beberapa adegan yang ditampilkan di film My Generation sekilas membawa saya kepada kenangan masa remaja yang berwarna. Terkadang harus patuh di hadapan orangtua, terkadang berdebat dengan orangtua yang berujung pada pertengkaran. Terkadang berbuat kenakalan khas remaja bersama teman-teman seperti membolos atau mencontek saat tes. Pengalaman dengan kesan baik dan buruk itulah yang membentuk pribadi saya saat ini.

Demikian halnya dengan kisah Orly, Suki, Zeke, dan Konji. Di akhir film setiap tokoh itu berdamai dengan orangtua dan dirinya sendiri. My Generation menunjukkan bahwa tidak ada salahnya orangtua meminta maaf di depan anak. Orly dan sang ibu saling berpelukan sambil berderai air mata melepas semua kesalahpahaman yang selama ini terjadi. Suki dan orangtua saling meminta maaf. Zeke dan orangtua menata hidup dari awal, membiarkan masa lalu pergi sambil mengharapkan masa depan yang lebih baik. Orangtua Konji tak lagi menilai generasinya yang paling baik, menerima generasi sekarang apa adanya. Bagi mereka, setiap generasi memiliki nuansa berbeda.

 

Saling Belajar

Upi, sang sutradara cukup berani menampilkan empat pemain utama  yang terbilang baru di kancah perfilman Indonesia. Upi ingin pemain dengan usia yang tak terbilang jauh dengan remaja masa kini. Ia kurang nyaman bila menghadirkan pemain yang sudah terkenal tapi usia yang dipaksakan mendekati remaja. Workshop dan reading selama empat bulan dari Senin sampai Sabtu pukul 09.00-18.00 serta sesi latihan gitar dan skateboard berbuah akting yang mampu menyejajarkan mereka dengan pemain senior. Karina Suwandi, Ira Wibowo, Aida Nurmala, dan Surya Saputra, beberapa nama pemain senior di film My Generation.

Usai pemutaran film empat pemain utama ditanya apakah ada perbedaan antara karakter yang mereka perankan dengan diri mereka yang sebenarnya. Zeke mengaku dirinya kalem, bukan pribadi pemberontak seperti di film. Orly menilai karakternya hampir mirip yaitu gemar membaca, menyukai sejarah, dan kritis. Konji mengaku sama dengan karakter yang dimainkannya yaitu pendiam. Sementara Suki menilai karakter yang diperankannya dipenuhi problematika, berbeda dengan dirinya yang tenang.

Anda tertarik menonton film My Generation? Ajak buah hati yang telah beranjak remaja. Dampingi mereka memahami setiap adegan di film yang akan tayang pada 9 November mendatang. Mari kosongkan gelas, siap menerima wawasan baru. Orangtua dan anak bisa saling belajar dari film tersebut. Orangtua harus memahami anak, demikian sebaliknya. Masing-masing generasi menghadapi tantangan kehidupan yang berbeda. Tidak ada generasi yang buruk, tidak ada generasi yang lebih baik. Semua saling melengkapi, menjadikan Indonesia seperti sekarang ini.

 

Advertisements
Film My Generation: Kids Zaman Now Versus Orangtua Zaman Old