Hatiku Tertambat di Jayapura

Danau Sentani tampak dari Ifar Gunung
Danau Sentani tampak dari Ifar Gunung

Sesaat sebelum pesawat mendarat di Bandara Sentani, Jayapura dari balik jendela pesawat terlihat daratan hijau yang tersebar di lautan tak berbatas. Bukit dengan barisan pohon dan gunung dengan kabutnya seolah menyambut penulis untuk travel saat menginjakkan kaki di Bandara Sentani awal April 2013 lalu. Sepanjang perjalanan menuju Jayapura, mata disejukkan dengan keteduhan air Danau Sentani di sisi kanan. Kontras di sisi kiri bukit kapur menjulang menunjukkan kemegahannya.

Jayapura merupakan ibukota Provinsi Papua, provinsi paling timur di Indonesia. Di Jayapura terdapat beberapa objek pariwisata yang tak kalah dengan daerah lain. Sebut saja Skyline, Tugu MacArthur, Jayapura City, Kupang, hingga Stadion Mandala.

Skyline, berada di sebelah kanan jalan dari Abepura menuju Jayapura. Sambil menikmati sejuknya es kelapa dan dibelai oleh hembusan angin, mata dihadapkan pada birunya Teluk Jayapura dan Teluk Youtefa serta perahu nelayan dengan tebaran jala.

Sederet kios yang menjual kelapa muda menjadi pilihan untuk sekadar bersantai dari hiruk pikuknya aktivitas kota yang menjemukan. Satu butir kelapa muda dijual dengan harga Rp 15 ribu. Pengunjung dapat memilih kelapa muda dilengkapi es dan sirup atau tidak.

Kios dengan pemilik orang asli Papua itu hanya beroperasi hingga pk 17.00. Lewat dari itu kios ditutup. Jalan yang semula dipenuhi dengan keriuhan pengunjung mendadak sepi. Penerangan hendaknya menjadi perhatian pemerintah kota sehingga Skyline tidak rawan akan kejahatan.

Tugu MacArthur
Tugu MacArthur

Berlanjut dengan kunjungan ke Tugu MacArthur. Tugu tersebut dapat ditempuh dari Jayapura selama 45 menit. Melewati jalan berkelok-kelok, mata dimanjakan dengan pemandangan rimbunnya pohon di kiri dan kanan jalan serta gugusan Pegunungan Cyclops. Dari ketinggian dapat disaksikan Danau Sentani dan aktivitas Bandara Sentani dengan pesawat yang tinggal dan lepas landas. Pengunjung dapat memilih duduk di pondok, kursi, atau rumput.

Pada Perang Dunia II, pasukan sekutu yang dipimpin Kepala Staf Angkatan Darat AS Jenderal Douglas MacArthur tiba di Papua untuk mengusir tentara Jepang yang menduduki wilayah tersebut. Tentara AS menjadikan Ifar Gunung yang sekaligus menjadi lokasi Tugu MacArthur sebagai basis pertahanan. Lokasi tersebut dipilih MacArthur sebab dari atas bukit  terlihat jelas Bandara Sentani dan Danau Sentani. Dengan demikian MacArthur dapat melihat pergerakan pesawat tempurnya.

Di badan tugu MacArthur tertulis teks berbahasa Indonesia dan Inggris yang menjelaskan bahwa lokasi tersebut dulunya adalah markas pasukan sekutu untuk wilayah Pasifik Barat Daya. Kawasan tersebut kini difungsikan sebagai kompleks Resimen Induk Daerah Militer (RINDAM) XVII Cenderawasih.

 

Jayapura City

Jayapura City dapat ditempuh melalui Polimak. Dari Jayapura memakan waktu 30 menit. Jika menggunakan motor, pilihlah motor yang tangguh karena medan pendakian yang curam dan tikungan yang cukup membahayakan. Perlu esktra hati-hati untuk melewatinya. Di sepanjang jalan menuju Jayapura City terdapat beberapa stasiun pemancar TV.

Disebut Jayapura City karena terdapat tulisan besar Jayapura City di rangka baja yang terlihat dari seluruh penjuru kota. Saat malam, tulisan ini berpendar bersama ribuan cahaya yang muncul dari lampu rumah penduduk, bagai kunang-kunang yang berpencar di kegelapan malam.

Kota Jayapura dilihat dari Jayapura City
Kota Jayapura dilihat dari Jayapura City

Jayapura City adalah tempat terbaik menyaksikan kota Jayapura dan Samudera Pasifik serta aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Jayapura dari ketinggian terutama pada malam hari. Sayangnya proteksi terhadap keselamatan pengunjung luput dari perhatian pemerintah. Bila kurang waspada, nyawa menjadi taruhannya.

Dari wisata di bukit mari beralih ke wisata di pantai. Kupang merupakan singkatan dari ‘bangku panjang’, merupakan ajang berkumpulnya anak muda di tepi pantai. Sambil menikmati debur ombak dan belaian angin pantai, dapat mencicipi bakso atau mie ayam yang tersaji di pinggir jalan. Dari kejauhan dapat disaksikan kapal-kapal besar yang hilir mudik. Kupang terletak di Dok II, tepatnya di depan kantor gubernur Provinsi Papua. Bangku panjang yang dimaksud adalah kursi berkeramik dengan panjang lebih kurang 500 meter. Kupang ramai dikunjungi menjelang sore dan malam Minggu. Sekumpulan anak muda tampak ada yang asyik berpacaran, ada pula yang duduk sendiri. Warga Jayapura menjadikan Kupang sebagai pilihan untuk melepas penat setelah seharian berkutat dalam rutinitas.

Stadion Mandala 2
Stadion Mandala

Stadion Mandala merupakan salah satu ikon kota Jayapura. Stadion itu dapat menampung kira-kira 30 ribu penonton. Pada momen pertandingan, Stadion Mandala menjadi ajang berkumpulnya Persipuramania yang merupakan pendukung setia kesebelasan Persipura. Warga Jayapura sangat mendukung tim kebanggaannya itu. Lagu, yel-yel, dan sorak sorai disuarakan secara kompak. Bagi mereka, Persipura adalah mutiara hitam yang senantiasa berkilau di antara kesebelasan lainnya di Indonesia.

Pada 2009 stadion ini direnovasi dengan tujuan menjadikan stadion berstandar internasional.  28 April 2013 lalu, stadion ini menjadi saksi pertandingan antara Persipura melawan Gresik United. Sementara pada 2 Mei 2013, Persipura beradu dengan Arema dalam rangkaian Indonesia Super League.

 

Pinang

Bagi orang asli Papua, baik tua maupun muda, lelaki maupun perempuan, pinang tak bisa dilepaskan dari keseharian. Maka tak heran di tempat-tempat umum bahkan hingga ke pelosok kampung dapat dijumpai penjual pinang. Di lingkungan pemerintahan sekalipun masih banyak dijumpai pegawai yang mengunyah pinang sambil menjalankan pekerjaan. Pinang bagaikan urat nadi yang menyemangati orang Papua dalam bekerja. Ibarat sayur tanpa garam. Sayangnya pemandangan membuang ludah pinang sembarangan menjadi sesuatu yang jamak dijumpai. Oleh karena itu di lokasi yang ramai dikunjungi akan mudah dijumpai pengumuman ‘dilarang membuang ludah pinang sembarang”.

Jalan Percetakan di kota Jayapura merupakan pusat bisnis. Jejeran toko menjual aneka kebutuhan. Bangunan tempo dulu menjadi bukti bahwa kawasan ini telah lama menjadi denyut nadi kota Jayapura. Terdapat beberapa hotel seperti Hotel Matoa dan Hotel Aston. Tak jauh dari sana terdapat Mall Jayapura.

Papeda lengkap dengan tumis kangkung bunga pepaya dan ikan kuah kuning
Papeda lengkap dengan tumis kangkung bunga pepaya dan ikan kuah kuning

Sarana transportasi di kota Jayapura terintegrasi dengan baik. Hal itu memudahkan warga  mencapai tujuan. Sayangnya pk 20.00 ke atas, kendaraan umum sulit ditemui. Namun tidak perlu kuatir karena masih ada ojek yang siap mengantar. Menjadi peringatan adalah selalu berhati-hati karena kondisi jalan yang minim penerangan memudahkan mereka yang berniat jahat untuk menjalankan aksinya.

Karena letaknya di ujung timur Indonesia, harga barang kebutuhan pokok seperti makanan dan pakaian lebih mahal bahkan hingga mencapai dua kali lipat dibanding kota-kota di Pulau Jawa. Hal itu wajar dipandang karena biaya pengiriman yang besar. Papeda merupakan makanan khas Papua yang wajib dicicipi. Rasa tawar papeda berpadu dengan asamnya  ikan kuah kuning serta pahit gurihnya tumis kangkung bunga pepaya dan pedasnya sambal tomat. Masing-masing menyumbangkan rasa yang saling melengkapi.

Secara keseluruhan wisata ke Jayapura memberi kesan tersendiri di sanubari. Berinteraksi tidak hanya dengan orang asli Papua, juga dengan pendatang dari daerah lain di Indonesia memberikan wawasan baru untuk mengakui bahwa perbedaan itu indah bila disikapi dengan keterbukaan pikiran dan hati.

Advertisements
Hatiku Tertambat di Jayapura

YAPEDA Timika, Tak Henti Sosialisasikan HIV/AIDS

Tak ada kata final dalam menyebarluaskan informasi mengenai HIV/AIDS. Mengajak kaum muda sebagai agen perubahan di masyarakat.

Pada 12 Desember 2003 Yayasan Peduli AIDS (YAPEDA) dibentuk di Timika, Papua. Yayasan tersebut beranggotakan masyarakat yang peduli akan masalah HIV dan AIDS di Kabupaten Mimika.  Pendirian YAPEDA dilatarbelakangi ditemukakannya kasus HIV untuk pertama kalinya di Merauke tahun 1986. Sepuluh tahun kemudian kasus yang sama ditemukan di Timika. Mulai tahun 1998 sekelompok orang peduli  dan memberikan sumbangan tersendiri dalam pemberantasan penularan HIV hingga berdirilah YAPEDA.

Visi YAPEDA adalah menjawab kebutuhan masyarakat di bidang sosial dan kemanusiaan. Sementara misi YAPEDA adalah memberi perhatian khusus  pada isu HIV dan AIDS serta berusaha menanggulangi dengan memberikan informasi dan edukasi khususnya kepada kaum muda. YAPEDA yang dipimpin oleh Pastor Lambertus H. Hagendoorn OFM memiliki tiga program sebagai berikut pertama, Pemuda Indonesia Lawan AIDS (PILA) dengan fokus pendampingan remaja untuk terlibat aktif dalam setiap aktivitas sosial; kedua, Program Panti Asuhan     yang menampung anak-anak korban HIV dan AIDS dalam suasana kekeluargaan dengan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan kehidupan yang layak; ketiga, Program Lingkungan; serta keempat, Program Kesehatan bersama KINERJA-USAID yang telah berakhir.

Tahun 2009-2012 YAPEDA bekerja sama dengan UNDP dalam program peningkatan mutu layanan kesehatan kepada masyarakat dengan menggerakkan puskesmas dan para kader Komisi Penanggulangan AIDS dan Kesehatan Kampung (KOMPAKK) yang dibentuk YAPEDA. Selain itu YAPEDA terlibat dalam pendampingan terhadap Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA)  yang didominasi ibu dan anak. YAPEDA memandang isu kesehatan ibu dan anak (KIA) berkaitan erat. Untuk itu YAPEDA menilai perlu berperan serta dalam program pengembangan pelayanan KIA.

Sejak Juli 2013 YAPEDA bekerjasama dengan KINERJA-USAID dalam meningkatkan pelayanan kesehatan terutama KIA. Fokus utamanya adalah “good governance” terutama di bidang kesehatan. Sebagai langkah awal YAPEDA mendatangi masyarakat di tiga wilayah sasaran, yaitu Distrik Mimika Timur, Distrik Iwaka, dan Distrik Mimika Baru.

Dalam perjalanannya YAPEDA telah memberi dukungan kepada ODHA dan orang yang hidup dengan ODHA (OHIDHA). Tindakan yang juga penting adalah kepedulian masyarakat terhadap masalah AIDS diwujudkan dengan langkah-langkah penanggulangan HIV dan AIDS. Dengan demikian YAPEDA mampu mengubah penderitaan menjadi tekad dan tindakan yang membawa perubahan.

Kaum Muda

Pada 30 Mei 2015 lalu PILA mengadakan kegiatan Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) bersama masyarakat Wonosari Jaya. Diharapkan dari kegiatan tahunan tersebut masyarakat mendapatkan pengetahuan, bukan hanya bahaya penularan HIV dan AIDS, juga bagaimana mereka merangkul ODHA dengan kasih. Kehadiran masyarakat dalam kegiatan tersebut membuktikan bahwa banyak pihak yang ingin memberikan    konstribusi dan berkomitmen terhadap permasalahan HIV/AIDS di Kabupaten Mimika.

Sebelumnya PILA telah mengadakan serangkaian kegiatan yang melibatkan siswa/i tingkat SLTP yakni penyuluhan tentang HIV/AIDS yang dipaparkan oleh  penyuluh sebaya serta lomba dekorasi kelas dan menyusun kata bertemakan HIV/AIDS dilanjutkan dengan penjelasan siswa mengenai HIV/AIDS. Perlombaan itu diselenggarakan dengan tujuan mengaktifkan pemahaman siswa terhadap isu HIV/AIDS dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan pendapat.

Kegiatan penyuluhan bukan hal baru untuk Yapeda. Setiap tahun kegiatan tersebut diadakan dengan menyasar siswa tingkat SLTP, SMU, dan SMK. Dengan demikian akan lebih mudah bagi mereka untuk memberitahukan arti HIV/AIDS serta mengajak dan menyadarkan bahaya HIV/AIDS kepada teman-teman sebaya. YAPEDA memandang tidak boleh ada kata berhenti dalam memberikan penyuluhan dan penyebaran informasi kepada generasi muda.

Pelatihan Penyuluh Sebaya (PPS) merupakan langkah awal regenerasi anggota PILA. Dibentuk pada 7 Oktober 2003, PILA bertujuan menyelamatkan generasi muda dari ancaman HIV/AIDS, narkoba, miras, dan lain-lain. Dalam pelatihan tersebut, peserta diajarkan keterampilan untuk mengenal kepribadian, skill, dan materi HIV/AIDS, kesehatan reproduksi, serta Infeksi menular Seksual (IMS). Selain penyuluhan untuk remaja, PILA juga terlibat dalam penyuluhan kepada remaja-remaja di organisasi sosial maupun non sosial seperti komunitas di Timika.

Dari 4.072 kasus HIV di Timika sejak 1996 hingga 2014, dua persennya menimpa orang muda. Pastor Lambertus memandang jumlah orang muda dengan HIV/AIDS akan terus bertambah mengingat mereka kurang mampu mengendalikan diri dari pola hidup tidak sehat seperti berganti-ganti pasangan saat melakukan hubungan seksual dan lainnya. Perilaku seks bebas jamak dilakukan oleh kaum muda Timika saat kelulusan sambil mengonsumi miras. Data riil di lapangan akan lebih besar ketimbang yang tercatat.

Sebagaimana yang termuat dalam website Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Triwulan IV tahun 2014, tercatat jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Desember 2014 sebanyak 160.138. Jumlah infeksi HIV tertinggi yaitu di DKI Jakarta (34.641), Jawa Timur (20.761), Jawa Barat (13.938), Bali (10.188), dan Papua (7.365). Sementara itu persentase kumulatif AIDS tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun (32,2%), 30-39 tahun (29,1%), 40-49 tahun (11,4%), 50-59 tahun (3,7%), dan 15-19 tahun (3,1%).

Remaja merupakan salah satu komunitas selain perempuan dan buruh migran yang berpartisipasi pada Pra Pernas AIDS yang akan diadakan pada 25 dan 26 Oktober 2015 mendatang di Makassar. Tujuan diadakan program komunitas adalah memfasilitasi diskusi, konsolidasi, dan penyusunan rekomendasi sebagai bahan masukan dari komunitas terkait isu-isu penting penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia.

YAPEDA Timika, Tak Henti Sosialisasikan HIV/AIDS

Sinergi Hobi dan Bisnis

Nadine Chandrawinata berusaha menyinergikan hobi diving-nya dan bisnis resort di Raja Ampat, Papua yang dijalankan bersama dua adiknya sejak 2011. “Sudah berdiri tiga resort dari delapan resort yang direncanakan,” kata Nadine penuh antusias.

Bisnis resort merupakan bisnis ketiga setelah salon Gluck dan Gudang Café yang sering dijadikan lokasi pameran foto gratis. Ia menilai inilah medan untuk melatih diri berbisnis. “Saya belum tertarik membuka resort di daerah lain, saya ingin fokus mengembangkan resort di Raja Ampat,” jawab Nadine dengan semangat.

Nadine berharap bisnis resort-nya mampu menarik wisatawan Indonesia mengunjungi Papua yang terletak di timur Indonesia. Oleh karena itu menurutnya biaya penerbangan menuju Papua harus terjangkau. Ia memberi ilustrasi, 80 persen pemilik resort di Raja Ampat adalah orang asing mengingat mahalnya tiket penerbangan dan akomodasi di Raja Ampat.

Nadine memandang Raja Ampat yang terletak di barat Papua itu memiliki potensi laut dan gunung yang belum banyak tergali. “Mereka yang senang laut, bisa diving. Yang senang gunung, bisa hiking,” tutur Nadine yang saat ini tengah menyelesaikan buku travelling berjudul Nadrenalin.

Energi yang meluap dari dalam diri Nadine untuk mengerjakan apa yang disukai ditanggapi serius oleh pemda setempat. “Mereka menilai usaha saya mampu menggerakkan ekonomi daerah,” ujar Nadine yang merasa langkahnya dimudahkan dengan title Putri Indonesia. Berbagi kebahagiaan merupakan prinsip Nadine dalam berbisnis. Wujudnya adalah menggerakkan penduduk lokal sebagai tenaga kerja di resort-nya. “Saya dan adik-adik harus lebih disiplin mengingat banyak orang yang bergantung pada bisnis ini,” tegas Nadine.

Tak berhenti sampai di situ, Nadine membentuk sekolah alam. Ia turun langsung memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai larangan membuang sampah sembarangan atau mengincar telur penyu dan hiu. “Saya sendiri menerapkan apa yang saya ajarkan yaitu dengan tidak menebang, mempertahankan pohon yang tumbuh di tengah bungalow. Keberadaan pohon itu membuat bungalow terlihat unik,” kata Nadine sambil tersenyum. Wanita berusia 28 tahun itu ingin menyampaikan pesan bahwa untuk menikmati keindahan alam dibutuhkan perjuangan dan kesabaran. [Ignasia]

*Artikel ini dimuat di Majalah Jia Xiang, Maret 2012

Sinergi Hobi dan Bisnis