Menjawab Tantangan Jaman melalui Pengembangan Pariwisata Berbasis Koperasi

Care, share, dan fair menjadi falsafah dalam koperasi. Pariwisata sebagai penggerak kehidupan masyarakat menjadi penting melalui koperasi.

Sebuah kota di Jepang sukses mengembangkan pariwisata. Dampak lanjutannya adalah kemajuan UKM  dari hulu ke hilir yang menciptakan kesejahteraan masyarakat.  Konsep itu kemudian dikembangkan di Indonesia dengan pengelolaan wisata melalui koperasi. Kementerian Koperasi mencoba mensupport pengelolaan wisata agar dapat dinikmati oleh masyarakat setempat di masa mendatang,  bukan investor.

Pariwisata Bali tidak dinikmati oleh orang Bali itu sendiri. Awalnya Kuta dibangun dengan konsep homestay. Namun demi pendapatan asli yang tinggi, datanglah investor yang membangun hotel. Pemiliknya adalah orang asing sementara orang Bali  menjadi kuli. Oleh karena itu di Bali ada  destinasi wisata yang dikelola oleh koperasi. Salah satunya di Batur untuk penyeberangan ke Trunyan yang difasilitasi tahun 2005. Dulu ada lima bantuan kapal untuk penyeberangan yang kini menjadi  15. Selain itu bantuan satu kapal untuk  penyeberangan ke  Gili Trawangan pada  2012 yang sekarang menjadi lima kapal. Artinya perkembangan bisnis pariwisata yang dikelola koperasi itu luar biasa. Masyarakat  yang menikmati.

Esensinya  koperasi itu dari, oleh dan untuk anggota. Bagaimana  mengembangkan destinasi wisata dengan  capacity building yang dimiliki masyarakat. Sebab pariwisata itu menjual jasa. Kalau masyarakat  tidak ramah, jangan pernah berharap wisatawan akan datang seindah apapun destinasi itu. Dahulu di Bali hampir setiap wisatawan dihampiri masyarakat yang menjual souvenir. Mereka mengeluh karena hal itu mengganggu. Setelah itu masyarakat dididik untuk  menghargai tamu. Dengan cara demikian  wisatawan semakin nyaman datang ke Bali. Jika masyarakat dilibatkan dalam pariwisata,  penyerapan tenaga kerja dan devisa meningkat.

Kementerian Pariwisata memproyeksikan pada 2020 sektor pariwisata menjadi  penyumbang devisi tertinggi mengalahkan gas, batu bara, dan kelapa sawit. Posisi saat ini masih di rangking empat.  Target lainnya adalah tahun  2019 wisatawan mancanegara sejumlah 20 juta dan wisatawan nusantara 275 juta. Untuk itu diperlukan kerja keras. Indeks daya saing pariwisata Indonesia pada 2015 berada di posisi 50 dari 141 negara. Tahun sebelumnya  di posisi 70, artinya ada kenaikan yang cukup signifikan. Diprediksi pada tahun ini indeks daya saing pariwisata di angka 30.

Untuk itu  pemerintah telah menetapkan strategi, yakni   pengembangan pariwisata melalui empat pilar, yaitu pengembangan destinasi, pengembangan pemasaran, pengembangan industri pariwisata, dan pengembangan kelembagaan. Fokusnya adalah sumber daya manusia (SDM). Dari  empat pilar tersebut  pemerintah telah melakukan beberapa hal, diantaranya  anggaran pemasaran sebesar  Rp 3 triliun yang semula  Rp 300 miliar. Maka  promosi  gencar dilakukan. Di sisi lain meningkatkan destinasi dalam komponen perwilayahan, aksesibilitas, atraksi, pemberdayaan masyarakat, dan investasi.

Masyarakat tidak kalah penting dalam pengembangan pariwisata selain  pemerintah pusat, pemerintah daerah,  pemerintah kabupaten/kota, akademisi, pelaku industri,  dan media. Bagaimana masyarakat bisa menjadi tuan rumah yang baik untuk keberlangsungan pembangunan pariwisata serta bagaimana masyarakat bisa menciptakan kondisi yang kondusif di dalam destinasi pariwisata agar pembangunan pariwisata bisa berjalan dengan baik. Tentunya bagaimana masyarakat bisa mendapat manfaat ekonomi dari kegiatan kepariwisataan. Kalau mereka belum  menikmati hasil dari kegiatan kepariwisataan, keamanan terganggu.  Ini sebenarnya mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Bagaimana masyarakat bisa menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan, keindahan, dan keramahan. Kalau hal tersebut berjalan, aktivitas kepariwisataan di sebuah destinasi akan berkembang lebih baik. Kementerian Pariwisata  menggerakkan masyarakat untuk menjaga destinasinya agar kondusif. Selain itu melakukan beberapa program peningkatan kapasitas usaha masyarakat dengan membimbing mereka memasuki industri sebab  potensinya sangat banyak. Rantai pariwisata seperti transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, hingga atraksi memiliki  potensi usaha. Bagaimana masyarakat mengakses hal itu untuk pengembangan  usaha. Bagaimana pelaku usaha  mengakses permodalan? Tentunya melalui pelatihan dan bimbingan teknis.

Tahun 2009 Kementerian Pariwisata mengembangkan desa wisata dengan konsep community based tourism. Bagaimana masyarakat menggali potensi  di lingkungan mereka untuk dijadikan  atraksi yang bisa dijual dan  dikelola oleh masyarakat. Kementerian Pariwisata menetapkan standar untuk kenyamanan wisatawan, yakni satu rumah maksimal lima kamar yang disewakan. Lebih dari  itu wisatawan dan masyarakat  tidak dapat berinteraksi dengan baik. Setelah dilakukan evaluasi, mereka yang berhasil    adalah bottom up sebab masyarakat betul-betul mengelola. Pengembangan desa wisata  dari top down tidak akan berjalan. Banyak sekali masyarakat yang mengembangkan desa wisata yang betul-betul dari masyarakat, dikelola masyarakat, dan masyarakat sebagai pemilik desa wisata tersebut.

Kementerian Pariwisata  bekerja sama dengan Kementerian Koperasi  mengarahkan kelompok sadar wisata sebanyak 1.440 di seluruh Indonesia yang diarahkan untuk membentuk koperasi.  Para pedagang di destinasi wisata sudah mulai diarahkan untuk membentuk koperasi sehingga lebih mudah  mengakses modal. Desa wisata yang dibina oleh Kementerian Pariwisata dari tahun 2009 sampai 2014 melalui dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat telah membentuk 1.400 desa wisata. Namun setelah dievaluasi yang berkembang kurang dari 10 persen.

Integrasi

Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) dibentuk berdasarkan Undang-Undang Pariwisata Nomor 10 Tahun 1999. Terdapat  13 jenis usaha pariwisata dengan 56 sektor usaha pariwisata yang bisa dikembangkan. Untuk membangun pariwisata harus menempatkannya  sebagai prioritas pembangunan demi kesejahteraan masyarakat. Namun  masing-masing kementerian jalan sendiri-sendiri. Pariwisata perlu dirigen atau panglima.

Terkait wisata bahari, 70 persen wilayah Indonesia adalah laut. Problem yang harus dijawab  adalah infrastruktur terutama aksesibilitas di pulau-pulau. Untuk itu harus melibatkan akademisi, pengusaha, pemerintah, komunitas, dan pers. Bagaimana kerjasama antardepartemen serta  antara pemerintah dan akademisi. Bagaimana pebisnis membina masyarakat serta  mengusahakan permodalan dan pemasaran. Salah satunya melalui  koperasi. Koperasi dan pariwisata harus terintegrasi. Sebab pariwisata  adalah usaha yang sustainable.

Koperasi Pariwisata (Kopari)  Gemilang Borobudur cukup sukses mengelola destinasi pariwisata berbasis masyarakat. Kopari berdiri pada 12 Juni 1996. Kini dikelola oleh lima pengurus dan 110 karyawan. Kopari memiliki 1.335 anggota dengan 3000an anggota merupakan pedagang. Unit usaha Kopari diantaranya simpan pinjam, cetak foto untuk wisatawan, laundry untuk melayani hotel dan masyarakat sekitar, rumah makan, konveksi, hingga taman kupu-kupu. Kegiatan usaha Kopari antara lain fotografer sebanyak 76, guide (47), perajin (72), pedagang souvenir (571), dan penginapan (74). Tahun 2012 Kopari memperoleh bantuan tenda berjualan dari Kementerian Koperasi untuk 70 pedagang.  Saat ini Kopari tengah mengembangkan Rumah Catra Borobudur dengan bansos Rp 400 juta dari Kementerian Koperasi.

Melalui koperasi, ada penguatan dari Kementerian Koperasi serta Dinas Koperasi provinsi dan kabupaten untuk kelembagaan,  SDM, dan modal. Terkait pariwisata ada tiga hal yang dilaksanakan selama ini, yakni daya tarik, promosi, dan pelayanan (termasuk infrastruktur) yang   tidak bisa dipisahkan. Candi Borobudur dikunjungi 3,5 juta wisatawan dalam satu tahun yang terdiri dari 3,2 juta wisatawan domestik  dan 300 ribu wisatawan asing. Hampir semua wisatawan bertanya, apa yang kamu punya selain Borobudur, apa yang dapat saya lihat. Artinya mereka haus atraksi atau pertunjukan selain Borobudur. Itu bisa dikembangkan, salah satunya desa wisata. Maka guide  menjual paket wisata untuk orang asing untuk menjawab pertanyaan selain Borobudur apalagi yang bisa dilihat karena mereka masih punya waktu 1-2 jam setelah dari Candi Borobudur.

Melalui koperasi, para anggota menjadi lebih kuat misalnya membeli mesin cetak  foto seharga Rp 800 juta. Kalau tidak berkoperasi,  tidak punya kemampuan untuk itu. Selain itu anggota diberi kesempatan mengikuti pelatihan termasuk dikirim ke Jepang selama dua minggu. Ada juga  perkuatan modal dari BUMN sebesar Rp 5 miliar yang disalurkan kepada anggota,  koperasi sebagai penjamin. Salah satu keuntungan berkoperasi adalah koperasi hadir sebagai penjamin untuk anggota-anggotanya.

Konsep Kopari adalah membuat anggota menjadi lebih mudah dan ringan dalam  mencari nafkah.  Contohnya Kopari  membantu permodalan. Ketika anggota mengajukan pinjaman lebih dari Rp 10 juta Kopari mencarikan ke bank. Sementara anggota tidak punya akses karena tidak memiliki  KTP. Di sini Kopari  mengambil peran, melindungi dan melayani. Kalau anggota butuh surat keterangan usaha dari kepala desa, Kopari akan membantu. Contoh lain dari perlindungan yang dilakukan Kopari adalah mengangkat  pengamen menjadi kelompok entertain. Intinya harus ada kemauan untuk ikhlas membantu mereka, total.

Pelaku usaha pariwisata bisa dibawa ke Kopari untuk mendengarkan success story mereka. Mungkin dahulu ada sejarah yang buruk terkait pengelola koperasi yang membuat pelaku usaha belum berminat membentuk koperasi. Image ini harus dihapus dan dibenahi bersama. Bagaimana sosialisasinya agar meyakinkan pelaku usaha untuk menjadi anggota koperasi.  Kunci utama membangun koperasi adalah pemahaman masyarakat. Koperasi adalah milik kita bersama,  bukan milik pengurus. Ketika koperasi untung, untuk kepentingan bersama. Jika koperasi buntung, semua  harus menanggung. Maka penyuluhan itu penting sekali. Di daerah dikenal dengan  penyuluh koperasi lapangan yang ditugaskan memberi pemahaman mengenai  koperasi.

Dalam pasal 33 UUD 1945 disebutkan amanat perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Dengan demikian produksi, distribusi, dan konsumsi harus mengacu kepada ekonomi berbasis kerakyatan yaitu ekonomi kekeluargaan. Akan tetapi di tengah perjalanan waktu dengan adanya globalisasi dan liberalisasi menjadikan koperasi saat ini mengalami kegamangan. Bagaimana  koperasi tetap eksis dan menjadi jati diri bangsa?

Perubahan

Reformasi di bidang koperasi mencakup tiga aspek, rehabilitasi, reorientasi, dan pengembangan. Semua aspek tersebut  untuk menghadapi perubahan baik di tingkat  regional maupun internasional. Perubahan yang sangat signifikan di tingkat nasional adalah kecenderungan bunga kredit single digit, ditandai dengan suku bunga KUR yang tahun depan turun menjadi 7%. Tentunya koperasi yang mengandalkan bunga tinggi harus bisa mengantisipasi. Koperasi harus qualified baik dalam segi modal maupun pelayanan.

Rehabilitasi dilakukan dengan  mendata anggota koperasi dan menata kembali kelembagaan. Reorientasi dengan  melakukan  input teknologi informasi yang semula koperasi tradisional menjadi koperasi modern. Sementara  pengembangan dilakukan melalui kerja sama dengan lembaga asing untuk memperoleh bunga yang rendah serta melakukan investasi dan modal penyertaan. Koperasi jangan terlena oleh situasi di zona nyaman, harus melakukan perubahan. Koperasi yang tidak melakukan pengembangan perlahan akan tergerus dan terhempas. Terlebih  tantangan ke depan semakin besar. Hal ini perlu  menjadi introspeksi bersama.

Koperasi belum  berjalan sesuai dengan harapan padahal koperasi adalah soko guru bangsa. Koperasi adalah lembaga ekonomi yang sangat cocok di Indonesia. Jika koperasi yang memiliki  watak kemasyarakatan dikembangkan, perekonomian kita akan tercapai. Pada  2016 anggaran koperasi  hanya Rp 1,2 triliun, tidak mencapai 1% dari  total APBN. Untuk itu keberpihakan negara  diperlukan. Kita harus berani mengubah UU No. 39 Tahun 2008. Pemerintah  menempatkan Kementerian Koperasi dan UKM  pada level 3, bukan level 1. Artinya belum menjadi skala prioritas. Bagaimana koperasi kita akan besar, makmur kalau kita tahu kekuatan ekonomi kita ada di koperasi. Bandingkan dengan Malaysia dan Singapura.

Seharusnya pemerintah  melakukan pembinaan dan pendampingan, selain mengucurkan dana. Diharapkan pemerintah memberikan anggaran Rp 3-5 triliun  untuk koperasi. Kalau pemerintah ingin koperasi bisa bersaing dengan MEA,  pemerintah harus berpihak dengan anggaran. Untuk mencapai hal tersebut tidak ada magic formula. Karena itu kita harus berproses mencari keseimbangan. Kita harus waspada, perjuangan ke depan berat dan kita harus menanggulangi keadaan. Kita harus  menyerang, maju, menyerbu.

Kondisi yang kita hadapi sekarang adalah  pelemahan ekonomi global. Di lain sisi, ada hal baru yang bisa direngkuh, yakni memperkuat pasar domestik. Indonesia membutuhkan upaya serius untuk berbenah diri, dalam segi korupsi, efisiensi birokrasi pemerintahan, pajak, sampai dengan public utility. Bagaimana caranya koperasi mampu menghadapi kompetisi di ASEAN? Mari kita mengkoperasikan koperasi. Apa artinya? Semakin banyak koperasi yang mengabaikan identitasnya sebagai koperasi, sebagai organisasi yang menekankan aspek pendidikan, sebagai lembaga yang menjunjung tinggi rapat anggota tahunan. Lebih serius adalah  sebagai usaha yang bersedia melakukan kerja sama antarkoperasi. Padahal kerja sama itu dibentuk untuk memperbesar skala usaha dan mengurangi risiko. Ini yang jarang dilakukan. Koperasi lebih senang bekerja sendiri.

Tantangan

Koperasi memiliki ciri kelembagaan yang berbeda dengan lembaga usaha lainnya. Pertama, koperasi harus memiliki legalitas yang memadai untuk bisa melakukan kebijakan hukum maupun kerja sama usaha. Kedua, koperasi harus memiliki kompetensi. Terlalu banyak koperasi yang serba usaha. Ketiga, koperasi harus member based organization, benar-benar menjadikan anggota sebagai pemilik sekaligus pelanggan. Ketika bicara MEA kita harus bicara kemampuan koperasi itu sendiri. Terlebih kita memasuki era perubahan. Kalau koperasi tidak mau berubah,  tidak mungkin  mengikuti dinamisasi persaingan yang akan terjadi.

Mengapa harus berubah? Sekarang eranya sudah mengalami pergeseran yang luar biasa. Dulu ketika  mau berbisnis, harus ada financial capital. Sekarang  yang diandalkan adalah intelectual capital. Mengapa koperasi harus melakukan perubahan? Karena jamannya sudah berbeda, tantangannya sudah berbeda. Dulu hanya menggunakan monostrategic, sekarang harus multistrategic. Mengapa koperasi harus menangkap semua peluang itu? Pertama, koperasi sebagai gerakan ekonomi,  indikator  menghimpun kekuatan, kemampuan sosial, ekonomi, dan budaya komunitas. Kedua, koperasi harus melakukan konsolidasi sosial dan ekonomi. Sebab koperasi adalah kumpulan orang. Persoalan yang kita hadapi bersama adalah intrik internal. Harus dilakukan konsolidasi sosial sehingga nyawa untuk bersatu itu diilhami oleh nilai-nilai dan jati diri koperasi.

Membangun revitalisasi bisnis koperasi membutuhkan hal-hal seperti,  koperasi harus berbisnis, konsolidasi bisnis baik internal maupun antarkoperasi, dan  modelisasi bisnis. Revitalisasi membutuhkan semangat perubahan di koperasinya, bukan di pemerintah atau legalitas. Kalau tidak mau berubah koperasi  akan tertinggal di landasan dan  mati. Kalau mau berubah, koperasi harus berupaya secara optimal dalam  penerapan manajemen profesional. Koperasi  adalah organisasi bisnis sehingga tidak terlepas dari hal-hal yang sifatnya  profitability, human resource, marketing, dan operation excellence. Salah satu contohnya adalah Aalsmeer Flower Auction, koperasi bunga terbesar di dunia. Dalam sehari jutaan bunga  dikirim dari seluruh dunia. Operasionalnya menggunakan teknologi informasi dan bunga itu dijual ke penjuru dunia.

Ada tiga hal yang mendasari kompetisi ke depan, globalisasi, urbanisasi,  dan digitalisasi. Bagaimana kita bersikap untuk koperasi? Keberlanjutan atau kesinambungan dari usaha termasuk koperasi ini sangat penting. Perlu model bisnis yang kuat di dalamya. Kalau kita sudah punya model bisnis yang kuat dan tim profesional yang baik, sebetulnya masalah pendanaan sangat memungkinkan. Kini ada  angel investor, private equity, hingga venture capitalist. Jika koperasi  punya modal bisnis yang kuat, tim yang nanti dikembangkan, pembeli yang banyak, dan bisnis yang memadai tak ada masalah. Ada perubahan dalam  bisnis, yang dilihat adalah networknya. Seberapa besar potensinya.

Kita harus sadar koperasi ini berbeda dengan perusahaan atau corporate. Maka Indonesia harus punya dasar bagaimana koperasi bisa berjalan supaya tetap bertahan. Karena koperasi didirikan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan dan memakmurkan anggota dan masyarakat pada umumnya. UU Nomor 25 Tahun 1992 mengatakan, pembangunan koperasi adalah tugas dan tanggung jawab pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia. Koperasi adalah kumpulan orang, bukan kumpulan modal. Syarat terbentuknya koperasi adalah kehendak bersama atau kesamaan interest. Koperasi gagal karena salah niat (mendirikan koperasi untuk mendapatkan sumbangan dari pemerintah), salah arah (antara sumber daya yang dimiliki dengan yang dilakukan itu berbeda), salah urus (tidak amanah, tidak dapat diandalkan untuk memegang koperasi dengan semangat koperasi, tidak jujur), salah pilih (harus memilih pengurus yang bagus, pengelola yang bagus, jangan sampai salah pilih nanti berlanjut ke salah urus), salah kaprah (menganggap sesuatu yang salah karena dilakukan di mana-mana dianggap benar).

Sekarang ini membangkitkan bisnis apapun bisa dilakukan selama pemilik bisnis memiliki kapasitas untuk bangkit kembali. Kapasitas yang pertama adalah kemampuan akan jiwa entrepreneurship (tanggung jawab, ulet, berani, tahan banting). Entrepreneurship itu harus banyak akal, tidak pernah berhenti melakukan pengembangan dan inovasi. Banyak masalah di sisi internal koperasinya, mengapa tidak bisa berkembang, mengapa tidak bisa maju. Kita harus kembalikan lagi ide dasar dalam koperasi yaitu konsolidasi sosial dari sebuah gerakan ekonomi, orang-orang yang memiliki kesadaran bersama, keinginan bekerja sama, dan keinginan mempercayakan kepada pengurusnya untuk mengelola potensi ekonominya secara bersama-sama.

Hanya koperasi yang bisa melakukan perubahan dan membesarkan koperasi itu sendiri. Anggota harus berpartisipasi aktif sebagai pemilik dan pengguna jasa koperasi. Kalau anggota tidak aktif, koperasi pasti tidak bisa berkembang dengan baik. Koperasi itu tidak harus berganti baju menjadi korporasi. Koperasi punya jiwanya tersendiri, tetapi dalam approach untuk membangun sustainable bisnis banyak hal yang bisa dilakukan sesuai dengan korporasi. Contohnya, sustainable bisnis, kelembagaan yang profesional, pendanaan yang kuat, hingga market yang bagus. Tak kalah penting adalah good governance atau keterbukaan, harus ada laporan yang terbuka. Merumuskan konsep koperasi yang baru adalah hal yang bisa dilakukan saat ini. Kolaborasi pengusaha, koperasi, anggota, dan pemerintah yang kuat itu bisa mempertahankan koperasi.

Bagaimana menghidupkan koperasi? Tidak ada kata lain selain kolaborasi. Konsep profitability itu sangat penting karena bicara sustainable bicara profitable. Tidak ada keuntungan, koperasi akan mati. Jangan malu-malu untuk mencari keuntungan yang wajar. MEA adalah sebuah keniscayaan yang harus dihadapi. Koperasi mau tidak mau menghadapi liberalisasi. Untuk itu pentingnya sebuah perubahan. Tanpa perubahan koperasi sulit masuk dalam ranah globalisasi. Regulator, legislatif, eksekutif telah memberikan dukungan, begitu juga dengan gerakan-gerakan koperasi. Intinya perubahan itu harus diikuti dengan paradigma baru. Ekonomi berbagi sebuah tawaran yang menarik, jati diri bangsa.

Menjawab Tantangan Jaman melalui Pengembangan Pariwisata Berbasis Koperasi

Pengembangan Pariwisata melalui Koperasi

koperasiwisataedit
(kiri ke kanan) Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM I Wayan Dipta, Ketua Koperasi Pariwisata Gemilang Borobudur Suherman, Asisten Deputi Tata Kelola dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata Oneng Setya Harini, dan Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia Didin Djunaedi

 

Care, share, dan fair menjadi falsafah dalam koperasi. Pariwisata sebagai penggerak kehidupan masyarakat menjadi penting melalui koperasi.

Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM I Wayan Dipta membuka diskusi Peluang Koperasi Kelola Bisnis Gurih Pariwisata pada 6 April 2016 dengan kisah sebuah kota di Jepang yang sukses mengembangkan pariwisata. Dampak lanjutannya adalah  kemajuan UKM  dari hulu ke hilir yang menciptakan kesejahteraan masyarakat.  Konsep itu kemudian dikembangkan di Indonesia dengan pengelolaan wisata melalui koperasi. “Kementerian Koperasi mencoba mensupport pengelolaan wisata agar dapat dinikmati oleh masyarakat setempat di masa mendatang,  bukan investor,” kata Wayan yang menjadi salah satu pembicara dalam diskusi yang bertempat di Creative Stage, Galeri Indonesia WOW.

Wayan mencontohkan  pariwisata Bali yang tidak dinikmati oleh orang Bali itu sendiri. Awalnya Kuta dibangun dengan konsep homestay. Namun demi pendapatan asli yang tinggi, datanglah investor yang membangun hotel. Pemiliknya adalah orang asing sementara orang Bali  menjadi kuli. Oleh karena itu di Bali ada  destinasi wisata yang dikelola oleh koperasi. Salah satunya di Batur untuk penyeberangan ke Trunyan yang difasilitasi tahun 2005. Dulu ada lima bantuan kapal untuk penyeberangan yang kini menjadi  15. Selain itu bantuan satu kapal untuk  penyeberangan ke  Gili Trawangan pada  2012 yang sekarang menjadi lima kapal. “Artinya perkembangan bisnis pariwisata yang dikelola koperasi itu luar biasa. Masyarakat  yang menikmati,” tutur Wayan.

Esensinya  koperasi itu dari, oleh dan untuk anggota. Bagaimana  mengembangkan destinasi wisata dengan  capacity building yang dimiliki masyarakat. Sebab pariwisata itu menjual jasa. Kalau masyarakat  tidak ramah, jangan pernah berharap wisatawan akan datang seindah apapun destinasi itu. Dahulu di Bali hampir setiap wisatawan dihampiri masyarakat yang menjual souvenir. Mereka mengeluh karena hal itu mengganggu. Setelah itu masyarakat dididik untuk  menghargai tamu. Dengan cara demikian  wisatawan semakin nyaman datang ke Bali. Jika masyarakat dilibatkan dalam pariwisata,  penyerapan tenaga kerja dan devisa meningkat.

Asisten Deputi Tata Kelola dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata Oneng Setya Harini menjelaskan Kementerian Pariwisata memproyeksikan pada 2020 sektor pariwisata menjadi  penyumbang devisi tertinggi mengalahkan gas, batu bara, dan kelapa sawit. Posisi saat ini masih di rangking empat.  Target lainnya adalah tahun  2019 wisatawan mancanegara sejumlah 20 juta dan wisatawan nusantara 275 juta. Untuk itu diperlukan kerja keras. Indeks daya saing pariwisata Indonesia pada 2015 berada di posisi 50 dari 141 negara. Tahun sebelumnya  di posisi 70, artinya ada kenaikan yang cukup signifikan. “Diprediksi pada tahun ini indeks daya saing pariwisata di angka 30,” kata Oneng.

Untuk itu  pemerintah telah menetapkan strategi, yakni   pengembangan pariwisata melalui empat pilar, yaitu pengembangan destinasi, pengembangan pemasaran, pengembangan industri pariwisata, dan pengembangan kelembagaan. Fokusnya adalah sumber daya manusia (SDM). Dari  empat pilar tersebut  pemerintah telah melakukan beberapa hal, diantaranya  anggaran pemasaran sebesar  Rp 3 triliun yang semula  Rp 300 miliar. Maka  promosi  gencar dilakukan. Di sisi lain meningkatkan destinasi dalam komponen perwilayahan, aksesibilitas, atraksi, pemberdayaan masyarakat, dan investasi.

Masyarakat tidak kalah penting dalam pengembangan pariwisata selain  pemerintah pusat, pemerintah daerah,  pemerintah kabupaten/kota, akademisi, pelaku industri,  dan media. Bagaimana masyarakat bisa menjadi tuan rumah yang baik untuk keberlangsungan pembangunan pariwisata serta bagaimana masyarakat bisa menciptakan kondisi yang kondusif di dalam destinasi pariwisata agar pembangunan pariwisata bisa berjalan dengan baik. Tentunya bagaimana masyarakat bisa mendapat manfaat ekonomi dari kegiatan kepariwisataan. Kalau mereka belum  menikmati hasil dari kegiatan kepariwisataan, keamanan terganggu.  “Ini sebenarnya mata uang yang tidak bisa dipisahkan,” tutur Oneng.

Bagaimana masyarakat bisa menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan, keindahan, dan keramahan. Kalau hal tersebut berjalan, aktivitas kepariwisataan di sebuah destinasi akan berkembang lebih baik. Kementerian Pariwisata  menggerakkan masyarakat untuk menjaga destinasinya agar kondusif. Selain itu melakukan beberapa program peningkatan kapasitas usaha masyarakat dengan membimbing mereka memasuki industri sebab  potensinya sangat banyak. Rantai pariwisata seperti transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, hingga atraksi memiliki  potensi usaha. Bagaimana masyarakat mengakses hal itu untuk pengembangan  usaha. “Bagaimana pelaku usaha  mengakses permodalan? Tentunya melalui pelatihan dan bimbingan teknis,” kata Oneng.

Tahun 2009 Kementerian Pariwisata mengembangkan desa wisata dengan konsep community based tourism. Bagaimana masyarakat menggali potensi  di lingkungan mereka untuk dijadikan  atraksi yang bisa dijual dan  dikelola oleh masyarakat. Kementerian Pariwisata menetapkan standar untuk kenyamanan wisatawan, yakni satu rumah maksimal lima kamar yang disewakan. Lebih dari  itu wisatawan dan masyarakat  tidak dapat berinteraksi dengan baik. Setelah dilakukan evaluasi, mereka yang berhasil    adalah bottom up sebab masyarakat betul-betul mengelola. Pengembangan desa wisata  dari top down tidak akan berjalan.  “Banyak sekali masyarakat yang mengembangkan desa wisata yang betul-betul dari masyarakat, dikelola masyarakat, dan masyarakat sebagai pemilik desa wisata tersebut,” ujar Oneng.

Kementerian Pariwisata  bekerja sama dengan Kementerian Koperasi  mengarahkan kelompok sadar wisata sebanyak 1.440 di seluruh Indonesia yang diarahkan untuk membentuk koperasi.  Para pedagang di destinasi wisata sudah mulai diarahkan untuk membentuk koperasi sehingga lebih mudah  mengakses modal. Desa wisata yang dibina oleh Kementerian Pariwisata dari tahun 2009 sampai 2014 melalui dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat telah membentuk 1.400 desa wisata. Namun  setelah dievaluasi yang berkembang kurang dari 10 persen.

 

Integrasi

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Didin Djunaedi memaparkan, GIPI  dibentuk berdasarkan Undang-Undang Pariwisata Nomor 10 Tahun 1999. Selain itu Didin mengelola Gabungan Usaha Wisata Bahari yang telah ditekuni selama 20 tahun. Terdapat  13 jenis usaha pariwisata dengan 56 sektor usaha pariwisata yang bisa dikembangkan. Untuk membangun pariwisata harus  menempatkannya  sebagai prioritas pembangunan demi kesejahteraan masyarakat. Namun  masing-masing kementerian jalan sendiri-sendiri. “Pariwisata perlu dirigen atau  panglima,” tutur Didin.

Terkait wisata bahari, 70 persen wilayah Indonesia adalah laut. Problem yang harus dijawab  adalah infrastruktur terutama aksesibilitas di pulau-pulau. Untuk itu harus melibatkan akademisi, pengusaha, pemerintah, komunitas, dan pers. Bagaimana  kerjasama antardepartemen serta  antara pemerintah dan akademisi. Bagaimana pebisnis membina masyarakat serta  mengusahakan permodalan dan pemasaran. Salah satunya melalui  koperasi. Koperasi dan pariwisata harus terintegrasi. Sebab pariwisata  adalah usaha yang sustainable.

Ketua Koperasi Pariwisata (Kopari)  Gemilang Borobudur Suherman menjelaskan koperasi yang dipimpinnya cukup sukses mengelola destinasi pariwisata berbasis masyarakat. Kopari berdiri pada 12 Juni 1996. Kini dikelola oleh lima pengurus dan 110 karyawan. Kopari memiliki 1.335 anggota dengan 3000an anggota merupakan pedagang. Unit usaha Kopari diantaranya simpan pinjam, cetak foto untuk wisatawan, laundry untuk melayani hotel dan masyarakat sekitar, rumah makan, konveksi, hingga taman kupu-kupu. Kegiatan usaha Kopari antara lain fotografer sebanyak 76, guide (47), perajin (72), pedagang souvenir (571), dan penginapan (74). Tahun 2012 Kopari memperoleh bantuan tenda berjualan dari Kementerian Koperasi untuk 70 pedagang.  Saat ini Kopari tengah mengembangkan Rumah Catra Borobudur dengan bansos Rp 400 juta dari Kementerian Koperasi.

Melalui koperasi Suherman mengaku mendapat perkuatan dari Kementerian Koperasi serta Dinas Koperasi provinsi dan kabupaten untuk kelembagaan,  SDM, dan modal. Terkait pariwisata ada tiga hal yang dilaksanakan selama ini, yakni daya tarik, promosi, dan pelayanan (termasuk infrastruktur) yang   tidak bisa dipisahkan. Candi Borobudur dikunjungi 3,5 juta wisatawan dalam satu tahun yang terdiri dari 3,2 juta wisatawan domestik  dan 300 ribu wisatawan asing. Hampir semua wisatawan bertanya, apa yang kamu punya selain Borobudur, apa yang dapat saya lihat. Artinya mereka haus atraksi atau pertunjukan selain Borobudur. Itu bisa dikembangkan, salah satunya desa wisata. “Maka guide  menjual paket wisata untuk orang asing untuk menjawab pertanyaan selain Borobudur apalagi yang bisa dilihat karena mereka masih punya waktu 1-2 jam setelah dari Candi Borobudur,” ujar Suherman.

Melalui koperasi, para anggota menjadi lebih kuat misalnya membeli mesin cetak  foto seharga Rp 800 juta. Kalau tidak berkoperasi,  tidak punya kemampuan untuk itu. Selain itu anggota diberi kesempatan mengikuti pelatihan termasuk dikirim ke Jepang selama dua minggu. Ada juga  perkuatan modal dari BUMN sebesar Rp 5 miliar yang disalurkan kepada anggota,  koperasi sebagai penjamin. Salah satu keuntungan berkoperasi adalah koperasi hadir sebagai penjamin untuk anggota-anggotanya.

Suherman menyampaikan konsep Kopari adalah membuat anggota menjadi lebih mudah dan ringan dalam  mencari nafkah.  Contohnya Kopari  membantu permodalan. Ketika anggota mengajukan pinjaman lebih dari Rp 10 juta Kopari mencarikan ke bank. Sementara anggota tidak punya akses karena tidak memiliki  KTP. Di sini Kopari  mengambil peran, melindungi dan melayani. Kalau anggota butuh surat keterangan usaha dari kepala desa, Kopari akan membantu. Contoh lain dari perlindungan yang dilakukan Kopari adalah mengangkat  pengamen menjadi kelompok entertain. “Intinya harus ada kemauan untuk ikhlas membantu mereka, total,” tutur Suherman.

Menurut Oneng,  pelaku usaha pariwisata bisa dibawa ke Kopari untuk mendengarkan success story mereka. Mungkin dahulu ada sejarah yang buruk terkait pengelola koperasi yang membuat pelaku usaha belum berminat membentuk koperasi. Image ini harus dihapus dan dibenahi bersama. Bagaimana sosialisasinya agar meyakinkan pelaku usaha untuk menjadi anggota koperasi. Sementara Wayan berpandangan kunci utama membangun koperasi adalah pemahaman masyarakat. Koperasi adalah milik kita bersama,  bukan milik pengurus. Ketika koperasi untung, untuk kepentingan bersama. Jika koperasi buntung, semua  harus menanggung. Maka penyuluhan itu penting sekali. Di daerah dikenal dengan  penyuluh koperasi lapangan yang ditugaskan memberi pemahaman mengenai  koperasi.

Pengembangan Pariwisata melalui Koperasi

Spesialis Masakan Indonesia

Chef Kongs

Tiga kali kecelakaan nyaris merenggut nyawanya. Padahal hobi otomotif telah ditekuni sejak SMP. Akhirnya ia melabuhkan hati pada hobi baru, kuliner yang mengantarkannya menjadi chef handal.

Kendala dana membuat Rendy yang dikenal dengan nama Chef Kongs tidak kuliah selepas lulus SMA. Ia bekerja sebagai pencuci sayuran karena tidak bisa memasak. Pengalaman tersebut mengajarkannya banyak hal. Hingga Chef Kongs kuliah di Universitas Trisakti dengan beasiswa. Setelah lulus, tahun 2010 hingga 2012 ia bekerja di Club Med Pulau Bintan, salah satu resort bintang enam di Indonesia yang dimiliki orang. “Kemudian saya pindah ke Jakarta, sempat bekerja di sebuah restoran di Sudirman selama satu tahun. Selanjutnya saya join dengan orang, membuka Warung Yu Tien di Cilandak sampai sekarang,” ujar Chef Kongs.

Nama ‘Kongs’ awalnya berasal dari panggilan teman-temannya. Pasalnya tubuh Chef Kongs terbilang subur. Kini nama tersebut membawa keberuntungan dalam perjalanan kariernya. Segudang prestasi telah diukir pria berusia 26 tahun ini. Bersama Young Chef Club Indonesia, Chef Kongs meraih gold medal dalam ajang Food and Hotel Asia 2010 di Singapura. Selanjutnya pada tahun 2012 ia memperoleh silver medal dalam ajang Individual Cooking Competition di Bali. “Terlihat ada penurunan derajat dari gold ke silver. Namun ada pengalaman berharga dalam hidup saya yaitu mengikuti cooking class yang dibawakan Chef Marco Pierre White, guru Chef Gordon Ramsay, everybody know him,” ujar Chef Kongs.

Tak hanya itu di tahun yang sama Chef Kongs diutus oleh Kementerian Luar Negeri untuk mengkampanyekan makanan Indonesia ke Santiago, Chile. Mantan Vice President Young Chef Club Indonesia (2009-2014) itu dipercaya menangani katering acara saat Jusuf Kalla menjabat sebagai wakil presiden. Chef Kongs juga menyajikan katering di sebuah acara bersama William Wongso ketika Susilo Bambang Yudhoyono masih menjabat sebagai presiden. “Saya sempat mengisi acara di TV One dan Metro TV,” tutur Chef Kongs.

Dalam pandangan Chef Kongs, seorang spesialis Indonesian cuisine, Indonesia adalah negara yang sangat kaya. Namun hanya sedikit orang yang mau mengeskplornya. Bukti kecintaannya terhadap masakan Indonesia ditunjukkan dengan pilihan menu yang dirancangnya di Warung Yu Tien. Selain masakan berbahan bebek, juga ada variasi minuman, diantaranya beras kencur smoothies dan jeruk nipis smoothies. “Make something difference,” kata Chef Kongs yang aktif di klub otomotif.

Selama ini masyarakat melihat beras kencur identik dengan jamu dan hangat. Chef Kongs terpikir untuk membuat beras kencur dingin. Dengan kata ‘smoothies’ persepsinya sudah beda dan pasti enak. Dengan demikian anak-anak menyukainya. Chef Kongs memperhatikan banyak sajian makanan yang kurang menggunakan bawang putih. Padahal itulah rasa Indonesia yang otentik, kaya akan bumbu. “Kunci marketing kami adalah the power of taste,” tutur Chef Kongs, brand ambassador Lock&Lock dan PT Tiga Pilar Sejahtera.

Memasak dengan Hati

Bagi Chef Kongs, memasak harus tulus. Ketika memasak dengan fun dan enjoy, terlihat pada hasilnya. Berbeda bila memasak dengan hati yang tertahan, hasilnya tentu amburadul. Mengenalkan sayuran kepada anak-anak bukanlah persoalan yang sulit. Menurut Chef Kongs, untuk anak di bawah umur tiga tahun sayur diperkenalkan melalui gambar. Anak diajarkan menggambar sayur dan orangtua mengatakan berulang-ulang bahwa sayur tersebut enak. “Anak bisa berkreasi dengan memberikan mata pada gambar sayur itu. Karena menggambar, anak penasaran dengan rasanya. Sesederhana itu,” ujar Chef Kongs.

Indonesia di mata Chef Kongs mampu berdiri di kaki sendiri selama ada kepercayaan diri. Faktanya orang Indonesia tidak percaya diri dan selalu menganggap bahwa chef asing itu pasti menyajikan makanan yang lebih enak. Chef Kongs mencontohkan executive chef di Club Med yang 75% nya orang Indonesia. “Orang Perancis saja percaya dengan kita. Namun mengapa orang kita sendiri tidak percaya dengan kinerja bangsanya,” tutur Chef Kongs.

Terkait hal tersebut, Chef Kongs pernah berbicara cukup lantang saat launching 30 ikon kuliner Indonesia. Menurutnya, percuma mempromosikan 30 ikon kuliner Indonesia bila di negara luar tidak ada pasar yang menjual bahan-bahan masakan Indonesia. Permasalahannya adalah pemerintah tidak mendorong maskapai penerbangan Indonesia untuk mendukung pendistribusian bahan-bahan masakan atau bumbu masak yang bisa diolah. “Thai Airways selalu mendistribusikan bahan-bahan masakannya ke setiap negara yang dilandasi. Di Hongkong, Belanda, hingga Chile ada Thai Market. Indonesian market tidak ada. Ini hal sepele,” ujar Chef Kongs.

Ketika ada pendistribusian bahan-bahan masakan Indonesia di negara luar, akan terasa efek campaign Indonesian food. Chef Kongs menyayangkan upaya yang dilakukan selama ini hanya membuang-buang uang. Harus ada kemauan serta sinergi dan kerjasama setiap pihak. “Kita sudah ajarkan mereka yang yang tinggal di luar negeri masakan Indonesia. Namun di mana mereka mendapatkan cengkeh, kapulaga,” kata Chef Kongs.

Chef Kongs yakin makanan Indonesia mampu mengangkat industri pariwisata Indonesia. ketika seseorang makan  rendang dan terasa enak, mereka akan bertanya asal masakan itu. “Promosi pariwisata Indonesia pakai yang kecil saja tapi berdampaknya besar,” tutur Chef Kongs.

Spesialis Masakan Indonesia