Tokyo Bowl, Persembahan Terbaik HokBen

Hokben8
Chicken Karaage didampingi puding taro yang menggoda untuk segera disantap.

Selalu memberikan yang terbaik untuk para customer, demikian motto HokBen dalam menjalankan usahanya. Pada September lalu HokBen meluncurkan menu terbarunya, yaitu HokBen Tokyo Bowl.

Pada 7 Oktober 2017 berlangsung Kumpul Bareng Blogger di HokBen Blok M Plaza. Dipandu Communication Dept. Head Marcomm Division PT Eka Bogainti Irma Wulansari, para blogger diajak mengenal HokBen Tokyo Bowl. Menghadirkan lima menu, yakni Chicken Karaage, Chicken Katsu Tare, Chicken Steak, Tori Soboro, dan Gyu Soboro. Chicken karage terdiri dari nasi, ayam popcorn yang diberi saus mayonaise, serta ditaburi seaweed (rumput laut) dan daun bawang. Chicken Katsu Tare terdiri dari nasi, chicken steak yang diberi  saus tare, serta ditaburi seaweed dan daun bawang. “Saus tare itu saus khas HokBen yang biasa dipakai untuk teriyaki,” kata Irma.

Hokben1
Chicken Karaage
Hokben2
Chicken Katsu Tare

Chicken Steak terdiri dari nasi, chicken steak, serta ditaburi seaweed dan daun bawang. Bisa dipilih chicken steak biasa atau hot. Tori Soboro terdiri dari nasi, daging ayam cincang, serta ditaburi seaweed dan daun bawang. Gyu Soboro sama dengan Tori Soboro, perbedaannya menggunakan daging sapi cincang. Mengapa tidak ada menu ikan? Karena orang Indonesia lebih menyukai dan menerima menu daging ayam dan daging sapi. “Daging ayam fillet hanya di Chicken Katsu Tare dan Chicken Steak. Semua menu menggunakan dada ayam. Selain itu kami menggunakan produk lokal,” ujar Irma.

Hokben3
Gyu Soboro
Hokben4
Chicken Steak

Rentang harga lima menu itu Rp 27 ribu sampai Rp 37 ribu. Tori Soboro ditawarkan dengan harga Rp 27 ribu, Chicken Karaage dan Chicken Steak (Rp 37 ribu), Gyu Soboro (Rp 31 ribu), dan Chicken Katsu Tare (Rp 31 ribu). Chicken Karaage  yang saya rasakan cukup garing berpadu dengan nasi yang lembut dan seaweed yang gurih. Santapan ditutup dengan  puding taro yang menyegarkan. Sebenarnya ada sup tofu yang tak tampak di foto. Tofunya  sangat lembut dan rasa supnya pas, tidak terlampau asin. “Jangan kaget di counter tertentu harganya berbeda, seperti di bandara,” tutur Irma.

Hokben5
Tori Soboro

HokBen pertama kali hadir di Jakarta pada 18 April 1985 di bawah naungan PT Eka Bogainti. Artinya sudah 32 tahun HokBen beroperasi. Gerai pertamanya di Kebon Kacang. Selanjutnya pada 1990 Hokben membuka gerai pertamanya di Bandung. Saat ini terdapat 24 gerai di kota tersebut termasuk di 23 Paskal, mall yang sedang happening. Pada 2005 HokBen membuka gerainya pertamanya di Surabaya. Saat ini ada 10 gerai HokBen yang tersebar di Surabaya dan Malang. Pada 2007 Hokben meluncurkan call centre dan HokBen Delivery (1-500-505) yang siap mengantarkan pesanan customer dengan minimum order Rp 50 ribu. Pada 2008 Hokben meluncurkan www.hokben.co.id dengan fasilitas pesan online. Selain itu Hokben memperkenalkan Kidzu Bento untuk anak-anak.

Irma menyampaikan, pada 2008 HokBen memperoleh sertifikat halal yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia. Mengapa setelah beroperasi sekian lama HokBen baru mendapatkan sertifikat halal? Karena vendor-vendor HokBen juga harus halal, seperti vendor ayam, daging, hingga  kue untuk ulang tahun anak. Mereka harus memiliki sertifikat halal supaya bisa masuk ke HokBen. Dilanjutkan pada 2010 HokBen membuka beberapa gerai baru di Jawa Tengah (Yogyakarta, Semarang, dan Solo) dan Bali. Tahun 2012 HokBen meluncurkan Hocafe yang saat ini berjumlah 150, tersebar di Jawa dan Bali. “Di Jakarta hanya ada di Pasar Festival, Alam Sutera, dan Karawaci,” tutur Irma.

Pada 2013 terjadi perubahan konsep, dari Hoka Hoka Bento menjadi HokBen. Logonya juga berubah. Dulu anak-anak full badan dan berwarna merah dan biru, sekarang hanya terlihat muka dan bulat. Menurut Irma, penyebutan nama tersebut berasal dari customer loyal. ‘Yuk, kita ke Hoka-Hoka Bento’ itu terlalu panjang. Mereka menyingkatnya menjadi ‘Yuk ke HokBen’. Nama tersebut berlaku pula di media sosial, yaitu @hokben (Twitter) dan @hokben_id (Instagram).

 

Promo

Saat ini HokBen menawarkan promo pergi ke Tokyo gratis. Ada 10 tiket Jakarta-Tokyo PP untuk 5 pemenang. Caranya? Beli Tokyo Bowl varian apa saja. Upload foto atau video ekspresi menikmati Tokyo Bowl beserta struk pembeliannya. Mention siapapun yang ingin kamu ajak pergi bersama ke Tokyo. Jangan lupa sertakan hastag #HokBen dan #HokBenTokyoBowl. Selain itu HokBen menawarkan special offer Pay 2 Get 3 Tokyo Bowl, dine in only. Periode promo hingga 5 November.

Hokben6
Communication Dept. Head Marcomm Division PT Eka Bogainti Irma Wulansari memberikan pemaparan.
Hokben7
Community pattern yang diaplikasikan pada sumpit.

Jika diperhatikan di kaca, dinding, atau papercup terdapat community pattern HokBen. Ini bukan sembarang lukisan atau bentuk. Community pattern itu memiliki arti respect hingga friendship. HokBen menjamin semua makanan yang disediakan baik dikonsumsi oleh orangtua dan anak. HokBen menyambut dan berterimakasih kepada setiap customer yang datang. Bahwa semua orang yang datang bukan hanya keluarga, orangtua dan anak, juga teman-teman seperti teman sekolah atau teman bermain.

Pada 11 Oktober lalu HokBen meraih penghargaan internasional di World Branding Awards yang diselenggarakan di Inggris. HokBen terpilih sebagai Brand of The Year 2017-2018 untuk kategori Quick Service  Restaurants Indonesia. Penghargaan tersebut menjadi pemacu HokBen untuk senantiasa memberikan yang terbaik kepada para customer.

Advertisements
Tokyo Bowl, Persembahan Terbaik HokBen

Raih Kesuksesan Anda bersama K-Link

K-Link 27 Sept 1
Suasana gathering blogger member K-Link. (Sumber foto: Dede Ariyanto)

Merupakan sebuah tanggung jawab menjernihkan persepsi masyarakat perihal MLM yang lebih sering terdengar negatif ketimbang positif. MLM merupakan networking business, bukan money gome.

Demikian penjelasan Presiden Direktur K-Link Indonesia Dato’ DR. H. Md. Radzi Saleh dalam Gathering Blogger Member K-Link pada 27 September 2017. Dato Radzi memandang sistem di MLM itu sudah benar tapi kadang member terlalu bersemangat, antusias menarik orang bergabung. Akhirnya lahir janji-janji manis. Akibatnya masyarakat melihat hal itu sebagai perkara  yang negatif. Mengapa MLM digemari masyarakat saat ini? Karena adanya pembagian bonus kepada member yang bergabung dengan K-Link. Ada perusahaan lain yang  terlalu fokus pada keuntungan sehingga produk yang dipasarkan tidak dibutuhkan masyarakat. “K-Link memberi alokasi bonus yang pasti dengan mencapai target dan  mengikuti peraturan yang ditetapkan syariah,” kata Dato Radzi.

Dalam pandangan Dato Radzi MLM merupakan salah satu solusi terbaik mengisi ruang kekosongan. Sebab sulit rasanya membebankan pemerintah untuk menciptakan lapangan  pekerjaan. Namun MLM harus dilakukan dengan cara yang benar. Untuk itu K-Link bergabung dengan syariah. Tujuannya menghindari keraguan dan janji yang berlebihan. Dato Radzi menerapkan kepada para leader saat awal bergabung di K-Link perihal membangun karier. Beliau menetapkan visi yaitu menjelang tahun 2020 menghasilkan minimal 100 orang yang berpenghasilan Rp 50 juta per bulan. “Sekarang sudah tercapai 55%, mudah-mudahan dalam 2,5 tahun kita mencapai target,” tutur Dato Radzi.

Fokus K-Link pada 2017 adalah ladies, syariah, dan online. Ladies terkait dengan program K-Link menjadikan ladies sebagai usahawan yang sukses. Penerapannya adalah  membuka Rumah Cantik di Bandung dan memperbanyak produk kecantikan. Tujuannya membantu mereka untuk hidup tanpa menyesatkan orang lain. Syariah terkait dengan bisnis yang berunsurkan hukum syariah. Online terkait dengan digital marketing.

IT Manager K-Link Indonesia Nandang Hermansyah menyampaikan permasalahannya adalah larangan MLM menjual produk di marketplace. Dengan kata lain penjualan harus dilakukan secara langsung. Mengapa produk MLM mahal? Produk MLM itu premium. Pabrik yang memproduksi membuat kontrak eksklusif dengan K-Link. Formulasinya hanya untuk K-Link dan tidak bisa diubah tanpa sepengetahuan K-Link. Dengan demikian  klorofil tidak bisa dijual oleh perusahaan lain.

K-Link 27 Sept 2
Presiden Direktur K-Link Indonesia Dato’ DR. H. Md. Radzi Saleh  memberikan pemaparan. (Sumber foto: Dede Ariyanto)

K-Link Indonesia telah berusia 15 tahun. K-Link Tower yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto memiliki value tinggi untuk memberi keyakinan kepada masyarakat Indonesia bahwa K-Link serius membangun bisnisnya di Indonesia. Gedung tersebut sekaligus menunjukkan bahwa K-Link adalah MLM murni.  Perusahaan yang bertahan adalah perusahaan yang bermain di pasar global. Apa bedanya money game dan MLM? Money game adalah perusahaan yang memberikan bonusnya dari uang pendaftaran. Berbeda dengan MLM yang memberikan bonus kepada distributor melalui penjualan produk. Bayangkan misalnya satu kota yang dihuni 1.000 orang, ketika mereka semua menjadi member perusahaan akan ditutup atau kabur. Pasalnya tidak ada lagi uang untuk membayar bonus member. Hal tersebut adalah bukti money game tidak berumur panjang.

Bandingkan dengan MLM, hasil dari penjualan produk itu masuk ke dalam suatu rumus yang dinamakan marketing plan. Semua member yang bergabung bisa mempelajari rumus itu. Dengan demikian mereka bisa membuat strategi dan memperkirakan pendapatan yang diperoleh dengan mengejar target tertentu. Pendapatan itu unlimited. Produk kesehatan K-Link teruji dan terbilang mahal. Mengapa? Karena K-Link punya kriteria yang tinggi terkait kualitas produk. Produk yang dikeluarkan berfungsi menunjang kesehatan masyarakat pada umumnya. Produk K-Link terbuat dari herbal, mampu menyerap lebih baik dan tidak meninggalkan residu di dalam tubuh. K-Link juga meningkatkan kualitas member melalui serangkaian pelatihan. “Contohnya pelatihan leadership untuk menghasilkan jiwa kepemimpinan dalam diri member hingga pelatihan sales,” kata Nandang.

K-Link adalah salah satu company di Indonesia yang menciptakan lapangan kerja untuk ribuan bahkan jutaan orang. K-Link membuka lapangan pekerjaan yang tak terbatas, berbeda dengan perusahaan konvensional. Lapangan pekerjaan yang dimaksud tidak memerlukan pendidikan atau title khusus. Semua orang bisa bergabung, belajar dan maju bersama. Semua punya kesempatan yang sama. Seorang distributor atau member bisa memiliki bisnis sendiri.  Nandang melihat ada tiga tipe di K-Link Indonesia, yaitu distributor, pengguna produk, dan menjalankan bisnis. Peluang bisnis ini bisa ditawarkan kepada masyarakat.

Saat ini K-Link memiliki channel www.k-link.co.id, merupakan website corporate yang berisi informasi mengenai K-Link; k-link viral marketing yang bisa dimanfaatkan distributor untuk membangun jaringan dan melakukan penjualan; www.k-net.co.id, merupakan e-commerce K-Link; dan www.k-linkindo.com/member untuk melihat jaringan K-Link di seluruh dunia. “Bulan depan mudah-mudahan mobile appsnya sudah siap,” tutur Nandang.

Tertarik mengenali K-Link baik produk maupun sistem bisnisnya? Mari melangkah bersama menuju kesuksesan dimulai dengan klik link ini.

Raih Kesuksesan Anda bersama K-Link

Menjadi Perempuan Seutuhnya bersama Multivitamin Terbaik

K-Vit C
Perempuan masa kini dituntut multitasking, mampu menjalankan beragam peran baik di keluarga maupun di masyarakat. (foto dokumentasi pribadi)

Multitasking is a part of my everyday life. Quote yang disampaikan penyanyi asal Amerika Serikat, Monica Denise Brown tersebut sangat cocok menggambarkan kehidupan perempuan.

Perkembangan jaman menuntut setiap perempuan, tak terkecuali perempuan Indonesia menjadi aktif dan dinamis. Meniti karier di berbagai bidang. Usai menjalani pekerjaan di kantor, setumpuk tugas rumah tangga menanti diselesaikan. Menuntut keahlian tersendiri, multitasking. Betapa tidak, dari awal hingga akhir hari sulit bagi perempuan menemukan waktu untuk beristirahat. Padahal kesehatan itu sangat penting bagi perempuan yang sibuk dan padat kegiatan. Tidak memandang apakah perempuan itu sudah menikah atau belum, multitasking sangat dibutuhkan. Seperti saya yang masih tinggal dengan orangtua, selesai  bekerja saya menyelesaikan tugas rumah tangga, seperti menyapu, mencuci piring, atau memasak.

Kaum perempuan tak perlu khawatir, sebab bahan yang berasal dari alam dapat menunjang kesehatan kalian. Contoh sederhananya, saya  selalu minum air perasan jeruk lemon setiap pagi sebelum beraktivitas. Tujuannya menjaga daya tahan tubuh tetap prima sesibuk apapun. Jeruk lemon sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh, terbukti mampu meningkatkan stamina dan kekebalan tubuh sehingga terhindar dari berbagai penyakit. Beberapa manfaat mengonsumsi air perasan jeruk lemon pada pagi hari, diantaranya detoksifikasi tubuh, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, merawat gigi, melancarkan pencernaan, dan menjaga kesehatan kulit.

Berkaca pada apa yang saya alami, ketika pekerjaan maupun tugas di rumah sulit dikendalikan, stress pun muncul. Pelarian saya adalah ngemil. Saya tahu dampaknya tidak baik untuk tubuh.  Namun saya merasakan kenikmatan tersendiri saat ngemil. Seolah beban sedikit terangkat. Seketika saya merasakan kebahagiaan. Akibatnya bisa ditebak, berat badan saya melambung. Dalam dua minggu ini berat badan saya sudah naik dua kilogram. Hingga seorang teman memperkenalkan mutivitamin yang bagus kepada saya, yaitu K-Vit C plus Teavigo.

K-Vit C plus Teavigo terdiri dari kombinasi dua super antioksidan, yaitu vitamin C dan teavigo. Vitamin C bagus untuk daya tahan tubuh dan kulit serta mencegah anemia. Teavigo adalah salah satu ekstrak teh hijau yang paling murni (world’s purest green tea extract) dengan kandungan epigallocatechin gallate (EGCG) sebanyak 94%, di atas kandungan teh hijau yang beredar di pasaran. Bahkan  matcha yang biasa ditemukan di restoran Jepang hanya mengandung EGCG sebesar  50%. Sekadar informasi, kandungan EGCG pada teh itu bervariasi, 5%, 10%, 30%, hingga 50%.

Selama ini kita mendengar teh hijau bagus untuk jantung, membakar lemak, pencernaan, hingga kulit. Semakin besar EGCG, tentu semakin tinggi kehebatan ekstrak teh hijau. Saya cukup antusias ketika mengetahui di level MLM, K-Link merupakan perusahaan pionir yang menjual produk vitamin C plus teavigo.

 

Investasi

Apa kehebatan K-Vit C plus Teavigo? Pertama, kita butuh vitamin C karena tubuh tidak bisa memproduksinya. Padahal fungsi vitamin C banyak sekali. Vitamin C bisa didapat dari sayur dan buah. Namun kandungan vitamin C pada sayur atau buah yang salah diolah atau terlalu lama disimpan akan rusak. Pasalnya sifat vitamin C tidak stabil. Oleh karena itu banyak perusahaan yang memproduksi suplemen vitamin C yang lebih terkontrol dan stabil. Kedua, teavigo memperkuat kinerja dari vitamin C. Ketiga, K-Vit C plus Teavigo mudah dikonsumsi terutama oleh orang yang sulit menelan, cukup dilarutkan di dalam satu gelas air. Keempat, K-Vit C plus Teavigo menghadirkan rasa segar, tidak terlalu asam dan tidak terlalu manis. Satu hal yang saya suka dari K-Vit C plus Teavigo adalah kemasannya yang praktis, mudah dibawa ke manapun. Kini saya tidak perlu menyisihkan waktu untuk membersihkan, mengiris, dan memeras jeruk lemon.

Manfaat K-Vit C plus Teavigo, antara lain menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah, mengurangi risiko kanker, memperlambat proses penuaan, menjaga kesehatan sel saraf, dan menjaga daya tahan tubuh. K-Vit C plus Teavigo adalah multivitamin untuk orang dewasa, lansia, termasuk anak-anak (dimulai dari usia 2 tahun). Ibu saya yang telah memasuki fase 60 tahun mengaku tidak mencecap rasa asam setelah mengonsumsi K-Vit C plus Teavigo sebagaimana yang dialami saat mengonsumsi suplemen vitamin C dari merk lain. K-Vit C plus Teavigo bagus dikonsumsi lansia untuk mencegah penyakit degeneratif karena kandungan antioksidannya cukup tinggi dan mampu mencegah kerusakan radikal bebas. Setiap hari saya mengonsumsi   1 tablet K-Vit C plus Teavigo 1-2 kali sehari.

promo ongkir
Promo gratis ongkir. (foto dokumentasi K-Link)

K-Vit C plus Teavigo ditawarkan dengan harga Rp 72 ribu (distributor) dan Rp 84 ribu (konsumen). Tertarik mendapatkan diskon 20% dari setiap produk yang dibeli, dengan kata lain membeli dengan harga distributor? Cukup daftarkan diri sebagai member di link ini. Tube K-Vit C plus Teavigo berisi 10 tablet. Jika dirata-rata harganya Rp 7.200 per tablet. Investasi untuk kesehatan dengan biaya yang lebih murah dari semangkuk bakso. Kalian yang memiliki gangguan fungsi ginjal, sebaiknya jangan berlebihan mengonsumsi K-Vit C plus Teavigo. Dosis dibuat serendah mungkin, misalnya satu tablet dibagi dua atau tiga.

Berikut tips menjadi perempuan seutuhnya:

1.      Bahagia apapun kondisi yang dihadapi saat ini.

2.      Menjadi diri sendiri.

3.      Luangkan waktu untuk me time di tengah kesibukan, misalnya dengan bepergian seorang diri ke tempat baru.

4.      Update informasi terkini dengan banyak membaca.

5.      Merawat diri, salah satu dengan mengonsumsi K-Vit C plus Teavigo.

6.      Menekuni olahraga yang diminati, misalnya jalan kaki atau berlari.

7.      Bersosialisasi baik dengan siapapun, entah  lintas profesi atau lintas hobi.

 

 

Menjadi Perempuan Seutuhnya bersama Multivitamin Terbaik

Pengembangan Pariwisata melalui Koperasi

Care, share, dan fair menjadi falsafah dalam koperasi. Pariwisata sebagai penggerak kehidupan masyarakat menjadi penting melalui koperasi.

Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM I Wayan Dipta memaparkan kisah sebuah kota di Jepang yang sukses mengembangkan pariwisata. Dampak lanjutannya adalah  kemajuan UKM  dari hulu ke hilir yang menciptakan kesejahteraan masyarakat.  Konsep itu kemudian dikembangkan di Indonesia dengan pengelolaan wisata melalui koperasi. “Kementerian Koperasi mencoba mensupport pengelolaan wisata agar dapat dinikmati oleh masyarakat setempat di masa mendatang, bukan investor,” kata Wayan.

Wayan mencontohkan  pariwisata Bali yang tidak dinikmati oleh orang Bali itu sendiri. Awalnya Kuta dibangun dengan konsep homestay. Namun demi pendapatan asli yang tinggi, datanglah investor yang membangun hotel. Pemiliknya adalah orang asing sementara orang Bali  menjadi kuli. Oleh karena itu di Bali ada  destinasi wisata yang dikelola oleh koperasi. Salah satunya di Batur untuk penyeberangan ke Trunyan yang difasilitasi tahun 2005. Dulu ada lima bantuan kapal untuk penyeberangan yang kini menjadi  15. Selain itu bantuan satu kapal untuk  penyeberangan ke  Gili Trawangan pada  2012 yang sekarang menjadi lima kapal. “Artinya perkembangan bisnis pariwisata yang dikelola koperasi itu luar biasa. Masyarakat  yang menikmati,” tutur Wayan.

Esensinya  koperasi itu dari, oleh dan untuk anggota. Bagaimana  mengembangkan destinasi wisata dengan  capacity building yang dimiliki masyarakat. Sebab pariwisata itu menjual jasa. Kalau masyarakat  tidak ramah, jangan pernah berharap wisatawan akan datang seindah apapun destinasi itu. Dahulu di Bali hampir setiap wisatawan dihampiri masyarakat yang menjual souvenir. Mereka mengeluh karena hal itu mengganggu. Setelah itu masyarakat dididik untuk  menghargai tamu. Dengan cara demikian  wisatawan semakin nyaman datang ke Bali. Jika masyarakat dilibatkan dalam pariwisata,  penyerapan tenaga kerja dan devisa meningkat.

Asisten Deputi Tata Kelola dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata Oneng Setya Harini menjelaskan Kementerian Pariwisata memproyeksikan pada 2020 sektor pariwisata menjadi  penyumbang devisi tertinggi mengalahkan gas, batu bara, dan kelapa sawit. Posisi saat ini masih di rangking empat.  Target lainnya adalah tahun 2019 wisatawan mancanegara sejumlah 20 juta dan wisatawan nusantara 275 juta. Untuk itu diperlukan kerja keras. Indeks daya saing pariwisata Indonesia pada 2015 berada di posisi 50 dari 141 negara. Tahun sebelumnya  di posisi 70, artinya ada kenaikan yang cukup signifikan. “Diprediksi pada tahun ini indeks daya saing pariwisata di angka 30,” kata Oneng.

Untuk itu  pemerintah telah menetapkan strategi, yakni   pengembangan pariwisata melalui empat pilar, yaitu pengembangan destinasi, pengembangan pemasaran, pengembangan industri pariwisata, dan pengembangan kelembagaan. Fokusnya adalah sumber daya manusia (SDM). Dari  empat pilar tersebut  pemerintah telah melakukan beberapa hal, diantaranya  anggaran pemasaran sebesar  Rp 3 triliun yang semula  Rp 300 miliar. Maka  promosi  gencar dilakukan. Di sisi lain meningkatkan destinasi dalam komponen perwilayahan, aksesibilitas, atraksi, pemberdayaan masyarakat, dan investasi.

Masyarakat tidak kalah penting dalam pengembangan pariwisata selain  pemerintah pusat, pemerintah daerah,  pemerintah kabupaten/kota, akademisi, pelaku industri,  dan media. Bagaimana masyarakat bisa menjadi tuan rumah yang baik untuk keberlangsungan pembangunan pariwisata serta bagaimana masyarakat bisa menciptakan kondisi yang kondusif di dalam destinasi pariwisata agar pembangunan pariwisata bisa berjalan dengan baik. Tentunya bagaimana masyarakat bisa mendapat manfaat ekonomi dari kegiatan kepariwisataan. Kalau mereka belum  menikmati hasil dari kegiatan kepariwisataan, keamanan terganggu.  “Ini sebenarnya mata uang yang tidak bisa dipisahkan,” tutur Oneng.

Bagaimana masyarakat bisa menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan, keindahan, dan keramahan. Kalau hal tersebut berjalan, aktivitas kepariwisataan di sebuah destinasi akan berkembang lebih baik. Kementerian Pariwisata  menggerakkan masyarakat untuk menjaga destinasinya agar kondusif. Selain itu melakukan beberapa program peningkatan kapasitas usaha masyarakat dengan membimbing mereka memasuki industri sebab  potensinya sangat banyak. Rantai pariwisata seperti transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, hingga atraksi memiliki  potensi usaha. Bagaimana masyarakat mengakses hal itu untuk pengembangan  usaha. “Bagaimana pelaku usaha  mengakses permodalan? Tentunya melalui pelatihan dan bimbingan teknis,” kata Oneng.

Tahun 2009 Kementerian Pariwisata mengembangkan desa wisata dengan konsep community based tourism. Bagaimana masyarakat menggali potensi  di lingkungan mereka untuk dijadikan  atraksi yang bisa dijual dan  dikelola oleh masyarakat. Kementerian Pariwisata menetapkan standar untuk kenyamanan wisatawan, yakni satu rumah maksimal lima kamar yang disewakan. Lebih dari  itu wisatawan dan masyarakat  tidak dapat berinteraksi dengan baik. Setelah dilakukan evaluasi, mereka yang berhasil    adalah bottom up sebab masyarakat betul-betul mengelola. Pengembangan desa wisata  dari top down tidak akan berjalan.  “Banyak sekali masyarakat yang mengembangkan desa wisata yang betul-betul dari masyarakat, dikelola masyarakat, dan masyarakat sebagai pemilik desa wisata tersebut,” ujar Oneng.

Kementerian Pariwisata  bekerja sama dengan Kementerian Koperasi  mengarahkan kelompok sadar wisata sebanyak 1.440 di seluruh Indonesia yang diarahkan untuk membentuk koperasi.  Para pedagang di destinasi wisata sudah mulai diarahkan untuk membentuk koperasi sehingga lebih mudah  mengakses modal. Desa wisata yang dibina oleh Kementerian Pariwisata dari tahun 2009 sampai 2014 melalui dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat telah membentuk 1.400 desa wisata. Namun setelah dievaluasi yang berkembang kurang dari 10 persen.

Integrasi

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Didin Djunaedi memaparkan, GIPI dibentuk berdasarkan Undang-Undang Pariwisata Nomor 10 Tahun 1999. Selain itu Didin mengelola Gabungan Usaha Wisata Bahari yang telah ditekuni selama 20 tahun. Terdapat  13 jenis usaha pariwisata dengan 56 sektor usaha pariwisata yang bisa dikembangkan. Untuk membangun pariwisata harus  menempatkannya  sebagai prioritas pembangunan demi kesejahteraan masyarakat. Namun  masing-masing kementerian jalan sendiri-sendiri. “Pariwisata perlu dirigen atau  panglima,” tutur Didin.

Terkait wisata bahari, 70 persen wilayah Indonesia adalah laut. Problem yang harus dijawab  adalah infrastruktur terutama aksesibilitas di pulau-pulau. Untuk itu harus melibatkan akademisi, pengusaha, pemerintah, komunitas, dan pers. Bagaimana kerjasama antardepartemen serta  antara pemerintah dan akademisi. Bagaimana pebisnis membina masyarakat serta  mengusahakan permodalan dan pemasaran. Salah satunya melalui  koperasi. Koperasi dan pariwisata harus terintegrasi. Sebab pariwisata  adalah usaha yang sustainable.

Ketua Koperasi Pariwisata (Kopari)  Gemilang Borobudur Suherman menjelaskan koperasi yang dipimpinnya cukup sukses mengelola destinasi pariwisata berbasis masyarakat. Kopari berdiri pada 12 Juni 1996. Kini dikelola oleh lima pengurus dan 110 karyawan. Kopari memiliki 1.335 anggota dengan 3000an anggota merupakan pedagang. Unit usaha Kopari diantaranya simpan pinjam, cetak foto untuk wisatawan, laundry untuk melayani hotel dan masyarakat sekitar, rumah makan, konveksi, hingga taman kupu-kupu. Kegiatan usaha Kopari antara lain fotografer sebanyak 76, guide (47), perajin (72), pedagang souvenir (571), dan penginapan (74). Tahun 2012 Kopari memperoleh bantuan tenda berjualan dari Kementerian Koperasi untuk 70 pedagang.  Saat ini Kopari tengah mengembangkan Rumah Catra Borobudur dengan bansos Rp 400 juta dari Kementerian Koperasi.

Melalui koperasi Suherman mengaku mendapat perkuatan dari Kementerian Koperasi serta Dinas Koperasi provinsi dan kabupaten untuk kelembagaan,  SDM, dan modal. Terkait pariwisata ada tiga hal yang dilaksanakan selama ini, yakni daya tarik, promosi, dan pelayanan (termasuk infrastruktur) yang   tidak bisa dipisahkan. Candi Borobudur dikunjungi 3,5 juta wisatawan dalam satu tahun yang terdiri dari 3,2 juta wisatawan domestik  dan 300 ribu wisatawan asing. Hampir semua wisatawan bertanya, apa yang kamu punya selain Borobudur, apa yang dapat saya lihat. Artinya mereka haus atraksi atau pertunjukan selain Borobudur. Itu bisa dikembangkan, salah satunya desa wisata. “Maka guide  menjual paket wisata untuk orang asing untuk menjawab pertanyaan selain Borobudur apalagi yang bisa dilihat karena mereka masih punya waktu 1-2 jam setelah dari Candi Borobudur,” ujar Suherman.

Melalui koperasi, para anggota menjadi lebih kuat misalnya membeli mesin cetak  foto seharga Rp 800 juta. Kalau tidak berkoperasi,  tidak punya kemampuan untuk itu. Selain itu anggota diberi kesempatan mengikuti pelatihan termasuk dikirim ke Jepang selama dua minggu. Ada juga  perkuatan modal dari BUMN sebesar Rp 5 miliar yang disalurkan kepada anggota,  koperasi sebagai penjamin. Salah satu keuntungan berkoperasi adalah koperasi hadir sebagai penjamin untuk anggota-anggotanya.

Suherman menyampaikan konsep Kopari adalah membuat anggota menjadi lebih mudah dan ringan dalam  mencari nafkah.  Contohnya Kopari  membantu permodalan. Ketika anggota mengajukan pinjaman lebih dari Rp 10 juta Kopari mencarikan ke bank. Sementara anggota tidak punya akses karena tidak memiliki  KTP. Di sini Kopari  mengambil peran, melindungi dan melayani. Kalau anggota butuh surat keterangan usaha dari kepala desa, Kopari akan membantu. Contoh lain dari perlindungan yang dilakukan Kopari adalah mengangkat  pengamen menjadi kelompok entertain. “Intinya harus ada kemauan untuk ikhlas membantu mereka, total,” tutur Suherman.

Menurut Oneng,  pelaku usaha pariwisata bisa dibawa ke Kopari untuk mendengarkan success story mereka. Mungkin dahulu ada sejarah yang buruk terkait pengelola koperasi yang membuat pelaku usaha belum berminat membentuk koperasi. Image ini harus dihapus dan dibenahi bersama. Bagaimana sosialisasinya agar meyakinkan pelaku usaha untuk menjadi anggota koperasi. Sementara Wayan berpandangan kunci utama membangun koperasi adalah pemahaman masyarakat. Koperasi adalah milik kita bersama,  bukan milik pengurus. Ketika koperasi untung, untuk kepentingan bersama. Jika koperasi buntung, semua  harus menanggung. Maka penyuluhan itu penting sekali. Di daerah dikenal dengan  penyuluh koperasi lapangan yang ditugaskan memberi pemahaman mengenai  koperasi. Mari menjadi Jogja Menjadi Indonesia bersama koperasi pariwisata!

Pengembangan Pariwisata melalui Koperasi

Gelombang yang Menumbuhkan Optimisme

foto8
Sepatu karya Dreamdelion Yogyakarta  (sumber Instagram: @dreamdelion)

Masa depanmu sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang.

Anak muda yang tak kalah membanggakan dalam menjadi Jogja menjadi Indonesia adalah Alia Noor Anoviar, pendiri Dreamdelion. Komunitas yang fokus pada pemberdayaan masyarakat tersebut didirikan pada 2012. Dreamdelion berasal dari  dua suku kata, dream dan delion. Dream itu mimpi, delion diambil dari bunga dandelion yang terbang saat ditiup. Filosofi Dreamdelion adalah  menyebarkan mimpi.

Alia membentuk Dreamdelion   setelah mendapatkan kesempatan pertukaran mahasiswa ke Thailand selama empat bulan. Di sana Alia mempelajari  social business yang digerakkan kaum muda  ternyata bisa membantu masyarakat. Sekembalinya ke Indonesia  Alia bercita-cita social business tersebut  diterapkan di Indonesia. Awalnya Dreamdelion tidak langsung mengarah ke  perekonomian masyarakat, melainkan pengembangan  komunitas. Bermula dengan  sanggar yang dibina Alia bersama teman-temannya. Terasa kebermanfaatan sanggar untuk anak-anak. Mereka lebih semangat belajar dan singgah di perpustakaan.

Setelah itu Dreamdelion mengadakan  kegiatan dengan merujuk kepada  fenomena di wilayah itu, misalnya gizi buruk. Semuanya dilakukan secara bertahap. Tentunya itu semua tidak lepas dari evaluasi. Dari sanggar Alia mencoba  mengembangkannya menjadi sebuah entitas bisnis untuk mendukung kegiatan sosialnya hingga dinamakan Dreamdelion. Alia  melibatkan masyarakat sebagai pembuat produk, tidak hanya mengambil dari pihak ketiga. Alia berharap generasi muda menelurkan karya yang tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri, juga  masyarakat. Gunakan social media untuk  mengembangkan karya tersebut.

foto3
Energi positif yang dikelola menjadi gerakan positif

Marketing and Branding Manager Yayasan Dreamdelion Indonesia Evaulia Nindya Kirana memaparkan, Dreamdelion beroperasi di Jakarta dan Yogyakarta serta tengah mengembangkan Ngawi. Di Yogyakarta, Dreamdelion menyasar Moyudan. Di sana mereka  mengembangkan perajin tenun stagen. “Seiring dengan hadirnya korset modern, stagen tidak digunakan lagi,” tutur Eva yang lahir di Kediri, 3 Oktober 1994.

Ada tiga program Dreamdelion, yakni kreatif, sehat, dan cerdas.  Dreamdelion Sehat  memberikan penyuluhan seperti pola hidup sehat dan pengembangan  tanaman organik. Dreamdelion mengajak siapapun  berkontribusi, misalnya menjadi trainer atau volunteer. Trainer bertugas  mengajarkan masyarakat menanam tanaman vertikultur atau tanaman pewarna alam hingga pembibitan lele.

Dreamdelion Cerdas memberikan pengajaran di sanggar belajar dua minggu sekali. Dreamdelion sering berkolaborasi dengan komunitas lain untuk melakukan kegiatan pembelajaran di sana. Fokusnya adalah  pendidikan karakter misalnya berperilaku jujur hingga mengasah kreativitas. Sementara itu Dreamdelion Kreatif  mengajarkan kaum ibu mengenai capacity building untuk mengembangkan sebuah produk. Bagaimana mengembangkan masyarakat dengan pendekatan bisnis. Di  Manggarai pengembangan bisnis dilakukan dengan  membuat produk-produk recycle. “Transform social problem to social business opportunity,” tutur Eva yang menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Eva mengisahkan, perajin stagen di  Moyudan menenun untuk mendapatkan penghasilan di samping pekerjaan utama mereka sebagai petani. Penghasilannya  Rp 18 ribu per 10 meter padahal mereka menenun dengan alat tenun bukan mesin. Bagaimana stagen dikembangkan  menjadi produk? Dreamdelion lalu bekerja sama dengan salah satu social business di Yogyakarta untuk mengembangkan stagen menjadi bermotif. Produk turunannya antara lain, tas, kaos, hingga sepatu. Dreamdelion fokus pada pendampingan masyarakat, bukan berbisnis. Tujuannya membuat masyarakat lebih mandiri.

Saat ini masyarakat tengah mengembangkan koperasi dan  desa wisata. Beberapa waktu lalu Eva diamanahkan oleh Dreamdelion untuk menjadi project officer Pasar Tenun Rakyat. Kegiatan yang diadakan dalam acara itu adalah tur desa, workshop tenun, workshop pewarnaan alam, latihan tari tradisional, sampai konservasi lahan. Dreamdelion tidak hanya menyasar isu sosial dan budaya, juga alam.

Eva mengenang Dreamdelion pernah ditolak  masyarakat  karena dianggap masih mahasiswa. Namun mereka gigih ingin  membantu masyarakat. Hingga Dreamdelion memperoleh kepercayaan dari masyarakat. Dreamdelion mengadakan pelatihan pembuatan produk. Selanjutnya produk diserap dengan kontrol dari Dreamdelion. Proses pendekatan yang biasanya dilakukan Dreamdelion membutuhkan waktu 3-6 bulan.

Eva bersyukur dengan keberadaan volunteer di Dreamdelion yang kini berjumlah  2.000 orang. Ia menilai volunteer menjadikan Dreamdelion  semakin berkembang karena power word of mouthnya besar. Walaupun di awal kegiatan masih sulit mendapatkan volunteer karena  mereka mengira kegiatan ini  tidak jelas. Eva percaya siapapun bisa melakukan sesuatu yang positif. Menularkan energi  positif untuk sesuatu yang positif juga. “Hambatan lainnya adalah funding karena kami tidak bisa menjalankan program tanpa funding,” tutur Eva.

Eva memberi saran agar kita mudah diterima masyarakat. Pertama, jangan memaksakan sesuatu ke mereka. pendekatannya ekstra sabar. Kedua,  bawa diri sedekat mungkin dengan masyarakat. Ketika kita sudah mulai dekat dengan masyarakat, persoalan akan terlihat. Ketiga, persoalan sebaiknya diselesaikan dengan berinteraksi ketimbang program. Keempat, mendekatkan diri secara personal dengan  orang yang paling berpengaruh di wilayah itu,  misalnya kepala desa atau kepala dusun.

Eva yang baru saja kembali dari Flores setelah melakukan kegiatan community service selama 1,5 bulan menyampaikan, interaksi dengan masyarakat menyadarkannya bahwa sebenarnya pembangunan di Indonesia belum merata. Kadang kita masih ragu apa yang bisa dilakukan, apakah yang dilakukan ini merupakan hal yang besar. Bagi Eva, perubahan juga bisa terjadi meskipun  hanya dalam lingkup kecil. Kita masih punya energi yang banyak. Gunakan energi itu untuk melakukan sesuatu yang positif.

Gelombang yang Menumbuhkan Optimisme

Menjawab Tantangan Jaman melalui Pengembangan Pariwisata Berbasis Koperasi

Care, share, dan fair menjadi falsafah dalam koperasi. Pariwisata sebagai penggerak kehidupan masyarakat menjadi penting melalui koperasi.

Sebuah kota di Jepang sukses mengembangkan pariwisata. Dampak lanjutannya adalah kemajuan UKM  dari hulu ke hilir yang menciptakan kesejahteraan masyarakat.  Konsep itu kemudian dikembangkan di Indonesia dengan pengelolaan wisata melalui koperasi. Kementerian Koperasi mencoba mensupport pengelolaan wisata agar dapat dinikmati oleh masyarakat setempat di masa mendatang,  bukan investor.

Pariwisata Bali tidak dinikmati oleh orang Bali itu sendiri. Awalnya Kuta dibangun dengan konsep homestay. Namun demi pendapatan asli yang tinggi, datanglah investor yang membangun hotel. Pemiliknya adalah orang asing sementara orang Bali  menjadi kuli. Oleh karena itu di Bali ada  destinasi wisata yang dikelola oleh koperasi. Salah satunya di Batur untuk penyeberangan ke Trunyan yang difasilitasi tahun 2005. Dulu ada lima bantuan kapal untuk penyeberangan yang kini menjadi  15. Selain itu bantuan satu kapal untuk  penyeberangan ke  Gili Trawangan pada  2012 yang sekarang menjadi lima kapal. Artinya perkembangan bisnis pariwisata yang dikelola koperasi itu luar biasa. Masyarakat  yang menikmati.

Esensinya  koperasi itu dari, oleh dan untuk anggota. Bagaimana  mengembangkan destinasi wisata dengan  capacity building yang dimiliki masyarakat. Sebab pariwisata itu menjual jasa. Kalau masyarakat  tidak ramah, jangan pernah berharap wisatawan akan datang seindah apapun destinasi itu. Dahulu di Bali hampir setiap wisatawan dihampiri masyarakat yang menjual souvenir. Mereka mengeluh karena hal itu mengganggu. Setelah itu masyarakat dididik untuk  menghargai tamu. Dengan cara demikian  wisatawan semakin nyaman datang ke Bali. Jika masyarakat dilibatkan dalam pariwisata,  penyerapan tenaga kerja dan devisa meningkat.

Kementerian Pariwisata memproyeksikan pada 2020 sektor pariwisata menjadi  penyumbang devisi tertinggi mengalahkan gas, batu bara, dan kelapa sawit. Posisi saat ini masih di rangking empat.  Target lainnya adalah tahun  2019 wisatawan mancanegara sejumlah 20 juta dan wisatawan nusantara 275 juta. Untuk itu diperlukan kerja keras. Indeks daya saing pariwisata Indonesia pada 2015 berada di posisi 50 dari 141 negara. Tahun sebelumnya  di posisi 70, artinya ada kenaikan yang cukup signifikan. Diprediksi pada tahun ini indeks daya saing pariwisata di angka 30.

Untuk itu  pemerintah telah menetapkan strategi, yakni   pengembangan pariwisata melalui empat pilar, yaitu pengembangan destinasi, pengembangan pemasaran, pengembangan industri pariwisata, dan pengembangan kelembagaan. Fokusnya adalah sumber daya manusia (SDM). Dari  empat pilar tersebut  pemerintah telah melakukan beberapa hal, diantaranya  anggaran pemasaran sebesar  Rp 3 triliun yang semula  Rp 300 miliar. Maka  promosi  gencar dilakukan. Di sisi lain meningkatkan destinasi dalam komponen perwilayahan, aksesibilitas, atraksi, pemberdayaan masyarakat, dan investasi.

Masyarakat tidak kalah penting dalam pengembangan pariwisata selain  pemerintah pusat, pemerintah daerah,  pemerintah kabupaten/kota, akademisi, pelaku industri,  dan media. Bagaimana masyarakat bisa menjadi tuan rumah yang baik untuk keberlangsungan pembangunan pariwisata serta bagaimana masyarakat bisa menciptakan kondisi yang kondusif di dalam destinasi pariwisata agar pembangunan pariwisata bisa berjalan dengan baik. Tentunya bagaimana masyarakat bisa mendapat manfaat ekonomi dari kegiatan kepariwisataan. Kalau mereka belum  menikmati hasil dari kegiatan kepariwisataan, keamanan terganggu.  Ini sebenarnya mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Bagaimana masyarakat bisa menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan, keindahan, dan keramahan. Kalau hal tersebut berjalan, aktivitas kepariwisataan di sebuah destinasi akan berkembang lebih baik. Kementerian Pariwisata  menggerakkan masyarakat untuk menjaga destinasinya agar kondusif. Selain itu melakukan beberapa program peningkatan kapasitas usaha masyarakat dengan membimbing mereka memasuki industri sebab  potensinya sangat banyak. Rantai pariwisata seperti transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, hingga atraksi memiliki  potensi usaha. Bagaimana masyarakat mengakses hal itu untuk pengembangan  usaha. Bagaimana pelaku usaha  mengakses permodalan? Tentunya melalui pelatihan dan bimbingan teknis.

Tahun 2009 Kementerian Pariwisata mengembangkan desa wisata dengan konsep community based tourism. Bagaimana masyarakat menggali potensi  di lingkungan mereka untuk dijadikan  atraksi yang bisa dijual dan  dikelola oleh masyarakat. Kementerian Pariwisata menetapkan standar untuk kenyamanan wisatawan, yakni satu rumah maksimal lima kamar yang disewakan. Lebih dari  itu wisatawan dan masyarakat  tidak dapat berinteraksi dengan baik. Setelah dilakukan evaluasi, mereka yang berhasil    adalah bottom up sebab masyarakat betul-betul mengelola. Pengembangan desa wisata  dari top down tidak akan berjalan. Banyak sekali masyarakat yang mengembangkan desa wisata yang betul-betul dari masyarakat, dikelola masyarakat, dan masyarakat sebagai pemilik desa wisata tersebut.

Kementerian Pariwisata  bekerja sama dengan Kementerian Koperasi  mengarahkan kelompok sadar wisata sebanyak 1.440 di seluruh Indonesia yang diarahkan untuk membentuk koperasi.  Para pedagang di destinasi wisata sudah mulai diarahkan untuk membentuk koperasi sehingga lebih mudah  mengakses modal. Desa wisata yang dibina oleh Kementerian Pariwisata dari tahun 2009 sampai 2014 melalui dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat telah membentuk 1.400 desa wisata. Namun setelah dievaluasi yang berkembang kurang dari 10 persen.

Integrasi

Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) dibentuk berdasarkan Undang-Undang Pariwisata Nomor 10 Tahun 1999. Terdapat  13 jenis usaha pariwisata dengan 56 sektor usaha pariwisata yang bisa dikembangkan. Untuk membangun pariwisata harus menempatkannya  sebagai prioritas pembangunan demi kesejahteraan masyarakat. Namun  masing-masing kementerian jalan sendiri-sendiri. Pariwisata perlu dirigen atau panglima.

Terkait wisata bahari, 70 persen wilayah Indonesia adalah laut. Problem yang harus dijawab  adalah infrastruktur terutama aksesibilitas di pulau-pulau. Untuk itu harus melibatkan akademisi, pengusaha, pemerintah, komunitas, dan pers. Bagaimana kerjasama antardepartemen serta  antara pemerintah dan akademisi. Bagaimana pebisnis membina masyarakat serta  mengusahakan permodalan dan pemasaran. Salah satunya melalui  koperasi. Koperasi dan pariwisata harus terintegrasi. Sebab pariwisata  adalah usaha yang sustainable.

Koperasi Pariwisata (Kopari)  Gemilang Borobudur cukup sukses mengelola destinasi pariwisata berbasis masyarakat. Kopari berdiri pada 12 Juni 1996. Kini dikelola oleh lima pengurus dan 110 karyawan. Kopari memiliki 1.335 anggota dengan 3000an anggota merupakan pedagang. Unit usaha Kopari diantaranya simpan pinjam, cetak foto untuk wisatawan, laundry untuk melayani hotel dan masyarakat sekitar, rumah makan, konveksi, hingga taman kupu-kupu. Kegiatan usaha Kopari antara lain fotografer sebanyak 76, guide (47), perajin (72), pedagang souvenir (571), dan penginapan (74). Tahun 2012 Kopari memperoleh bantuan tenda berjualan dari Kementerian Koperasi untuk 70 pedagang.  Saat ini Kopari tengah mengembangkan Rumah Catra Borobudur dengan bansos Rp 400 juta dari Kementerian Koperasi.

Melalui koperasi, ada penguatan dari Kementerian Koperasi serta Dinas Koperasi provinsi dan kabupaten untuk kelembagaan,  SDM, dan modal. Terkait pariwisata ada tiga hal yang dilaksanakan selama ini, yakni daya tarik, promosi, dan pelayanan (termasuk infrastruktur) yang   tidak bisa dipisahkan. Candi Borobudur dikunjungi 3,5 juta wisatawan dalam satu tahun yang terdiri dari 3,2 juta wisatawan domestik  dan 300 ribu wisatawan asing. Hampir semua wisatawan bertanya, apa yang kamu punya selain Borobudur, apa yang dapat saya lihat. Artinya mereka haus atraksi atau pertunjukan selain Borobudur. Itu bisa dikembangkan, salah satunya desa wisata. Maka guide  menjual paket wisata untuk orang asing untuk menjawab pertanyaan selain Borobudur apalagi yang bisa dilihat karena mereka masih punya waktu 1-2 jam setelah dari Candi Borobudur.

Melalui koperasi, para anggota menjadi lebih kuat misalnya membeli mesin cetak  foto seharga Rp 800 juta. Kalau tidak berkoperasi,  tidak punya kemampuan untuk itu. Selain itu anggota diberi kesempatan mengikuti pelatihan termasuk dikirim ke Jepang selama dua minggu. Ada juga  perkuatan modal dari BUMN sebesar Rp 5 miliar yang disalurkan kepada anggota,  koperasi sebagai penjamin. Salah satu keuntungan berkoperasi adalah koperasi hadir sebagai penjamin untuk anggota-anggotanya.

Konsep Kopari adalah membuat anggota menjadi lebih mudah dan ringan dalam  mencari nafkah.  Contohnya Kopari  membantu permodalan. Ketika anggota mengajukan pinjaman lebih dari Rp 10 juta Kopari mencarikan ke bank. Sementara anggota tidak punya akses karena tidak memiliki  KTP. Di sini Kopari  mengambil peran, melindungi dan melayani. Kalau anggota butuh surat keterangan usaha dari kepala desa, Kopari akan membantu. Contoh lain dari perlindungan yang dilakukan Kopari adalah mengangkat  pengamen menjadi kelompok entertain. Intinya harus ada kemauan untuk ikhlas membantu mereka, total.

Pelaku usaha pariwisata bisa dibawa ke Kopari untuk mendengarkan success story mereka. Mungkin dahulu ada sejarah yang buruk terkait pengelola koperasi yang membuat pelaku usaha belum berminat membentuk koperasi. Image ini harus dihapus dan dibenahi bersama. Bagaimana sosialisasinya agar meyakinkan pelaku usaha untuk menjadi anggota koperasi.  Kunci utama membangun koperasi adalah pemahaman masyarakat. Koperasi adalah milik kita bersama,  bukan milik pengurus. Ketika koperasi untung, untuk kepentingan bersama. Jika koperasi buntung, semua  harus menanggung. Maka penyuluhan itu penting sekali. Di daerah dikenal dengan  penyuluh koperasi lapangan yang ditugaskan memberi pemahaman mengenai  koperasi.

Dalam pasal 33 UUD 1945 disebutkan amanat perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Dengan demikian produksi, distribusi, dan konsumsi harus mengacu kepada ekonomi berbasis kerakyatan yaitu ekonomi kekeluargaan. Akan tetapi di tengah perjalanan waktu dengan adanya globalisasi dan liberalisasi menjadikan koperasi saat ini mengalami kegamangan. Bagaimana  koperasi tetap eksis dan menjadi jati diri bangsa?

Perubahan

Reformasi di bidang koperasi mencakup tiga aspek, rehabilitasi, reorientasi, dan pengembangan. Semua aspek tersebut  untuk menghadapi perubahan baik di tingkat  regional maupun internasional. Perubahan yang sangat signifikan di tingkat nasional adalah kecenderungan bunga kredit single digit, ditandai dengan suku bunga KUR yang tahun depan turun menjadi 7%. Tentunya koperasi yang mengandalkan bunga tinggi harus bisa mengantisipasi. Koperasi harus qualified baik dalam segi modal maupun pelayanan.

Rehabilitasi dilakukan dengan  mendata anggota koperasi dan menata kembali kelembagaan. Reorientasi dengan  melakukan  input teknologi informasi yang semula koperasi tradisional menjadi koperasi modern. Sementara  pengembangan dilakukan melalui kerja sama dengan lembaga asing untuk memperoleh bunga yang rendah serta melakukan investasi dan modal penyertaan. Koperasi jangan terlena oleh situasi di zona nyaman, harus melakukan perubahan. Koperasi yang tidak melakukan pengembangan perlahan akan tergerus dan terhempas. Terlebih  tantangan ke depan semakin besar. Hal ini perlu  menjadi introspeksi bersama.

Koperasi belum  berjalan sesuai dengan harapan padahal koperasi adalah soko guru bangsa. Koperasi adalah lembaga ekonomi yang sangat cocok di Indonesia. Jika koperasi yang memiliki  watak kemasyarakatan dikembangkan, perekonomian kita akan tercapai. Pada  2016 anggaran koperasi  hanya Rp 1,2 triliun, tidak mencapai 1% dari  total APBN. Untuk itu keberpihakan negara  diperlukan. Kita harus berani mengubah UU No. 39 Tahun 2008. Pemerintah  menempatkan Kementerian Koperasi dan UKM  pada level 3, bukan level 1. Artinya belum menjadi skala prioritas. Bagaimana koperasi kita akan besar, makmur kalau kita tahu kekuatan ekonomi kita ada di koperasi. Bandingkan dengan Malaysia dan Singapura.

Seharusnya pemerintah  melakukan pembinaan dan pendampingan, selain mengucurkan dana. Diharapkan pemerintah memberikan anggaran Rp 3-5 triliun  untuk koperasi. Kalau pemerintah ingin koperasi bisa bersaing dengan MEA,  pemerintah harus berpihak dengan anggaran. Untuk mencapai hal tersebut tidak ada magic formula. Karena itu kita harus berproses mencari keseimbangan. Kita harus waspada, perjuangan ke depan berat dan kita harus menanggulangi keadaan. Kita harus  menyerang, maju, menyerbu.

Kondisi yang kita hadapi sekarang adalah  pelemahan ekonomi global. Di lain sisi, ada hal baru yang bisa direngkuh, yakni memperkuat pasar domestik. Indonesia membutuhkan upaya serius untuk berbenah diri, dalam segi korupsi, efisiensi birokrasi pemerintahan, pajak, sampai dengan public utility. Bagaimana caranya koperasi mampu menghadapi kompetisi di ASEAN? Mari kita mengkoperasikan koperasi. Apa artinya? Semakin banyak koperasi yang mengabaikan identitasnya sebagai koperasi, sebagai organisasi yang menekankan aspek pendidikan, sebagai lembaga yang menjunjung tinggi rapat anggota tahunan. Lebih serius adalah  sebagai usaha yang bersedia melakukan kerja sama antarkoperasi. Padahal kerja sama itu dibentuk untuk memperbesar skala usaha dan mengurangi risiko. Ini yang jarang dilakukan. Koperasi lebih senang bekerja sendiri.

Tantangan

Koperasi memiliki ciri kelembagaan yang berbeda dengan lembaga usaha lainnya. Pertama, koperasi harus memiliki legalitas yang memadai untuk bisa melakukan kebijakan hukum maupun kerja sama usaha. Kedua, koperasi harus memiliki kompetensi. Terlalu banyak koperasi yang serba usaha. Ketiga, koperasi harus member based organization, benar-benar menjadikan anggota sebagai pemilik sekaligus pelanggan. Ketika bicara MEA kita harus bicara kemampuan koperasi itu sendiri. Terlebih kita memasuki era perubahan. Kalau koperasi tidak mau berubah,  tidak mungkin  mengikuti dinamisasi persaingan yang akan terjadi.

Mengapa harus berubah? Sekarang eranya sudah mengalami pergeseran yang luar biasa. Dulu ketika  mau berbisnis, harus ada financial capital. Sekarang  yang diandalkan adalah intelectual capital. Mengapa koperasi harus melakukan perubahan? Karena jamannya sudah berbeda, tantangannya sudah berbeda. Dulu hanya menggunakan monostrategic, sekarang harus multistrategic. Mengapa koperasi harus menangkap semua peluang itu? Pertama, koperasi sebagai gerakan ekonomi,  indikator  menghimpun kekuatan, kemampuan sosial, ekonomi, dan budaya komunitas. Kedua, koperasi harus melakukan konsolidasi sosial dan ekonomi. Sebab koperasi adalah kumpulan orang. Persoalan yang kita hadapi bersama adalah intrik internal. Harus dilakukan konsolidasi sosial sehingga nyawa untuk bersatu itu diilhami oleh nilai-nilai dan jati diri koperasi.

Membangun revitalisasi bisnis koperasi membutuhkan hal-hal seperti,  koperasi harus berbisnis, konsolidasi bisnis baik internal maupun antarkoperasi, dan  modelisasi bisnis. Revitalisasi membutuhkan semangat perubahan di koperasinya, bukan di pemerintah atau legalitas. Kalau tidak mau berubah koperasi  akan tertinggal di landasan dan  mati. Kalau mau berubah, koperasi harus berupaya secara optimal dalam  penerapan manajemen profesional. Koperasi  adalah organisasi bisnis sehingga tidak terlepas dari hal-hal yang sifatnya  profitability, human resource, marketing, dan operation excellence. Salah satu contohnya adalah Aalsmeer Flower Auction, koperasi bunga terbesar di dunia. Dalam sehari jutaan bunga  dikirim dari seluruh dunia. Operasionalnya menggunakan teknologi informasi dan bunga itu dijual ke penjuru dunia.

Ada tiga hal yang mendasari kompetisi ke depan, globalisasi, urbanisasi,  dan digitalisasi. Bagaimana kita bersikap untuk koperasi? Keberlanjutan atau kesinambungan dari usaha termasuk koperasi ini sangat penting. Perlu model bisnis yang kuat di dalamya. Kalau kita sudah punya model bisnis yang kuat dan tim profesional yang baik, sebetulnya masalah pendanaan sangat memungkinkan. Kini ada  angel investor, private equity, hingga venture capitalist. Jika koperasi  punya modal bisnis yang kuat, tim yang nanti dikembangkan, pembeli yang banyak, dan bisnis yang memadai tak ada masalah. Ada perubahan dalam  bisnis, yang dilihat adalah networknya. Seberapa besar potensinya.

Kita harus sadar koperasi ini berbeda dengan perusahaan atau corporate. Maka Indonesia harus punya dasar bagaimana koperasi bisa berjalan supaya tetap bertahan. Karena koperasi didirikan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan dan memakmurkan anggota dan masyarakat pada umumnya. UU Nomor 25 Tahun 1992 mengatakan, pembangunan koperasi adalah tugas dan tanggung jawab pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia. Koperasi adalah kumpulan orang, bukan kumpulan modal. Syarat terbentuknya koperasi adalah kehendak bersama atau kesamaan interest. Koperasi gagal karena salah niat (mendirikan koperasi untuk mendapatkan sumbangan dari pemerintah), salah arah (antara sumber daya yang dimiliki dengan yang dilakukan itu berbeda), salah urus (tidak amanah, tidak dapat diandalkan untuk memegang koperasi dengan semangat koperasi, tidak jujur), salah pilih (harus memilih pengurus yang bagus, pengelola yang bagus, jangan sampai salah pilih nanti berlanjut ke salah urus), salah kaprah (menganggap sesuatu yang salah karena dilakukan di mana-mana dianggap benar).

Sekarang ini membangkitkan bisnis apapun bisa dilakukan selama pemilik bisnis memiliki kapasitas untuk bangkit kembali. Kapasitas yang pertama adalah kemampuan akan jiwa entrepreneurship (tanggung jawab, ulet, berani, tahan banting). Entrepreneurship itu harus banyak akal, tidak pernah berhenti melakukan pengembangan dan inovasi. Banyak masalah di sisi internal koperasinya, mengapa tidak bisa berkembang, mengapa tidak bisa maju. Kita harus kembalikan lagi ide dasar dalam koperasi yaitu konsolidasi sosial dari sebuah gerakan ekonomi, orang-orang yang memiliki kesadaran bersama, keinginan bekerja sama, dan keinginan mempercayakan kepada pengurusnya untuk mengelola potensi ekonominya secara bersama-sama.

Hanya koperasi yang bisa melakukan perubahan dan membesarkan koperasi itu sendiri. Anggota harus berpartisipasi aktif sebagai pemilik dan pengguna jasa koperasi. Kalau anggota tidak aktif, koperasi pasti tidak bisa berkembang dengan baik. Koperasi itu tidak harus berganti baju menjadi korporasi. Koperasi punya jiwanya tersendiri, tetapi dalam approach untuk membangun sustainable bisnis banyak hal yang bisa dilakukan sesuai dengan korporasi. Contohnya, sustainable bisnis, kelembagaan yang profesional, pendanaan yang kuat, hingga market yang bagus. Tak kalah penting adalah good governance atau keterbukaan, harus ada laporan yang terbuka. Merumuskan konsep koperasi yang baru adalah hal yang bisa dilakukan saat ini. Kolaborasi pengusaha, koperasi, anggota, dan pemerintah yang kuat itu bisa mempertahankan koperasi.

Bagaimana menghidupkan koperasi? Tidak ada kata lain selain kolaborasi. Konsep profitability itu sangat penting karena bicara sustainable bicara profitable. Tidak ada keuntungan, koperasi akan mati. Jangan malu-malu untuk mencari keuntungan yang wajar. MEA adalah sebuah keniscayaan yang harus dihadapi. Koperasi mau tidak mau menghadapi liberalisasi. Untuk itu pentingnya sebuah perubahan. Tanpa perubahan koperasi sulit masuk dalam ranah globalisasi. Regulator, legislatif, eksekutif telah memberikan dukungan, begitu juga dengan gerakan-gerakan koperasi. Intinya perubahan itu harus diikuti dengan paradigma baru. Ekonomi berbagi sebuah tawaran yang menarik, jati diri bangsa.

Menjawab Tantangan Jaman melalui Pengembangan Pariwisata Berbasis Koperasi

Wujud Bela Negara dengan Membeli Produk Dalam Negeri

Zuper Krunch 7
(kiri ke kanan) Direktur Utama LLP KUKM Ahmad Zabadi, founder FOKUS UMKM Cak Samsul, dan Ita Yudi dari Poes Craft.

Galeri Indonesia Wow (GIW) adalah rebranding dari UKM Gallery yang telah  berjalan dua tahun. GIW tidak sekadar ruang pamer, juga wadah peningkatan dalam bentuk inkubasi. Ada proses peningkatan kualitas, pemasaran, dan nilai tambah dari produk UKM yang menjadi mitra GIW.

Setelah proses rebranding itu apa yang terjadi dengan GIW? Strategi apa yang dilakukan oleh GIW untuk mencapai tujuan? Untuk itu pada diskusi Strategi Peningkatan Produktivitas KUKM melalui Galeri Indonesia Wow pada 2 Juni 2017 telah hadir tiga pembicara, yakni

Direktur Utama LLP KUKM Ahmad Zabadi, founder FOKUS UMKM Cak Samsul, dan Ita Yudi dari Poes Craft.  Zabadi memaparkan, GIW digerakkan sebagai ruang inkubasi dan pelayanan yang lebih luas untuk startup. UKM Gallery mulanya adalah display produk yang kemudian direbranding menjadi tempat transaksi dan kunjungan dari buyer. Dua tahun terakhir dilakukan optimalisasi dari potensi yang dimiliki Smesco sehingga menjadi sarana berkembangnya UKM dan lahirnya startup. Untuk itu ada perubahan atau diferensiasi dari UKM Gallery, seperti pop up store yakni bisa difungsikan sebagai venue acara.

Produk yang didisplay di GIW diperoleh dari roadshow guna mendapatkan produk unggulan kota-kota di Indonesia. Produk itu telah dikurasi. Di samping itu ada makerspace yang dimaksudkan sebagai ruang workshop, praktik kerja bagi peningkatakan kapasitas kualitas produk. Selain itu ada coworking space yang difungsikan sebagai ruang pertemuan dengan mitra. GIW bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata menggelar Wonderful Startup Academy yang disiapkan untuk menjadi startup di bidang pariwisata. “Harapannya pada Oktober nanti kita memiliki startup yang kompeten dan sudah siap menjadi pelaku usaha,” kata Zabadi.

GIW juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa secara reguler. Diharapkan bisa menginspirasi khususnya dalam kajian kewirausahaan. GIW juga menjembatani produk UKM untuk memasuki Carrefour dan Seven Eleven. Ita Yudi dari Poes Craft menganggap  GIW adalah rumah sehingga UKM tidak bertengkar, bisa saling curhat, serta saling memotivasi dan menyemangati. Di GIW dimungkinkan adanya sinergi yang saling menguatkan. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Kami saling memotivasi, saling menyemangati. UKM disatukan di dalam GIW. UKM saling memberikan info. Ada kenyamanan dan persaudaraan yang didapat. “Bergabung di GIW artinya mendapatkan branding dalam bentuk kepercayaan dari orang,” kata Ita yang sudah lima tahun bergabung di GIW.

Founder FOKUS UMKM Cak Samsul menjelaskan, GIW adalah layanan pemerintah bagi masyarakat. Artinya ini kesempatan bagi siapapun untuk memanfaatkan agar bisnisnya meningkat. Layanan pemerintah ini ada batasnya. Menurut UU No. 20 Tahun 2008, UKM naik kelas itu diukur dari omset dan aset. Artinya kalau omset dan asetnya meningkat maka ia naik kelas. Naik kelas itu dari usaha mikro ke usaha kecil atau dari usaha kecil ke usaha menengah. Dengan kata lain pindah kuadran, pindah skala usahanya. Selain itu diukur kelembagaan (semula tidak berbadan hukum kemudian berbadan hukum, itu artinya naik kelas), SDM (dari 20 SDM meningkat menjadi 40 SDM atau SDM lulusan SD menjadi lulusan SMA, itu artinya naik kelas), produksi (teknologi produksi atau cara produksi), dan akses pembiayaan (semula hanya mengandalkan dana CSR atau hibah kemudian menggunakan KUR, itu artinya naik kelas). “Pemasaran tidak hanya diukur dari omset, juga varian dan inovasi produk,” tutur Cak Samsul.

Inspirasi

Zabadi menyampaikan, dalam berbagai kesempatan pameran yang difasilitasi GIW terutama di luar negeri, furniture dan craft mendapat permintaan yang cukup tinggi. Ada progress yang cukup signifikan, bahwa hari ini Smesco dikenal baik bukan hanya orang melihat miniatur produk unggulan Indonesia, juga proses pengembangan talenta startup. Tidak kalah penting adalah startup dengan basis pendidikan yang cukup. Harus diakui, pendidikan terakhir 70% UKM adalah SD. Mereka dihadapkan pada era global dengan kompetitor yang amat mudah  merambah pasar. Idealnya harus naik kelas yang ditunjukkan dengan meluluskan wisudawan baru. Mulai tahun kemarin GIW menyelenggarakan UKM Award dan Smesco Inspiring Award. “Harapannya setelah wisuda, bisa digantikan dengan UKM yang baru, sukses mengangkat teman-temannya,” kata Zabadi.

Menurut Cak Samsul, rebranding adalah alat, bukan tujuan. Ukuran paling simpel adalah kunjungan orang. Ramainya apakah sudah sesuai dengan harapan atau tidak. Karena itu berhubungan dengan potential buyer. Berapa banyak UKM baru yang terinspirasi untuk tumbuh dan berkembang. Zabadi mengutarakan, 50-100 buyer internasional setiap bulan mengunjungi GIW. Mereka memberi apresiasi yang luar biasa bahwa produk Indonesia memiliki kualitas yang kompetitif. Saat berpameran di luar negeri, produk Indonesia tidak kalah dengan produk dari negara lain. Persoalannya bukan pada produk, melainkan biaya logistik sehingga daya saing relatif lebih rendah. Biaya logistik di Indonesia masih sangat mahal sehingga harga jual lebih mahal dibandingkan produk dari luar negeri. “Biaya logistik itu 30%-40% terhadap harga sehingga harga jual terbebani,” tutur Zabadi.

Produk UKM Indonesia tidak bisa dibandingkan dengan produk yang dibuat secara masif. Sangat tidak adil produk handmade ini dibandingkan dengan produk mesin. Saatnya kita berpihak pada UKM, membela habis-habisan. Bela negara dengan membeli produk UKM. Kalau kita masih membandingkan produk Indonesia dengan produk impor artinya kita membela negara lain. Dengan kata lain tidak menumbuhkan ekonomi di dalam negeri. Cak Samsul mengatakan, Gorontalo, Surakarta, dan Surabaya adalah tiga daerah yang sedang menerapkan UKM Naik Kelas. Mereka menjalankannya karena ada kebutuhan.

Wujud Bela Negara dengan Membeli Produk Dalam Negeri