Menjawab Tantangan Jaman melalui Pengembangan Pariwisata Berbasis Koperasi

Care, share, dan fair menjadi falsafah dalam koperasi. Pariwisata sebagai penggerak kehidupan masyarakat menjadi penting melalui koperasi.

Sebuah kota di Jepang sukses mengembangkan pariwisata. Dampak lanjutannya adalah kemajuan UKM  dari hulu ke hilir yang menciptakan kesejahteraan masyarakat.  Konsep itu kemudian dikembangkan di Indonesia dengan pengelolaan wisata melalui koperasi. Kementerian Koperasi mencoba mensupport pengelolaan wisata agar dapat dinikmati oleh masyarakat setempat di masa mendatang,  bukan investor.

Pariwisata Bali tidak dinikmati oleh orang Bali itu sendiri. Awalnya Kuta dibangun dengan konsep homestay. Namun demi pendapatan asli yang tinggi, datanglah investor yang membangun hotel. Pemiliknya adalah orang asing sementara orang Bali  menjadi kuli. Oleh karena itu di Bali ada  destinasi wisata yang dikelola oleh koperasi. Salah satunya di Batur untuk penyeberangan ke Trunyan yang difasilitasi tahun 2005. Dulu ada lima bantuan kapal untuk penyeberangan yang kini menjadi  15. Selain itu bantuan satu kapal untuk  penyeberangan ke  Gili Trawangan pada  2012 yang sekarang menjadi lima kapal. Artinya perkembangan bisnis pariwisata yang dikelola koperasi itu luar biasa. Masyarakat  yang menikmati.

Esensinya  koperasi itu dari, oleh dan untuk anggota. Bagaimana  mengembangkan destinasi wisata dengan  capacity building yang dimiliki masyarakat. Sebab pariwisata itu menjual jasa. Kalau masyarakat  tidak ramah, jangan pernah berharap wisatawan akan datang seindah apapun destinasi itu. Dahulu di Bali hampir setiap wisatawan dihampiri masyarakat yang menjual souvenir. Mereka mengeluh karena hal itu mengganggu. Setelah itu masyarakat dididik untuk  menghargai tamu. Dengan cara demikian  wisatawan semakin nyaman datang ke Bali. Jika masyarakat dilibatkan dalam pariwisata,  penyerapan tenaga kerja dan devisa meningkat.

Kementerian Pariwisata memproyeksikan pada 2020 sektor pariwisata menjadi  penyumbang devisi tertinggi mengalahkan gas, batu bara, dan kelapa sawit. Posisi saat ini masih di rangking empat.  Target lainnya adalah tahun  2019 wisatawan mancanegara sejumlah 20 juta dan wisatawan nusantara 275 juta. Untuk itu diperlukan kerja keras. Indeks daya saing pariwisata Indonesia pada 2015 berada di posisi 50 dari 141 negara. Tahun sebelumnya  di posisi 70, artinya ada kenaikan yang cukup signifikan. Diprediksi pada tahun ini indeks daya saing pariwisata di angka 30.

Untuk itu  pemerintah telah menetapkan strategi, yakni   pengembangan pariwisata melalui empat pilar, yaitu pengembangan destinasi, pengembangan pemasaran, pengembangan industri pariwisata, dan pengembangan kelembagaan. Fokusnya adalah sumber daya manusia (SDM). Dari  empat pilar tersebut  pemerintah telah melakukan beberapa hal, diantaranya  anggaran pemasaran sebesar  Rp 3 triliun yang semula  Rp 300 miliar. Maka  promosi  gencar dilakukan. Di sisi lain meningkatkan destinasi dalam komponen perwilayahan, aksesibilitas, atraksi, pemberdayaan masyarakat, dan investasi.

Masyarakat tidak kalah penting dalam pengembangan pariwisata selain  pemerintah pusat, pemerintah daerah,  pemerintah kabupaten/kota, akademisi, pelaku industri,  dan media. Bagaimana masyarakat bisa menjadi tuan rumah yang baik untuk keberlangsungan pembangunan pariwisata serta bagaimana masyarakat bisa menciptakan kondisi yang kondusif di dalam destinasi pariwisata agar pembangunan pariwisata bisa berjalan dengan baik. Tentunya bagaimana masyarakat bisa mendapat manfaat ekonomi dari kegiatan kepariwisataan. Kalau mereka belum  menikmati hasil dari kegiatan kepariwisataan, keamanan terganggu.  Ini sebenarnya mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Bagaimana masyarakat bisa menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan, keindahan, dan keramahan. Kalau hal tersebut berjalan, aktivitas kepariwisataan di sebuah destinasi akan berkembang lebih baik. Kementerian Pariwisata  menggerakkan masyarakat untuk menjaga destinasinya agar kondusif. Selain itu melakukan beberapa program peningkatan kapasitas usaha masyarakat dengan membimbing mereka memasuki industri sebab  potensinya sangat banyak. Rantai pariwisata seperti transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, hingga atraksi memiliki  potensi usaha. Bagaimana masyarakat mengakses hal itu untuk pengembangan  usaha. Bagaimana pelaku usaha  mengakses permodalan? Tentunya melalui pelatihan dan bimbingan teknis.

Tahun 2009 Kementerian Pariwisata mengembangkan desa wisata dengan konsep community based tourism. Bagaimana masyarakat menggali potensi  di lingkungan mereka untuk dijadikan  atraksi yang bisa dijual dan  dikelola oleh masyarakat. Kementerian Pariwisata menetapkan standar untuk kenyamanan wisatawan, yakni satu rumah maksimal lima kamar yang disewakan. Lebih dari  itu wisatawan dan masyarakat  tidak dapat berinteraksi dengan baik. Setelah dilakukan evaluasi, mereka yang berhasil    adalah bottom up sebab masyarakat betul-betul mengelola. Pengembangan desa wisata  dari top down tidak akan berjalan. Banyak sekali masyarakat yang mengembangkan desa wisata yang betul-betul dari masyarakat, dikelola masyarakat, dan masyarakat sebagai pemilik desa wisata tersebut.

Kementerian Pariwisata  bekerja sama dengan Kementerian Koperasi  mengarahkan kelompok sadar wisata sebanyak 1.440 di seluruh Indonesia yang diarahkan untuk membentuk koperasi.  Para pedagang di destinasi wisata sudah mulai diarahkan untuk membentuk koperasi sehingga lebih mudah  mengakses modal. Desa wisata yang dibina oleh Kementerian Pariwisata dari tahun 2009 sampai 2014 melalui dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat telah membentuk 1.400 desa wisata. Namun setelah dievaluasi yang berkembang kurang dari 10 persen.

Integrasi

Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) dibentuk berdasarkan Undang-Undang Pariwisata Nomor 10 Tahun 1999. Terdapat  13 jenis usaha pariwisata dengan 56 sektor usaha pariwisata yang bisa dikembangkan. Untuk membangun pariwisata harus menempatkannya  sebagai prioritas pembangunan demi kesejahteraan masyarakat. Namun  masing-masing kementerian jalan sendiri-sendiri. Pariwisata perlu dirigen atau panglima.

Terkait wisata bahari, 70 persen wilayah Indonesia adalah laut. Problem yang harus dijawab  adalah infrastruktur terutama aksesibilitas di pulau-pulau. Untuk itu harus melibatkan akademisi, pengusaha, pemerintah, komunitas, dan pers. Bagaimana kerjasama antardepartemen serta  antara pemerintah dan akademisi. Bagaimana pebisnis membina masyarakat serta  mengusahakan permodalan dan pemasaran. Salah satunya melalui  koperasi. Koperasi dan pariwisata harus terintegrasi. Sebab pariwisata  adalah usaha yang sustainable.

Koperasi Pariwisata (Kopari)  Gemilang Borobudur cukup sukses mengelola destinasi pariwisata berbasis masyarakat. Kopari berdiri pada 12 Juni 1996. Kini dikelola oleh lima pengurus dan 110 karyawan. Kopari memiliki 1.335 anggota dengan 3000an anggota merupakan pedagang. Unit usaha Kopari diantaranya simpan pinjam, cetak foto untuk wisatawan, laundry untuk melayani hotel dan masyarakat sekitar, rumah makan, konveksi, hingga taman kupu-kupu. Kegiatan usaha Kopari antara lain fotografer sebanyak 76, guide (47), perajin (72), pedagang souvenir (571), dan penginapan (74). Tahun 2012 Kopari memperoleh bantuan tenda berjualan dari Kementerian Koperasi untuk 70 pedagang.  Saat ini Kopari tengah mengembangkan Rumah Catra Borobudur dengan bansos Rp 400 juta dari Kementerian Koperasi.

Melalui koperasi, ada penguatan dari Kementerian Koperasi serta Dinas Koperasi provinsi dan kabupaten untuk kelembagaan,  SDM, dan modal. Terkait pariwisata ada tiga hal yang dilaksanakan selama ini, yakni daya tarik, promosi, dan pelayanan (termasuk infrastruktur) yang   tidak bisa dipisahkan. Candi Borobudur dikunjungi 3,5 juta wisatawan dalam satu tahun yang terdiri dari 3,2 juta wisatawan domestik  dan 300 ribu wisatawan asing. Hampir semua wisatawan bertanya, apa yang kamu punya selain Borobudur, apa yang dapat saya lihat. Artinya mereka haus atraksi atau pertunjukan selain Borobudur. Itu bisa dikembangkan, salah satunya desa wisata. Maka guide  menjual paket wisata untuk orang asing untuk menjawab pertanyaan selain Borobudur apalagi yang bisa dilihat karena mereka masih punya waktu 1-2 jam setelah dari Candi Borobudur.

Melalui koperasi, para anggota menjadi lebih kuat misalnya membeli mesin cetak  foto seharga Rp 800 juta. Kalau tidak berkoperasi,  tidak punya kemampuan untuk itu. Selain itu anggota diberi kesempatan mengikuti pelatihan termasuk dikirim ke Jepang selama dua minggu. Ada juga  perkuatan modal dari BUMN sebesar Rp 5 miliar yang disalurkan kepada anggota,  koperasi sebagai penjamin. Salah satu keuntungan berkoperasi adalah koperasi hadir sebagai penjamin untuk anggota-anggotanya.

Konsep Kopari adalah membuat anggota menjadi lebih mudah dan ringan dalam  mencari nafkah.  Contohnya Kopari  membantu permodalan. Ketika anggota mengajukan pinjaman lebih dari Rp 10 juta Kopari mencarikan ke bank. Sementara anggota tidak punya akses karena tidak memiliki  KTP. Di sini Kopari  mengambil peran, melindungi dan melayani. Kalau anggota butuh surat keterangan usaha dari kepala desa, Kopari akan membantu. Contoh lain dari perlindungan yang dilakukan Kopari adalah mengangkat  pengamen menjadi kelompok entertain. Intinya harus ada kemauan untuk ikhlas membantu mereka, total.

Pelaku usaha pariwisata bisa dibawa ke Kopari untuk mendengarkan success story mereka. Mungkin dahulu ada sejarah yang buruk terkait pengelola koperasi yang membuat pelaku usaha belum berminat membentuk koperasi. Image ini harus dihapus dan dibenahi bersama. Bagaimana sosialisasinya agar meyakinkan pelaku usaha untuk menjadi anggota koperasi.  Kunci utama membangun koperasi adalah pemahaman masyarakat. Koperasi adalah milik kita bersama,  bukan milik pengurus. Ketika koperasi untung, untuk kepentingan bersama. Jika koperasi buntung, semua  harus menanggung. Maka penyuluhan itu penting sekali. Di daerah dikenal dengan  penyuluh koperasi lapangan yang ditugaskan memberi pemahaman mengenai  koperasi.

Dalam pasal 33 UUD 1945 disebutkan amanat perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Dengan demikian produksi, distribusi, dan konsumsi harus mengacu kepada ekonomi berbasis kerakyatan yaitu ekonomi kekeluargaan. Akan tetapi di tengah perjalanan waktu dengan adanya globalisasi dan liberalisasi menjadikan koperasi saat ini mengalami kegamangan. Bagaimana  koperasi tetap eksis dan menjadi jati diri bangsa?

Perubahan

Reformasi di bidang koperasi mencakup tiga aspek, rehabilitasi, reorientasi, dan pengembangan. Semua aspek tersebut  untuk menghadapi perubahan baik di tingkat  regional maupun internasional. Perubahan yang sangat signifikan di tingkat nasional adalah kecenderungan bunga kredit single digit, ditandai dengan suku bunga KUR yang tahun depan turun menjadi 7%. Tentunya koperasi yang mengandalkan bunga tinggi harus bisa mengantisipasi. Koperasi harus qualified baik dalam segi modal maupun pelayanan.

Rehabilitasi dilakukan dengan  mendata anggota koperasi dan menata kembali kelembagaan. Reorientasi dengan  melakukan  input teknologi informasi yang semula koperasi tradisional menjadi koperasi modern. Sementara  pengembangan dilakukan melalui kerja sama dengan lembaga asing untuk memperoleh bunga yang rendah serta melakukan investasi dan modal penyertaan. Koperasi jangan terlena oleh situasi di zona nyaman, harus melakukan perubahan. Koperasi yang tidak melakukan pengembangan perlahan akan tergerus dan terhempas. Terlebih  tantangan ke depan semakin besar. Hal ini perlu  menjadi introspeksi bersama.

Koperasi belum  berjalan sesuai dengan harapan padahal koperasi adalah soko guru bangsa. Koperasi adalah lembaga ekonomi yang sangat cocok di Indonesia. Jika koperasi yang memiliki  watak kemasyarakatan dikembangkan, perekonomian kita akan tercapai. Pada  2016 anggaran koperasi  hanya Rp 1,2 triliun, tidak mencapai 1% dari  total APBN. Untuk itu keberpihakan negara  diperlukan. Kita harus berani mengubah UU No. 39 Tahun 2008. Pemerintah  menempatkan Kementerian Koperasi dan UKM  pada level 3, bukan level 1. Artinya belum menjadi skala prioritas. Bagaimana koperasi kita akan besar, makmur kalau kita tahu kekuatan ekonomi kita ada di koperasi. Bandingkan dengan Malaysia dan Singapura.

Seharusnya pemerintah  melakukan pembinaan dan pendampingan, selain mengucurkan dana. Diharapkan pemerintah memberikan anggaran Rp 3-5 triliun  untuk koperasi. Kalau pemerintah ingin koperasi bisa bersaing dengan MEA,  pemerintah harus berpihak dengan anggaran. Untuk mencapai hal tersebut tidak ada magic formula. Karena itu kita harus berproses mencari keseimbangan. Kita harus waspada, perjuangan ke depan berat dan kita harus menanggulangi keadaan. Kita harus  menyerang, maju, menyerbu.

Kondisi yang kita hadapi sekarang adalah  pelemahan ekonomi global. Di lain sisi, ada hal baru yang bisa direngkuh, yakni memperkuat pasar domestik. Indonesia membutuhkan upaya serius untuk berbenah diri, dalam segi korupsi, efisiensi birokrasi pemerintahan, pajak, sampai dengan public utility. Bagaimana caranya koperasi mampu menghadapi kompetisi di ASEAN? Mari kita mengkoperasikan koperasi. Apa artinya? Semakin banyak koperasi yang mengabaikan identitasnya sebagai koperasi, sebagai organisasi yang menekankan aspek pendidikan, sebagai lembaga yang menjunjung tinggi rapat anggota tahunan. Lebih serius adalah  sebagai usaha yang bersedia melakukan kerja sama antarkoperasi. Padahal kerja sama itu dibentuk untuk memperbesar skala usaha dan mengurangi risiko. Ini yang jarang dilakukan. Koperasi lebih senang bekerja sendiri.

Tantangan

Koperasi memiliki ciri kelembagaan yang berbeda dengan lembaga usaha lainnya. Pertama, koperasi harus memiliki legalitas yang memadai untuk bisa melakukan kebijakan hukum maupun kerja sama usaha. Kedua, koperasi harus memiliki kompetensi. Terlalu banyak koperasi yang serba usaha. Ketiga, koperasi harus member based organization, benar-benar menjadikan anggota sebagai pemilik sekaligus pelanggan. Ketika bicara MEA kita harus bicara kemampuan koperasi itu sendiri. Terlebih kita memasuki era perubahan. Kalau koperasi tidak mau berubah,  tidak mungkin  mengikuti dinamisasi persaingan yang akan terjadi.

Mengapa harus berubah? Sekarang eranya sudah mengalami pergeseran yang luar biasa. Dulu ketika  mau berbisnis, harus ada financial capital. Sekarang  yang diandalkan adalah intelectual capital. Mengapa koperasi harus melakukan perubahan? Karena jamannya sudah berbeda, tantangannya sudah berbeda. Dulu hanya menggunakan monostrategic, sekarang harus multistrategic. Mengapa koperasi harus menangkap semua peluang itu? Pertama, koperasi sebagai gerakan ekonomi,  indikator  menghimpun kekuatan, kemampuan sosial, ekonomi, dan budaya komunitas. Kedua, koperasi harus melakukan konsolidasi sosial dan ekonomi. Sebab koperasi adalah kumpulan orang. Persoalan yang kita hadapi bersama adalah intrik internal. Harus dilakukan konsolidasi sosial sehingga nyawa untuk bersatu itu diilhami oleh nilai-nilai dan jati diri koperasi.

Membangun revitalisasi bisnis koperasi membutuhkan hal-hal seperti,  koperasi harus berbisnis, konsolidasi bisnis baik internal maupun antarkoperasi, dan  modelisasi bisnis. Revitalisasi membutuhkan semangat perubahan di koperasinya, bukan di pemerintah atau legalitas. Kalau tidak mau berubah koperasi  akan tertinggal di landasan dan  mati. Kalau mau berubah, koperasi harus berupaya secara optimal dalam  penerapan manajemen profesional. Koperasi  adalah organisasi bisnis sehingga tidak terlepas dari hal-hal yang sifatnya  profitability, human resource, marketing, dan operation excellence. Salah satu contohnya adalah Aalsmeer Flower Auction, koperasi bunga terbesar di dunia. Dalam sehari jutaan bunga  dikirim dari seluruh dunia. Operasionalnya menggunakan teknologi informasi dan bunga itu dijual ke penjuru dunia.

Ada tiga hal yang mendasari kompetisi ke depan, globalisasi, urbanisasi,  dan digitalisasi. Bagaimana kita bersikap untuk koperasi? Keberlanjutan atau kesinambungan dari usaha termasuk koperasi ini sangat penting. Perlu model bisnis yang kuat di dalamya. Kalau kita sudah punya model bisnis yang kuat dan tim profesional yang baik, sebetulnya masalah pendanaan sangat memungkinkan. Kini ada  angel investor, private equity, hingga venture capitalist. Jika koperasi  punya modal bisnis yang kuat, tim yang nanti dikembangkan, pembeli yang banyak, dan bisnis yang memadai tak ada masalah. Ada perubahan dalam  bisnis, yang dilihat adalah networknya. Seberapa besar potensinya.

Kita harus sadar koperasi ini berbeda dengan perusahaan atau corporate. Maka Indonesia harus punya dasar bagaimana koperasi bisa berjalan supaya tetap bertahan. Karena koperasi didirikan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan dan memakmurkan anggota dan masyarakat pada umumnya. UU Nomor 25 Tahun 1992 mengatakan, pembangunan koperasi adalah tugas dan tanggung jawab pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia. Koperasi adalah kumpulan orang, bukan kumpulan modal. Syarat terbentuknya koperasi adalah kehendak bersama atau kesamaan interest. Koperasi gagal karena salah niat (mendirikan koperasi untuk mendapatkan sumbangan dari pemerintah), salah arah (antara sumber daya yang dimiliki dengan yang dilakukan itu berbeda), salah urus (tidak amanah, tidak dapat diandalkan untuk memegang koperasi dengan semangat koperasi, tidak jujur), salah pilih (harus memilih pengurus yang bagus, pengelola yang bagus, jangan sampai salah pilih nanti berlanjut ke salah urus), salah kaprah (menganggap sesuatu yang salah karena dilakukan di mana-mana dianggap benar).

Sekarang ini membangkitkan bisnis apapun bisa dilakukan selama pemilik bisnis memiliki kapasitas untuk bangkit kembali. Kapasitas yang pertama adalah kemampuan akan jiwa entrepreneurship (tanggung jawab, ulet, berani, tahan banting). Entrepreneurship itu harus banyak akal, tidak pernah berhenti melakukan pengembangan dan inovasi. Banyak masalah di sisi internal koperasinya, mengapa tidak bisa berkembang, mengapa tidak bisa maju. Kita harus kembalikan lagi ide dasar dalam koperasi yaitu konsolidasi sosial dari sebuah gerakan ekonomi, orang-orang yang memiliki kesadaran bersama, keinginan bekerja sama, dan keinginan mempercayakan kepada pengurusnya untuk mengelola potensi ekonominya secara bersama-sama.

Hanya koperasi yang bisa melakukan perubahan dan membesarkan koperasi itu sendiri. Anggota harus berpartisipasi aktif sebagai pemilik dan pengguna jasa koperasi. Kalau anggota tidak aktif, koperasi pasti tidak bisa berkembang dengan baik. Koperasi itu tidak harus berganti baju menjadi korporasi. Koperasi punya jiwanya tersendiri, tetapi dalam approach untuk membangun sustainable bisnis banyak hal yang bisa dilakukan sesuai dengan korporasi. Contohnya, sustainable bisnis, kelembagaan yang profesional, pendanaan yang kuat, hingga market yang bagus. Tak kalah penting adalah good governance atau keterbukaan, harus ada laporan yang terbuka. Merumuskan konsep koperasi yang baru adalah hal yang bisa dilakukan saat ini. Kolaborasi pengusaha, koperasi, anggota, dan pemerintah yang kuat itu bisa mempertahankan koperasi.

Bagaimana menghidupkan koperasi? Tidak ada kata lain selain kolaborasi. Konsep profitability itu sangat penting karena bicara sustainable bicara profitable. Tidak ada keuntungan, koperasi akan mati. Jangan malu-malu untuk mencari keuntungan yang wajar. MEA adalah sebuah keniscayaan yang harus dihadapi. Koperasi mau tidak mau menghadapi liberalisasi. Untuk itu pentingnya sebuah perubahan. Tanpa perubahan koperasi sulit masuk dalam ranah globalisasi. Regulator, legislatif, eksekutif telah memberikan dukungan, begitu juga dengan gerakan-gerakan koperasi. Intinya perubahan itu harus diikuti dengan paradigma baru. Ekonomi berbagi sebuah tawaran yang menarik, jati diri bangsa.

Menjawab Tantangan Jaman melalui Pengembangan Pariwisata Berbasis Koperasi

Wujud Bela Negara dengan Membeli Produk Dalam Negeri

Zuper Krunch 7
(kiri ke kanan) Direktur Utama LLP KUKM Ahmad Zabadi, founder FOKUS UMKM Cak Samsul, dan Ita Yudi dari Poes Craft.

Galeri Indonesia Wow (GIW) adalah rebranding dari UKM Gallery yang telah  berjalan dua tahun. GIW tidak sekadar ruang pamer, juga wadah peningkatan dalam bentuk inkubasi. Ada proses peningkatan kualitas, pemasaran, dan nilai tambah dari produk UKM yang menjadi mitra GIW.

Setelah proses rebranding itu apa yang terjadi dengan GIW? Strategi apa yang dilakukan oleh GIW untuk mencapai tujuan? Untuk itu pada diskusi Strategi Peningkatan Produktivitas KUKM melalui Galeri Indonesia Wow pada 2 Juni 2017 telah hadir tiga pembicara, yakni

Direktur Utama LLP KUKM Ahmad Zabadi, founder FOKUS UMKM Cak Samsul, dan Ita Yudi dari Poes Craft.  Zabadi memaparkan, GIW digerakkan sebagai ruang inkubasi dan pelayanan yang lebih luas untuk startup. UKM Gallery mulanya adalah display produk yang kemudian direbranding menjadi tempat transaksi dan kunjungan dari buyer. Dua tahun terakhir dilakukan optimalisasi dari potensi yang dimiliki Smesco sehingga menjadi sarana berkembangnya UKM dan lahirnya startup. Untuk itu ada perubahan atau diferensiasi dari UKM Gallery, seperti pop up store yakni bisa difungsikan sebagai venue acara.

Produk yang didisplay di GIW diperoleh dari roadshow guna mendapatkan produk unggulan kota-kota di Indonesia. Produk itu telah dikurasi. Di samping itu ada makerspace yang dimaksudkan sebagai ruang workshop, praktik kerja bagi peningkatakan kapasitas kualitas produk. Selain itu ada coworking space yang difungsikan sebagai ruang pertemuan dengan mitra. GIW bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata menggelar Wonderful Startup Academy yang disiapkan untuk menjadi startup di bidang pariwisata. “Harapannya pada Oktober nanti kita memiliki startup yang kompeten dan sudah siap menjadi pelaku usaha,” kata Zabadi.

GIW juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa secara reguler. Diharapkan bisa menginspirasi khususnya dalam kajian kewirausahaan. GIW juga menjembatani produk UKM untuk memasuki Carrefour dan Seven Eleven. Ita Yudi dari Poes Craft menganggap  GIW adalah rumah sehingga UKM tidak bertengkar, bisa saling curhat, serta saling memotivasi dan menyemangati. Di GIW dimungkinkan adanya sinergi yang saling menguatkan. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Kami saling memotivasi, saling menyemangati. UKM disatukan di dalam GIW. UKM saling memberikan info. Ada kenyamanan dan persaudaraan yang didapat. “Bergabung di GIW artinya mendapatkan branding dalam bentuk kepercayaan dari orang,” kata Ita yang sudah lima tahun bergabung di GIW.

Founder FOKUS UMKM Cak Samsul menjelaskan, GIW adalah layanan pemerintah bagi masyarakat. Artinya ini kesempatan bagi siapapun untuk memanfaatkan agar bisnisnya meningkat. Layanan pemerintah ini ada batasnya. Menurut UU No. 20 Tahun 2008, UKM naik kelas itu diukur dari omset dan aset. Artinya kalau omset dan asetnya meningkat maka ia naik kelas. Naik kelas itu dari usaha mikro ke usaha kecil atau dari usaha kecil ke usaha menengah. Dengan kata lain pindah kuadran, pindah skala usahanya. Selain itu diukur kelembagaan (semula tidak berbadan hukum kemudian berbadan hukum, itu artinya naik kelas), SDM (dari 20 SDM meningkat menjadi 40 SDM atau SDM lulusan SD menjadi lulusan SMA, itu artinya naik kelas), produksi (teknologi produksi atau cara produksi), dan akses pembiayaan (semula hanya mengandalkan dana CSR atau hibah kemudian menggunakan KUR, itu artinya naik kelas). “Pemasaran tidak hanya diukur dari omset, juga varian dan inovasi produk,” tutur Cak Samsul.

Inspirasi

Zabadi menyampaikan, dalam berbagai kesempatan pameran yang difasilitasi GIW terutama di luar negeri, furniture dan craft mendapat permintaan yang cukup tinggi. Ada progress yang cukup signifikan, bahwa hari ini Smesco dikenal baik bukan hanya orang melihat miniatur produk unggulan Indonesia, juga proses pengembangan talenta startup. Tidak kalah penting adalah startup dengan basis pendidikan yang cukup. Harus diakui, pendidikan terakhir 70% UKM adalah SD. Mereka dihadapkan pada era global dengan kompetitor yang amat mudah  merambah pasar. Idealnya harus naik kelas yang ditunjukkan dengan meluluskan wisudawan baru. Mulai tahun kemarin GIW menyelenggarakan UKM Award dan Smesco Inspiring Award. “Harapannya setelah wisuda, bisa digantikan dengan UKM yang baru, sukses mengangkat teman-temannya,” kata Zabadi.

Menurut Cak Samsul, rebranding adalah alat, bukan tujuan. Ukuran paling simpel adalah kunjungan orang. Ramainya apakah sudah sesuai dengan harapan atau tidak. Karena itu berhubungan dengan potential buyer. Berapa banyak UKM baru yang terinspirasi untuk tumbuh dan berkembang. Zabadi mengutarakan, 50-100 buyer internasional setiap bulan mengunjungi GIW. Mereka memberi apresiasi yang luar biasa bahwa produk Indonesia memiliki kualitas yang kompetitif. Saat berpameran di luar negeri, produk Indonesia tidak kalah dengan produk dari negara lain. Persoalannya bukan pada produk, melainkan biaya logistik sehingga daya saing relatif lebih rendah. Biaya logistik di Indonesia masih sangat mahal sehingga harga jual lebih mahal dibandingkan produk dari luar negeri. “Biaya logistik itu 30%-40% terhadap harga sehingga harga jual terbebani,” tutur Zabadi.

Produk UKM Indonesia tidak bisa dibandingkan dengan produk yang dibuat secara masif. Sangat tidak adil produk handmade ini dibandingkan dengan produk mesin. Saatnya kita berpihak pada UKM, membela habis-habisan. Bela negara dengan membeli produk UKM. Kalau kita masih membandingkan produk Indonesia dengan produk impor artinya kita membela negara lain. Dengan kata lain tidak menumbuhkan ekonomi di dalam negeri. Cak Samsul mengatakan, Gorontalo, Surakarta, dan Surabaya adalah tiga daerah yang sedang menerapkan UKM Naik Kelas. Mereka menjalankannya karena ada kebutuhan.

Wujud Bela Negara dengan Membeli Produk Dalam Negeri

Cerpen Aroma Papua

KSM
Anggota KSM menunjukkan buku yang mereka baca. (foto dokumentasi David Pasaribu)

Karya yang sarat dengan lokalitas timur Indonesia adalah harta karun tak ternilai. Ke depan akan  lahir penulis-penulis muda Papua yang  memperkaya dunia literasi Indonesia.

‘Eh, perem stop online su, tiap menit ko tinggal ol trus. Tra cape ka?’ Kalimat itu menjadi pembuka cerpen yang ditulis Chrisanta Sandy Loi. Karya  tersebut termuat dalam  buku berjudul Impian di Tepi Bakaro: Kumpulan Cerpen Manokwari. Nilai lebih bacaan itu adalah gaya bahasa, struktur kalimat, narasi, dialek, dan pola tutur sehari-hari  Melayu-Papua dan setting kota Manokwari. Wakil Pemimpin Umum Harian Cahaya Papua Manokwari, Patrix Barumbun Tandirerung menyebutkan buku tersebut menghentikan kebuntuan tradisi menulis di kalangan muda Manokwari

Para penulis cerpen berasal dari beragam latar belakang, mahasiswa, sarjana,  hingga karyawan. Namun yang mengejutkan, di antara mereka ada yang masih berstatus pelajar  SMA. Diawali dengan penyelenggaraan lomba menulis cerpen pada Oktober 2013 dengan tema Cinta di Manokwari. Lomba tersebut diselenggarakan oleh Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Papua Barat bekerjasama dengan Komunitas Suka Membaca (KSM) Manokwari yang digerakkan oleh  David Pasaribu. Tujuannya selain  menghasilkan buku sebagai bahan bacaan, juga menggairahkan kegiatan menulis di Papua Barat.

Ketua FTBM Papua Barat, Aksamina Kambuaya menjelaskan sudah saatnya ada karya tulis yang menceritakan keindahan alam, sejarah, budaya, tradisi, dan keseharian masyarakat Papua. Selain itu menceritakan harapan, cita, maupun cinta anak-anak Papua yang diprakarsai dan ditulis oleh generasi Papua itu sendiri. Penggunaan logat Papua selain merupakan syarat lomba dan  identitas buku,  juga sebagai upaya memudahkan peserta lomba dalam menulis dan bereksplorasi.

Sementara itu Onassius Pieter Moshe Matani dari DPD KNPI Provinsi Papua Barat memaparkan seringkali masyarakat  lebih menonjolkan budaya luar, tanpa menyadari potensi  budaya  sendiri yang menjadi akar. Budaya tersebut juga merupakan warisan yang layak dikembangkan menjadi nilai-nilai pendidikan yang baik untuk generasi Papua saat ini dan masa mendatang.

Menurut Onassius, buku ini merupakan karya kreatif brilian dari  anak-anak muda yang lahir dan tumbuh di lingkungan alam Papua. Dengan demikian mereka  memahami dan dapat menceritakan kisah-kisahnya dengan sangat nyata dan menyentuh. Onassius berharap kumpulan cerpen ini mampu menggugah inspirasi  dan membangkitkan semangat untuk lebih mencintai tradisi, seni, dan budaya Papua. Selain itu membangun  karakter yang kuat dan rasa cinta kepada Tanah Papua.

Awalnya  ingin mengumpulkan teman-teman yang memiliki minat yang sama dengan dirinya yaitu membaca. Ia kemudian menempelkan pengumuman di mading Fakultas Sastra Universitas Papua dan perpustakaan daerah. Hingga pada 20 April 2013 KSM lahir. Slogan ‘Sa Suka Membaca, Ko Bagaimana’ bertujuan meningkatkan minat baca masyarakat sekaligus berusaha mengangkat karya-karya sastra, baik cerpen maupun novel  yang dihasilkan  penulis dari Tanah Papua. “Saya ingin wadah kegiatan yang konsisten dan berkelanjutan,” tutur David.

Setiap bulan diadakan pertemuan yang diisi dengan sharing bacaan hingga meminjam dan mengembalikan buku yang diadakan di rumah  David. David memposisikan dirinya sebagai koordinator yang memfasilitasi kebutuhan anggota KSM dengan menyisihkan uang dari kantongnya. David mendorong anggota  aktif turun ke lapangan. “Sebenarnya ada gap  usia yang jauh antara saya dan mereka. Sebagian besar  anggota adalah perempuan, hanya lima laki-laki termasuk saya. Hal itu  mempengaruhi hubungan,” kata David yang meraih gelar magister Perencanaan Kota dan Daerah Universitas Gadjah Mada.

Merayakan Keberagaman

KSM beranggotakan  40 orang dengan 15 anggota aktif. David membentuk kepengurusan yang terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara. Selain iuran dan simpanan, ia berharap ada pemasukan lain. Karena anggota KSM gemar membaca maka produknya harus  buku. Dengan demikian di Papua ada  bahan bacaan, tidak hanya membaca buku dari luar. “Melalui buku ini kami merayakan keberagaman. Ada Jawa, Batak, dan lain-lain dengan kekhasannya,” ujar David.

Suatu hari KSM membuka stand di sebuah  bazaar. Mendatangi stand tersebut, Bupati Manokwari Bastian Salabai tersenyum. David menduga, Bupati Salabai  tidak menyangka ada karya anak-anak Manokwari. Sebab selama ini belum ada bahkan jarang  tulisan tentang Papua  yang ditulis oleh orang Papua. Seluruh buku selanjutnya dibeli oleh Direktur STT Erikson Tritt Manokwari tahun 2002-2009 itu. “Sebagai seorang doktor, Bupati Salabai excited akan bacaan ini,” tutur David.

Kelas menengah Indonesia dalam sorotan  David merupakan kelas menengah yang palsu. Sebab kelas menengah yang sesungguhnya memiliki ketertarikan  membaca. Mereka  mencari asupan untuk makanan batin. Jumlah penduduk Indonesia terbesar kelima di dunia  tapi penjualan buku paling rendah. Masyarakat cenderung membeli barang konsumsi seperti gadget, motor, atau mobil. “Buku ini didistribusikan secara swadaya. Kami tidak menjual barang, melainkan  ide,” tutur David.

Editor in Chief of Gagas Media serta penulis Life Traveler dan Studying Abroad, Windy Ariestanty menyampaikan kesan yang paling melekat setelah membaca buku ini adalah kekhasan berbahasa yang dipertahankan.  Keunggulan buku ini menurut Windy adalah mampu mempertahankan kenangan orang yang pernah atau belum pernah ke Papua. Akan terbayang percakapan mereka sehari-hari ketika duduk di para-para pinang. “Warna Mop Papua dalam tulisan ini kental sekali, seakan mereka di depan saya dan menceritakan kisah mereka,” ujar Windy.

Ketika bicara tentang lokalitas, menerbitkan buku untuk orang lokal adalah suatu terobosan. Tidak perlu bermimpi menerbitkan buku yang didistribusikan ke seluruh Indonesia. “Orang Papua butuhnya apa. Jangan paksakan selera nasional,” tutur Windy.

Dimuat di Majalah Lani edisi Februari 2015

Cerpen Aroma Papua

Container Kebab Cafe by Baba Rafi Kini Hadir di Jatinangor

image3
Acara pembukaan Container Kebab Cafe by Baba Rafi. (foto dokumentasi Baba Rafi)

Menangkap fakta Jatinangor yang tengah berbenah menjadi kota metropolitan baru, Container Kebab Cafe by Baba Rafi yang merupakan cafe kebab pertama yang mengusung konsep container kini hadir di Jatinangor.

Masih segar dalam ingatan saya, tahun 2009 silam saya mengunjungi adik yang menempuh pendidikan di Universitas Padjajaran. Karena berkuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi, kampus adik terletak di Jatinangor. Kala itu perkembangan Jatinangor belum sepesat saat ini. Kost berderet mengingat ada kampus lain seperti Institut Pemerintahan Dalam Negeri. Seiring pertumbuhan kota, perlahan sawah berubah menjadi perumahan dan apartemen. Tentu kondisi tersebut memicu berkembangnya sektor lain, salah satunya bisnis kuliner.

image4
Santunan kepada anak-anak dari Yayasan Yatim Piatu Riyahdul Jannah. (foto dokumentasi Baba Rafi)
image5
Interior Container Kebab Cafe by Baba Rafi. (foto dokumentasi Baba Rafi)

Berdasarkan pengalaman adik, saat kuliah ia lebih banyak membeli makanan di kantin kampus atau warung di sekitar kost. Bila ingin mencoba varian kuliner lain, mall menjadi pilihan. Perlu dicatat saat itu hanya ada satu mall di Jatinangor. Sementara kafe atau tempat makan masa kini yang diminati kaum muda belum banyak. Menangkap fakta Jatinangor yang tengah berbenah menjadi kota metropolitan baru dengan jumlah mahasiswa yang terus meningkat setiap tahunnya, PT Baba Rafi Indonesia yang merupakan induk dari Kebab Baba Rafi, Baba Rafi Online, Container Kebab by Baba Rafi, dan Waroeng Mee meluncurkan Container Kebab Cafe by Baba Rafi. Kehadirannya bertujuan menjawab permintaan customer yang ingin menghabiskan waktu lebih lama.

Nilam Sari yang merupakan salah satu pemilik PT Baba Rafi Indonesia menyampaikan, banyak customer yang ingin berbincang-bincang sambil menikmati makanan bersama teman, menggunakan fasilitas free wifi, menikmati live music, hingga berfoto selfie atau berfoto bersama.  Container Kebab Cafe by Baba Rafi merupakan pengembangan dari Container Kebab by Baba Rafi yang sudah biasa ditemui. Container Kebab Café by Baba Rafi merupakan café kebab pertama yang mengusung konsep container. Keunggulan lainnya adalah customer bisa membuat kebab sesuai selera mereka, ‘make your own kebab’.

Apa menu utama di Container Kebab Cafe by Baba Rafi? Black kebab dengan warna hitam pada tortila yang dihasilkan dari arang bambu yang memiliki pori-pori efektif untuk mengikat racun dan zat kimia sehingga detox free. Tak hanya itu ada menu baru, yakni Mini Murtabak yang berisi daging patty khas Baba Rafi dibalut tortila. Menu teranyarnya adalah Hotburger yang merupakan kombinasi hotdog dan burger dan Special Drinks, perpaduan minuman segar yang ditambahkan Yakult.

image6
Varian menu Container Kebab Cafe by Baba Rafi. (foto dokumentasi Baba Rafi)
image7
Black kebab dengan warna hitam pada tortila. (foto dokumentasi Baba Rafi)
image10
Kemasan yang praktis. (foto dokumentasi Baba Rafi)

Pembukaan Container Kebab Cafe by Baba Rafi yang beralamat di  Jalan Raya Jatinangor No. 146, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat tersebut diisi dengan  santunan kepada anak-anak dari Yayasan Yatim Piatu Riyahdul Jannah, pemotongan pita, pemotongan tumpeng, dan pelepasan balon. Acara yang berlangsung pada 31 Maret 2017 tersebut diramaikan pula oleh penampilan dari Komunitas Stand Up Comedy Jatinangor.

Container Kebab Cafe by Baba Rafi juga telah dibuka di Sidoarjo pada  8 April 2017. Akan disusul di daerah Depok dan Surabaya. Untuk memeriahkan pembukaan Container Kebab Cafe by Baba Rafi di Jatinangor, diadakan promo Buy 1 Get 1 Free (B1G1F) dengan cara membeli produk utama di Container Kebab Cafe by Baba Rafi lalu menukarkan flyer B1G1F kepada operator dengan free Kebab Unyu. Promo tersebut berlangsung hingga 30 April 2017.

PT Baba Rafi Indonesia membuka kesempatan kepada Anda yang tertarik berbisnis Container Kebab Cafe by Baba Rafi. Informasi selengkapnya dapat dibaca di www.babarafi.com, Facebook Fanpage Container Kebab by Baba Rafi, Twitter dan Instagram @ContainerKebab, Path Container Kebab Baba Rafi, serta hotline di 0812 1052 2358 (Jakarta) atau 0852 3362 1244 (Surabaya).

Kebab Baba Rafi didirikan pada 2003 di Surabaya oleh Hendy Setiono dan Nilam Sari. Tahun 2005 Kebab Baba Rafi menerapkan sistem waralaba hingga sekarang.Tak hanya di Indonesia, kini Kebab Baba Rafi telah memiliki lebih dari 1.200 outlet di Indonesia, Malaysia, Filipina, Tiongkok, Srilanka, Singapura, Brunei Darussalam, Belanda, dan Bangladesh.

Pada 2015 Kebab Baba Rafi membuat inovasi dengan menghadirkan Baba Rafi Online, http://www.babarafi-online.com yang menjual frozen kebab dan aneka frozen food. Di  tahun yang sama, Kebab Baba Rafi juga mendirikan sejenis tempat nongkrong yang dinamakan Waroeng Mee. Hingga saat ini Waroeng Mee sudah memiliki dua cabang di Jakarta dan satu cabang di Surabaya. Pada akhir 2015, Kebab Baba Rafi menciptakan Container Kebab by Baba Rafi yang sampai saat ini sudah memiliki lebih dari 10 outlet di Jakarta, Depok, Tangerang, Surabaya, Bali, dan Bangladesh.

Container Kebab Cafe by Baba Rafi Kini Hadir di Jatinangor

Aneka Atraksi Berkelas di Blibli.com Fun Festival

foto1
Disambut karya yang luar biasa.

Untuk pertama kalinya diselengarakan Blibli.com Fun Festival (BFF) yang bertema art, market, dan music. Festival tersebut diadakan pada 8-9 April 2017 di Ecopark Ancol.

Sejak awal berdiri Blibli.com sebagai ecommerce asli Indonesia fokus memperkuat potensi yang dimiliki Indonesia. Banyak talent lokal yang bisa dieksplor sehingga semakin banyak karya bagus Indonesia terekspos. Dengan demikian generasi masa kini bangga dengan karya tersebut. Mengapa Blibli.com menggabungkan art, market, dan music? Sebab tiga hal itu merupakan aspirasi dari target audience BFF. Lifestyle anak muda tidak jauh dari art, market, dan music. Mereka ingin selalu terlihat keren, up to date. Di BFF para artworker dan local creator tidak hanya memajang karya. Fans atau audience bisa melihat secara langsung mereka yang berekspresi melalui karya dan berinteraksi. Ada Diela Maharani melalui ilustrasi bertema perempuan dengan permainan warna yang luar biasa, The Jadugar yang dikenal dengan karya video klip musisi Indonesia, dan Graphic Designer Kemala Putri.

foto2
Kapan lagi bisa menikmati hiburan di alam terbuka.
foto3
Stand merchant yang bergabung di Blibli.com.
foto4
Aneka workshop.

Pengunjung BFF juga bisa berinteraksi dengan para founders yang tergabung dalam The Big Start Indonesia, seperti Peek.me Naturals dan Pijak Bumi. The Big Start Indonesia adalah program webseries Blibli.com yang memfasilitasi para founders tersebut dengan ilmu entrepreneurship dalam memasuki market ecommerce. Karena terkadang anak muda yang idealis itu belum siap memasuki pasar. Blibli.com boleh dikatakan cukup berani mengadakan event The Big Star Indonesia untuk pertama kalinya. Blibli.com berkomitmen melibatkan UKM terpilih yang memiliki potensi unik guna mendukung pemerintah memajukan UKM Indonesia. Komitmen yang telah diwujudkan Blibli.com adalah Galeri Indonesia dengan tujuan memajukan produk anak bangsa.

foto5
Permainan warna yang luar biasa.
foto8
Setiap pembelian produk artinya Anda mendukung program pengembangan untuk perempuan dengan HIV/AIDS.

Sinema labirin, salah satu hiburan di BFF menjadi pengalaman yang menarik untuk anak-anak yang selama ini cenderung menghabiskan akhir pekan di mall. Atraksi itu berkaitan dengan target audience BFF, yakni young professional with family umur 30-35 tahun dan millenial umur 15-30 tahun. Market Blibli.com itu energik, fun, dan curious. Di Jakarta tidak banyak tempat atau kegiatan yang bisa memberikan sesuatu yang baru kepada anak-anak. Sinema Labirin dipersembahkan untuk  keluarga yang ingin mengajak hangout anak-anaknya dengan tontonan yang berbeda. Tontonan itu disajikan dengan kreatif dan menarik. Untuk music BFF menawarkan jagoan-jagoan musik di Indonesia, seperti Kahitna, Naif, Danilla, Teza Sumendra, Dipha Barus, sampai Naura serta international band diantaranya Panama dan Goldroom.

foto9
Mural karya komikus Hari Prast feat Sheila.
foto10
Khas Indonesia.
foto11
Gerai makanan dan minuman.

BFF diharapkan menjadi ajang bertemunya  talent, customer, dan brand as a whole media. Wadah atau showroom pertemuan merchant dan konsumen, brand experience dan customer engagaments. Orang Indonesia biasanya belum 100% percaya dengan merchant saat hendak melakukan transaksi online. Di BFF pengunjung bisa bertatap muka dengan  merchant yang bergabung di Blibli.com. Selain itu Blibli.com membangun ekosistem, tidak hanya berjualan yang terlihat kaku, tidak selalu bicara mengenai sales. Blibli.com  ingin memanusiakan ecommerce.

 

Aneka Atraksi Berkelas di Blibli.com Fun Festival

Langkah Kecil Berarti Besar

foto2

Berpartisipasi dalam bazaar

“Don’t be intimidated by what you don’t know. That can be your greatest strength and ensure that you do things differently from everyone else.” -Sara Blakely-

Memasak. Kata itu jauh dari penggambaran diri saya. Dibandingkan adik, kemampuan memasak saya terbilang tak seberapa. Jika ia mampu menyajikan nasi goreng yang cocok di lidah kami sekeluarga, tidak dengan saya. Seingat saya kemampuan memasak hanya sebatas mengolah mie instan. Bukan prestasi yang patut dibanggakan bukan?

Namun semua penilaian  itu pudar setelah saya mengikuti sebuah seminar. Para pembicara memunculkan semangat untuk berwirausaha. Saya masih ingat dengan perkataan seorang pembicara,  jika ingin berwirausaha sebaiknya untuk sementara jangan meninggalkan pekerjaan utama. Lakukan perlahan. Ketika dirasa hasil dari berwirausaha secara materi lebih besar dari pekerjaan utama, itulah saat yang tepat untuk serius membangun bisnis.

foto1

Kue Kering Mete, salah satu varian yang ditawarkan Coconas Cookies

foto3

Aneka rasa yang menghadirkan pengalaman berbeda

Jiwa kewirausahaan harus terus ditumbuhkan. Saat ini jumlah wirausaha  1,65 persen dari 250 juta penduduk. Harapannya persentase tersebut bisa ditingkatkan menjadi 2%. Dilihat dari jumlah wirausaha, Indonesia  tertinggal bila  dibandingkan dengan Singapura sebesar 7%, Malaysia 5%, dan Thailand 4%.

Inspirasi yang diperoleh dari seminar tersebut  sempat mengendap dua tahun lamanya akibat kesibukan pekerjaan dan minat pada bidang lain. Hingga di tanggal bersejarah,  28 Juni 2012 lahirlah Coconas Cookies. Coconas merupakan penggabungan nama saya dengan Cocos Nucifera, nama latin kelapa. Harapannya usaha kue kering ini memberikan manfaat untuk banyak orang sebagaimana halnya kelapa yang berfaedah dari  akar, daun, batang, hingga buah.

Selama proses mengandung Coconas Cookies, begitu banyak pertimbangan dan pemikiran.  Dari tenaga kerja sampai pengaturan waktu. Namun saat pesanan kue itu datang, ketakutan yang selama ini menghantui ternyata bisa dihadapi. Nikmati saja prosesnya. Tetaplah tersenyum. Kesuksesan adalah hasil dari hal-hal terbaik yang kita lakukan setiap hari.

Saya teringat pesan salah satu pembicara terkait pelayanan kepada konsumen. Saya selalu mengantarkan pesanan kue kering kepada para pembeli. Melihat reaksi pertama mereka saat menerima kue kering yang saya buat sendiri dan menerima komentar setelah mereka merasakan kue tersebut memunculkan kesenangan tersendiri. Semua keletihan hilang digantikan dengan semangat untuk menghadirkan rasa yang mengundang selera di lidah para penikmat Coconas Cookies.

Kembali ke soal kemampuan memasak, saya percaya bahwa setiap orang dianugerahi kemampuan istimewa dalam dirinya masing-masing. Belum bisa saat ini bukan berarti tidak bisa selamanya. Tantanglah diri Anda! Sebagaimana yang dilakukan sepupu saya saat ia mencari harga gitar akustik demi mewujudkan impiannya dalam bermusik. Bertepatan dengan momen hari raya, saya melihat prospek usaha kue kering akan membuahkan hasil yang maksimal. Oleh karena itu berbekal resep yang saya peroleh dari internet, saya memberanikan diri untuk merealisasikan segudang ide.

foto5

Kolaborasi dengan crafter

Sudahkah Anda berdigital? Apa yang sudah Anda lakukan dalam berdigital baik secara pribadi maupun berbisnis. Seorang penulis menyampaikan informasi melalui  blog. Tujuannya  menjaring sebanyak mungkin pembaca. Seorang  pebisnis memanfaatkan  marketplace sebagai media pemasaran. Tanpa disadari, hampir setiap orang  sudah mulai berdigital, entah memuat artikel di blog atau sederhananya menuliskan status di sosial media. Selain itu setiap harinya kita sering membeli kebutuhan seperti makanan menggunakan aplikasi. Belakangan semakin banyak yang memposisikan diri sebagai digitalpreneur. Tidak harus punya uang untuk menjadi digitalpreneur. Siapapun bisa menjadi digitalpreneur sejauh sudah melakukan hal-hal dasar berdigital.

Semuanya serba otodidak. Jatuh bangun, sukses gagal bukan barang baru. Semuanya melekat untuk menjadikan diri saya sebagai wirausaha yang sebenarnya. Saya ingin mengikuti jejak sukses wirausaha lainnya, terutama wirausaha wanita. Keputusan terpenting  dalam sebuah keluarga tak lepas dari tangan wanita. Kemajuan suatu bangsa pun tak terpisahkan dari campur tangan wanita. Para wanita Indonesia, bergeraklah. Mulailah melangkah dari sekarang. Langkah-langkah kecil yang Anda buat akan berarti besar untuk masa depan negara tercinta kita Indonesia.

Langkah Kecil Berarti Besar

Food Garden, Sensasi Makan di Alam Terbuka

foto6
Area yang luas membuat anak bebas berlari kian kemari

Bersantap sambil menatap langit tak berbatas. Apakah aktivitas itu mungkin dilakukan di Jakarta?

Suatu hari pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam benak saya. Rasanya bosan waktu bersantap selalu dihabiskan di dalam ruangan. Hingga pada 18 Maret 2017 saya cukup terkejut dengan kehadiran Food Garden yang resmi dibuka. Food Garden berada di Jakarta Garden City, kawasan Sunrise Property seluas 370 hektar di dalam kota Jakarta. Dari luar Food Garden tampak seperti pusat jajan pada umumnya. Ketika melangkahkan kaki ke dalam terlihat sebuah lapangan mini dengan tanaman yang menyejukkan. Lapangan itu dilengkapi panggung serta kursi dan meja berpayung. Di kiri kanannya berjejer rapi 19 tenant yang menawarkan kuliner nusantara hingga internasional. Pengunjung bisa memilih bersantap di dalam kios, teras, atau lapangan mini.

foto27
Food Garden, sarana yang disediakan Jakarta Garden City
foto2
Sambutan dari General Manager Marketing&Sales Jakarta Garden City Hyronimus Yohanes
foto3
General Manager Marketing&Sales Jakarta Garden City Hyronimus Yohanes didampingi Awi dari Nasi Timbel Parahyangan dan Ira dari Kedai Tok Tong melakukan pelepasan balon sebagai tanda Food Garden resmi dibuka

Presiden Direktur PT Mitra Sindo Sukses selaku pengembang Jakarta Garden City Sami Miettinen menyampaikan, March Fiesta menjadi ajang memperkenalkan Food Garden kepada masyarakat mengenai alternatif wisata kuliner di timur Jakarta. General Manager Marketing&Sales Jakarta Garden City Hyronimus Yohanes berharap Food Garden nantinya bisa membuat warga Jakarta Garden City, karyawan yang bekerja di sekitar Jakarta Garden City, hingga warga luar bisa berkunjung ke Food Garden. Dengan demikian lokasi ini akan ramai. Pria yang akrab disapa Roni itu menyampaikan pesan kepada pemilik tenant untuk terus berinovasi. “Kios sepi bukan karena makanan tidak enak, mungkin ada kejenuhan dari customer terhadap menu yang ditawarkan,” kata Roni.

foto5
Kursi-kursi yang menanti untuk diduduki
foto12
Teras yang ada menjadi pilihan pengunjung untuk bersantai
foto9
Meja berpayung yang menghalau panas

Roni mencontohkan beberapa temannya yang bergerak di usaha kuliner, biasanya setiap tiga atau empat bulan mereka  menambah menu dengan melihat trend saat sekarang. Kita harus pintar-pintar dalam berbisnis sebab persaingan semakin ketat. Manajemen Jakarta Garden City akan tetap mendukung para pemilik tenant 100%. Setiap Jumat malam akan ada live music. Pemilik tenant diharapkan bekerja sama dengan pihak manajemen untuk menghidupkan Food Garden. Dengan demikian ke depan masing-masing pihak mendapatkan keuntungan. “Kami tidak mau kami hanya menyediakan tempat. Mari kita sama-sama bangkit, sama-sama sukses. Hari ini menjadi hari yang luar biasa bagi kami. Ini tempat baru, usaha baru. Besar harapannya semua yang bergabung bersama kami usahanya laris manis,” ujar Roni.

foto4
Penampilan Swan Ballet
foto18
Salah satu peserta storytelling competition kategori 3 Adella

Usai sambutan, acara selanjutnya adalah penampilan Swan Ballet dan storytelling competition. Storytelling competition dibagi menjadi tiga kategori, yakni kategori A untuk usia 4-5 tahun, kategori B (usia 6-7 tahun), dan kategori C (usia 8-9 tahun). Dalam acara bertajuk March Fiesta pada 18 dan 19 Maret 2017 ada promo spesial untuk para pengunjung,  yaitu dengan pembelanjaan Rp 50 ribu atau kelipatannya akan mendapatkan kesempatan mengikuti undian. Hadiah menarik menanti, antara lain sepeda, smartphone, hingga TV. Acara lainnya yang tidak kalah menarik, yaitu band performance, stand up comedy, hingga nobar Big Match Middlesbrough Vs Manchester United.

Konsep Alfresco  

Definisi Alfresco adalah in the open air, outside a building. Alfresco sendiri bukan hal baru di Indonesia. Ketika berjalan-jalan di Karawaci saya pernah melihat konsep ini. Kursi dan meja berpayung berbaris rapi di depan kafe atau restoran. Konsep alfresco ini juga diusung oleh Food Garden. Anak-anak bebas berlarian ke segala penjuru dengan pengawasan orangtua. Perokok tidak mengganggu pengunjung lainnya. Kaum lansia bisa menghirup udara segar tanpa perlu jauh-jauh ke luar kota. Mereka yang hobi fotografi bisa mendapatkan banyak objek.

foto1
Sejauh mata memandang yang terlihat adalah area berumput
foto8
Tanaman yang menyejukkan
foto17
Kursi batu berwarna-warni
foto10
Bergerak tanpa sekat

Food Garden dibangun di atas lahan seluas 1,7 hektar. Saat menjelajahi Food Garden saya mengamati interior dengan langit-langit yang sengaja dibuat tinggi. Kaca yang mendominasi memungkinkan pemandangan di luar bisa terlihat hingga ke dalam. Pemasangan konblok membuat penyerapan air menjadi lebih cepat. Dengan demikian tidak ada genangan air saat hujan deras. Masing-masing tenant menyuguhkan menu unggulannya, sebagai berikut Ayam Bebek Kremes dan Soto Kudus, Ayam Goreng Karawaci, Soto Susu JG, Cwie Mie Malang, hingga Brandt’s Atelier.

foto7
Brandt’s Atelier
foto11
Gerobak Tahu Tek-Tek
foto13
Kedai Tok Tong
foto14
Sofa empuk
foto15
Bersantap sambil dibuai angin sepoi-sepoi
foto16
Latar belakang panorama

Perburuan saya mendapatkan kuliner seru di Food Garden, Jakarta Garden City berakhir di Kedai Baksoku. Bakso campur dan es cincau hijau menjadi pilihan memuaskan rasa lapar siang itu. Gurihnya bawang putih goreng pada kuah berpadu dengan lembutnya bakso. Es cincau hijau semakin menyegarkan dahaga yang tertahan beberapa lama. Harga yang ditawarkan menurut saya cukup terjangkau, total santapan Rp 32 ribu. Belum puas juga, saya mencicipi bakmie kepiting ditemani segelas es susu kacang di Bakso Ikan Nyah Rita. Pemilik kios tinggal di Cluster Lantana Jakarta Garden City. Bakmie khas Pontianak ini memiliki tekstur yang lembut dan tipis sehingga memudahkan saat dikunyah. Berbeda dengan menu sebelumnya, kini saya mencicipi bakso dengan bahan ikan ekor kuning. Terasa kenyal. Pemilik kios menyampaikan karena dibuat tanpa tambahan pengawet dan tepung, bakso ikan ini tidak bisa disimpan dalam waktu lama. Alhasil harus dihidangkan dalam keadaan segar. Penggemar seafood atau kaum vegetarian harus memasukkan Bakso Ikan Nyah Rita ini sebagai santapan wajib kalian di Food Garden.

foto19
Es Cincau Hijau
foto20
Bakso Campur
foto21
Es susu kacang
foto22
Bakmie kepiting

Akses yang Mudah

Jakarta Garden City dikembangkan oleh PT Modernland Realty Tbk,  kawasan one stop living dengan fasilitas lengkap seperti Sekolah Global Mandiri yang berbasis national plus. Kawasan ini terus berkembang dan  membangun, salah satunya dengan kehadiran Aeon Mall pada September mendatang. Jakarta Garden City mengadopsi konsep green living dengan ruang terbuka hijau yang luas melalui pembagian kawasan menjadi 70 hektar untuk komersial dan 300 hektar untuk residensial.

foto23
Hijau yang menyegarkan
foto24
Luas dan lapang
foto25
Panggung hiburan

Menariknya Jakarta Garden City ini mudah diakses dari Jakarta maupun Bekasi baik oleh Anda yang menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi publik. Bahkan waktu tempuh dari Kelapa Gading hanya 20 menit. Saya sendiri memilih menggunakan Transjakarta untuk mencapai Jakarta Garden City. Cukup mudah dan menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam. Terlebih akan beroperasi jalan tol yang menghubungkan Tanjung Priok-Ancol-Bandara melewati Jakarta Garden City pada Maret ini. Tunggu apalagi? Nikmati momen spesial bersama keluarga dan orang-orang tersayang di Food Garden.

foto26
Berpose mengabadikan momen

Facebook Page: Jakarta Garden City

Twitter: @JKT_GardenCity

Instagram: @jakartagardencity

Food Garden, Sensasi Makan di Alam Terbuka